Budayawan Jaya Suprana (kedua dari kanan) pada simposium nasional kebudayaan di Residence Tower, Komplek Sultan Hotel, Jakarta, Kamis (7/9). foto: MySharing.

Jaya Suprana : Puncak Tertinggi Peradaban itu Kemanusiaan

[sc name="adsensepostbottom"]

Masalah utama peradaban adalah kekerasan manusia terhadap manusia.

Budayawan Jaya Suprana mengatakan, tidak perlu diragukan lagi bahwa lembaga-lembaga umat beragama memiliki peran sangat penting dalam pembangunan karakter bangsa. Menurutnya, agama jelas penting sebagai pedoman pembentukan karakter bangsa dan insani. Agama juga  potensial untuk membentuk budi pekerti setiap insan manusia secara positif.

“Namun masalah utama peradaban adalah kekerasan manusia terhadap sesama manusia,” ujar Jaya dalam simposiun nasional kebudayaan bertajuk “ Pembangunan Karakter Bangsa untuk Melestarikan dan Mensejahterakan NKRI Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945” di Residence Tower, Komplek Sultan Hotel, Jakarta, Kamis (7/9).

Jaya pun menyayangkan agama juga potensial membentuk budi pekerti setiap insan manusia secara negatif, seperti telah dibuktikan oleh sejarah peradaban umat manusia sejak dahulu kala. Semisal, kata Jaya, agama telah membentuk karakter kaum Sicaii di Judea abad I yang melawan penjajah Romawi dengan kekerasan sampai pertumpahan darah, bahkan bunuh diri massal. Kaum hash-shashin di Suriah dan Iran abad XI yang ganas membantai musuh-musuh politik, kaum teroris di Irlandia mengatasnamakan agama sebagai dalih kekerasan yang mereka lakukan.

Dan sampai masa kini tampil terorisme atas agama seperti yang dilakukan ISIS di Irak, Kurdista, dan Suriah yang merambah ke Filipina, dan terakhir tragedi Rohingya. Maka, upaya peningkatan lembaga-lembaga umat beragama dalam membangun karakter bangsa harus dikendalikan dalam bersatu padu kedalam satu keyakinan yaitu tidak membenarkan kekerasan.

“Pembenaran kekerasan oleh lembaga umat beragama tidak perlu diperdebatkan lagi pasti dijamin lebih membawa dampak negatif ketimbang positif, distruktif ketimbang konstruktif,”  kata Jaya.

Jaya berpendapat bahwa pendidikan, pengajaran, dan pembinaan di lembaga umat beragama yang beraneka ragam di nusantara ini hukukmnya wajib untuk bersatupadu dalam kesepakatan tanpa kompromi tidak membenarkan kekerasan.

Dikatakan Jaya, sebagai contoh kegagalan umat beragama dalam membentuk karakter bangsa adalah tragedi yang menimpa kaum Muslim Rohingya, di kawasan Rekhine, Myanmar. “Bahkan, seorang penerima anugerah Nobel, Aung San Suu Kyi, seolah tutup mata terhadap kekerasan yang dilakukan terhadap minoritas umat Muslim Rohingya,” ungkap Jaya.

Menurutnya, masalah Rohingya dengan skala dan dimensi sangat komplek sulit diselesaikan melalui jalur politik, sosial, ekonomi apalagi agama. Satu-satunya jalur yang mampu mengurai benang ruwet di Rakhine, Myanmar yang dampaknya sudah merambah ke Negara tetangga Myanmar, termasuk Indonesia.

Jaya menegaskan bahwa  jalur puncak tertinggi peradaban yaitu kemanusiaan, maka  lembaga-lembaga umat beragama di Indonesia bertanggung jawab penuh atas pembentukan karakter bangsa, bukan untuk menjadi bangsa yang biadab melakukan kekerasan. “Namun, bangsa yang beradab menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab sesuai Pancasila,” pungkas Jaya.