Bank Indonesia (BI) mencatat peningkatan peredaran uang selama musim lebaran sebanyak 14 persen.
Selama bulan Ramadhan, kebutuhan uang akan meningkat. Hal ini sering dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab untuk mengedarkan uang palsu.
Bank Indonesia (BI) akan terus mewaspadai peredaran uang palsu selama Ramadhan dan lebaran tahun 2017 ini. BI mengantisipasi peredaran uang palsu dengan berkoordinasi dengan kantor Bank Indonesia cabang di seluruh Indonesia.
“Peredaran uang palsu memang harus kita waspadai, apalagi menjelang lebaran. Kami harus antisipasi jangan sampai ada uang palsu yang menyebar,” ujar Gubernur BI Agus DW Martowardojo, di Jakarta, Selasa (30/5).
Selain berkoordinasi dengan kantor cabang di daerah, Agus mengatakan, bahwa BI akan menggandeng Polri untuk mengawasi peredaran uang palsu.
Rencananya, tanggal 5 Juni nanti, BI dan Polri akan melakukan video conference kepada seluruh cabang BI untuk mempersiapkan diri jangan sampai ada uang palsu yang beredar. Agus memastikan BI dan kepolisian siap untuk mewaspadai peredaran uang palsu.
Agus menuturkan, bank sentral mencatat terjadinya peningkatan persediaan uang lebaran sebanyak 14 persen. Kebutuhan uang tunai yang beredar selama bulan puasa sampai dengan lebaran mencapai puncak tertingginya, pada angka Rp 691 triliun.
Deputi Gubernur BI Sugeng menambahkan, kebutuhan uang rupiah selama lebaran mencapai Rp 671 triliun. BI berkomitmen untuk menyiapkan cadangan uang yang beredar selama lebaran mencapai Rp 83 triliun untuk mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan ke depan.
“BI juga sudah ada program kas titipan, biar cepat menyebar ke seluruh daerah. Jangan sampai uang kita nggak beredar di sana,” pungkas Sugeng.

