Pada praktiknya, warga Thionghoa begitu masuk Islam melebur bisa diterima pribumi.
Bambang Wiwoho penyunting buku “Rumah Bagi Muslim Indonesia dan Keturunan Tionghoa,” menyebutkan, hadirnya Muslim Tionghoa merupakan titik pembauran masyarakat pribumi dengan Tionghoa. Belakangan pembauran juga terjadi dengan cara asimilasi. Namun menurutnya pembauran yang paling bagus adalah melalui agama.
[bctt tweet=”hadirnya Muslim Tionghoa merupakan titik pembauran ” username=”my_sharing”]
“Dalam praktiknya warga negara keturunan asing termasuk Tionghoa begitu masuk Islam dia melebur. Betul-betul lebur bisa diterima pribumi,” ungkap Bambang pada acara bedah buku “Rumah Bagi Muslim, Indonesia, dan Keturunan Thionghoa”, yang digelar Yayasan Karim Oei dan Dompet Dhuafa di Philanthropy Building, Jakarta, Rabu (26/10).
Oleh karena, Bambang selaku penulis buku dan dari lembaga Yayasan Karim Oei mengaka dulu dirinya melakukan pembauran itu dengan mengadakan shalat jumat bersama etnis Tionghoa muslim di sebuah ruko yang disewa di Jakarta Barat.
Bambang berharap dengan terbitnya buku ini, Yayasan Karim Oei selaku penggerak dapat menjadi rumah yang 3 in 1, yakni untuk muslim, Indonesia dan Keturunan Tionghoa. Selain agama, menurut dia, pembauran juga akan berjalan mulus jika pribuminya kuat dari sisi ekonomi sehingga tidak menimbulkan kecemburuan dan kesenjangan.
“Buku ini juga selaras dengan kondisi bangsa, supaya sadar bahwa kita sedang menghadapi sesuatu yang kritis. Masalahnya bagaimana kita menghadapi masalah ini dengan sebaik-baiknya itu lah yang coba kami rumuskan dalam buku ini,” tegas Bambang.

