keripik tempe sukomanunggal

Kampung Keripik Tempe: Siap Saingi Malang

[sc name="adsensepostbottom"]

Kampung keripik tempe sukomanunggal siap menyaingi kampung tempe Sanaan di Malang yang sudah lebih dahulu tenar. Para pengrajin mengklaim keripik tempe sukomanunggal lebih renyah dan tipis.

keripik tempe sukomanunggalIngin mencari oleh-oleh keripik tempe? Tak perlu harus ke Malang. Meski kota Apel ini sudah identik dengan buah tangan yang khas itu, Surabaya bisa menjadi alternatif pilihan. Melalui kampung unggulan keripik tempe yang ada di kawasan Sukomanunggal, bukan tidak mungkin suatu hari nanti kota Pahlawan siap bersaing untuk oleh-oleh yang satu itu.

Awalnya, kawasan yang terletak di Surabaya Barat itu merupakan sentra perajin tempe. Kampung Tempe Sukomanunggal adalah sebutan yang diberikan kepada kampung yang berada di RT. 02/03, Kelurahan Sukomanunggal, Kecamatan Sukomanunggal, Kota Surabaya.

Kampung ini terletak di daerah industri berat dan permukiman padat penduduk di perbatasan Surabaya dan Gresik. Kampung ini sudah ada sejak 1970 dan merupakan kampung pembuatan tempe murni tertua dan asli di Kota Surabaya. Saat ini pengrajin tempe kampung tempe Sukomanunggal telah memasuki generasi ketiga.

Lantas, mengapa tidak dijadikan Kampung Tempe? Karena predikat itu sudah lebih dulu diberikan kepada kampung Tenggilis yang juga memproduksi tempe. “Karena itu kami diarahkan untuk mengolah produksi kami menjadi keripik tempe,” kata Munali, Ketua Perkumpulan Kampung Keripik Tempe.

Untungnya, kata Munali, untuk beralih menjadi sentra keripik tempe, tidak membutuhkan waktu lama. Setelah belajar bagaimana mengolah tempe menjadi keripik tempe selama tiga hari, mereka pun siap wilayah kampung mereka menjadi salah satu kampung unggulan bersama 9 kampung lainnya yang diadakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surabaya dengan pengembangan Usaha Mikro Kecil (UMK) berbasis komoditi Keripik Tempe, tepatnya semenjak dua tahun lalu.

“Kami sempat magang ke Sanan (sentra keripik tempe di kota Malang, red). Di tempat itu, ada sekitar 300 orang penghasil keripik tempe,” ungkapnya.

Di Sanan, mereka belajar bagaimana teknik mengiris tempe, menggoreng sampai komposisi bumbunya. Yang menarik, produk keripik tempe made in Surabaya punya rasa beda. “Banyak yang berkomentar rasa keripik tempe kami berbeda dengan keripik tempe asal Malang,” paparnya.

Lebih enak dan lebih unggul? “Kalau itu biar konsumen yang menilai. Karena namanya makanan menyangkut soal selera. Ada yang bilang produk kami enak, tapi ada juga yang memuji produk asal Malang. Yang pasti kami punya pasar dan penggemar masing-masing,” katanya.

Sekadar gambaran, keripik tempe made in Sukomanunggal punya beberapa perbedaan dibanding keripik Malang.

“Irisan tempe kami lebih tipis, sehingga tekstur tempenya terlihat. Selain itu, kami menggunakan cabe segar atau bumbu alami bukan bumbu bubuk,” jelasnya.

Hanya Enam Orang
Saat ini yang aktif dalam Perkumpulan Kampung Keripik Tempe hanya enam orang. Padahal, di awal-awal berdirinya ada sekitar 30 orang yang tergabung di sini. Namun komitmen mereka untuk terus mengembangkan kampung keripik tempe tidak bisa berlanjut. Satu demi satu mereka ‘rontok’ di tengah jalan, sehingga yang masih aktif sampai saat ini tinggal enam orang.

Itupun tidak semuanya memproduksi keripik tempe secara rutin. Sebagian besar memilih berproduksi kalau ada pesanan. Kalaupun Munali saat ini bisa bertahan untuk terus berproduksi itu tak lepas dari alasan yang melatarbelakangi.

“Saya yang mengawali agar kampung ini bisa menjadi salah satu kampung unggulan. Mengingat daerah ini memang sudah sejak lama menjadi sentra perajin tempe, maka usulan untuk
menjadikan kampung ini sebagai Kampung Keripik Tempe dikabulkan oleh Dinas Perindustrian Perdagangan. Jadi, saya sebetulnya lebih pada punya beban moril terhadap kelangsungan program ini, “ papar bapak empat anak ini.

Kini, meski anggota perkumpulan hanya enam orang, pihaknya terus berusaha untuk tetap eksis. Dia mengharapkan kesuksesan dari usahanya nanti bisa menjadi penyemangat bagi yang lain untuk terus mengembangkan usahanya.

Apalagi, kata Munali, banyak manfaat yang bisa dirasakan setelah mereka ikut program pendampingan Disperdagin. Paling tidak, produk keripik tempenya yang bermerek “Indah Rasa” sudah punya hak paten. Semua proses tahapan yang harus dilalui oleh UKM (Usaha Kecil Menengah) seperti dirinya, seperti mengurus hak paten, sertifikasi halal, izin usaha, dan Perizinan tentang Sertifikasi Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) sudah dia kantongi tanpa dipungut biaya.

“Semua itu merupakan fasilitas yang diberikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Surabaya,” kata laki-laki asli Surabaya ini.

Kendala
Tak berbeda jauh dengan Kampung Bordir dan Kampung handicraft, para perajin keripik tempe juga mengalami hambatan untuk mengembangkan usaha mereka. Meski Disperdagin Surabaya sudah memberikan berbagai fasilitas mulai dari kemudahan perizinan, bantuan mesin potong, pelatihan/pembinaan hingga memberi kesempatan untuk pameran di berbagai tempat, namun keterbatasan modal membuat usaha mereka untuk berkembang berjalan lamban.

Padahal, dalam soal rasa dan kualitas, produk mereka sudah mendapat pengakuan dan tak kalah dengan produk keripik tempe Malang. Buktinya, seiring berjalannya waktu pasar mereka semakin luas. Keripik Tempe “Indah Rasa” misalnya, sejak satu bulan ini mulai menunjukkan peningkatan omzet.

“Sebelumnya, kami rata-rata hanya mampu menjual 5 kg per hari. Namun sudah satu bulan ini, omzet kami terdongkrak hingga mampu menjual 16 kg sehari,” ungkapnya. Tapi begitulah, mereka harus sabar memutar uang mereka untuk membuat produk mereka lebih berkembang lagi.

Pemasaran Keripik Tempe “Indah Rasa” sendiri sebetulnya sudah meluas. Setidaknya saat ini produk tersebut sudah ada di Restoran Bu Rudi, Prima Buah dan pusat perbelanjaan Bonnet yang terletak di kawasan elite. Untuk kerjasamanya memakai sistem konsinyasi.

“Selama menunggu produk saya laku di tempat-tempat itu, otomatis saya harus siap dengan dana cadangan agar tetap bisa memproduksi lagi. Karena itu, paling tidak perajin keripik tempe seperti kami setidaknya butuh kucuran modal Rp 10 juta an per orang,” paparnya.

Mengapa tidak Membuat Koperasi?
Sebetulnya, di awal-awal pembentukan berdirinya kampung unggulan di Sukomanunggal mereka sudah membentuk koperasi. Tetapi karena anggotanya tidak aktif bahkan rontok satu demi satu, maka koperasinya sendiri ikut tersendat.

Potensi pengembangan UKM Keripik Tempe ini pernah mendapat perhatian dari mahasiswa ITS. Lewat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Bidang Pengabdian Masyarakat, Mahasiswa Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota.

Para mahasiswa ini melakukan berbagai kegiatan untuk mem-branding kampung Sukomanungggal. Tujuannya adalah memperkenalkan, mempromosikan, dan mencitrakan Kampung Sukomanunggal sebagai Kampung Sentra Industri Keripik Tempe Khas Kota Surabaya.

Berbagai kegiatan seperti jasa pendampingan teknik pengemasan produk dan pemasaran telah dilakukan. Kemasan produk keripik tempe pun jadi lebih menarik dan eyecatching. Sedangkan pemasaran pun sekarang berkembang, keripik tempe dipasarkan dengan model kemitraan dengan supermaket, restauran, dan toko-toko. Selain itu juga, pemasaran juga memanfaatkan media internet seperti web dan jejaring sosial (facebook, twitter, blog). Hasilnya pun mendapat respon yang positif dari masyarakat.

Bila usaha ini terus berkembang, bukan tidak mungkin Kampung Unggulan Sukomanunggul akan menjadi destinasi para wisatawan domestik khususnya yang ingin belanja oleh-oleh keripik tempe. Semoga!