Presiden Joko Widodo

Jokowi Bertemu Ulama Bahas Makna Kafir

[sc name="adsensepostbottom"]

Terhadap orang kafir yang hidup rukun,  umat Islam wajib memberikan perlindungan baik terhadap jiwanya dan kehormatannya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengundang sejumlah ulama ke Istana Negara, Jakarta, Selasa (4/4) siang.

Pertemuan Jokowi dengan para ulama itu membahas upaya menciptakan toleransi dan sikap saling menghormati antarumat beragama. Kepada Jokowi, Kyai Haji Syukron Makmun, salah satu ulama yang hadir menjelaskan makna kafir dalam Islam.

Menurut Syukron, terdapat dua macam orang kafir dalam Islam. Yaitu, orang kafir yang memerangi dan memusuhi umat Islam dan orang kafir yang hidup rukun dengan damai bersama umat Islam.

Terhadap orang kafir yang hidup rukun dengan damai, tegas Syukron, maka umat Islam wajib memberikan perlindungan baik terhadap jiwanya dan kehormatannya. Hal inilah yang disebut sebagai bentuk toleransi dalam Islam.

“Ada orang kafir yang disebut kafir harbi, yaitu orang kafir yang memerangi kita, membunuh kita menyakiti kita. Itu lain lagi persoalnnya. Kita jawab yang seimbang dengan dia. Tapi ada orang kafir yang disebut kafit dhimmi, yakni orang kafir hidup rukun damai dengan orang Islam,” ungkap Syukron. .

Selain membahas toleransi antarumat beragama, para ulama juga menyampaikan masalah keadilan sosial. Ketimpangan yang terjadi di dalam masyarakat dinilainya harus segera diatasi. Sehingga kekayaan tanah air dapat dinikmati seluruh masyarakat Indonesia, bukan hanya segelintir orang saja.

.Selain itu, dibahas juga terkait tanah wakaf. Syukur mengatakan, para ulama berharap, tanah wakaf dapat bebas dari pajak. ”Mengenai tanah wakaf, mudah-mudahan setelah ini bebas pajak,” ujarnya.

Jokowi pun menerima saran-saran dari para ulama tersebut. Dalam pertemuan itu, Jokowi didampingi oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan  Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keagamam Wiranto.