Kampung unggulan Surabaya salah satu ini memerlukan lebih dari sekadar bantuan mesin untuk mendongkrak daya saingnya. Inilah profil Kampung Paving di Surabaya.

Menjadi salah satu binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagin) pada 2010, kampung yang sempat “mati suri” kini menggeliat lagi. Terletak di daerah Kelurahan Pakal, Kecamatan Pakal, Kota Surabaya kampung ini identik sebagai penghasil bahan bangunan, paving block. Namun, bantuan mesin dari Dinas Pedagangan dan Perindustrian, Kota Surabaya dianggap berkemampuan terbatas dalam hal kualitas maupun kuantitas. Alhasil, sebagian pengrajin di salah satu kampung unggulan surabaya ini kurang bergairah.
Sekadar gambaran sebelum tersentuh oleh Disperdagin, kampung penghasil paving di kelurahan ujung Barat Surabaya itu sesungguhnya sudah terkenal sekitar 1980-an. Memang, awalnya usaha mereka tidak langsung bergerak di bidang pembuatan paving dan batako, melainkan lebih dulu hidup dari pengrajin ubin.
Namun, semenjak keramik murah mulai memasuki pasaran Surabaya, ubin tradisional buatan warga Kelurahan Pakal semakin kehilangan peminat. Kebanyakan warga sekitar maupun warga Surabaya beralih ke keramik. Selain modelnya terbilang bagus, motif keramik juga lebih variatif, dan harganya pun murah.
Namun, di era 90-an, paving mulai popular dipakai untuk pembuatan jalan. Para pengrajin ubin ramai-ramai menoleh ke bisnis ini. Para pengrajin di sana mulai panen menerima pesanan. Namun sayang, masa kejayaan mereka tak berlangsung lama. Lagi-lagi pekerjaan mereka sebagai pengrajin paving kembali diuji. Ini karena mesin paving mulai masuk ke Surabaya.
Mesin tersebut bukan hanya mampu memproduksi paving lebih banyak, tapi juga menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik. Apa boleh buat? Sekitar 35 pengrajin yang bekerja secara tradisional kembali terpuruk, tak siap menghadapi persaingan dan kecanggihan teknologi mesin paving.
Tak ingin kampung paving tinggal sejarah, Pemkot Surabaya melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) datang mengulurkan bantuan. Tahun 2008, Disperindag mulai menginventarisir pengrajin paving yang masih aktif. Kemudian mereka diajak untuk menghidupkan kembali usaha mereka. Awalnya, Disperdagin mengalami berbagai kendala, sebab para pengrajin seolah sudah tidak memiliki semangat lagi untuk menghidupkan lagi usahanya.
Namun usaha Disperdagin yang terus membangkitkan optimitisme para pengrajin akhirnya membuahkan hasil. Meskipun tidak banyak pengrajin yang mau bangkit dan bersedia menjadi binaan Pemkot Surabaya, paling tidak sebagian dari mereka memiliki semangat untuk bangkit dan ingin mengembalikan era keemasan paving di Kelurahan Pakal.
Apalagi Disperdagin tak sekadar memberikan motivasi, tetapi sekaligus mendatangkan bantuan mesin pembuat paving. Dibanding kampung unggulan lain, bantuan mesin untuk pengrajin paving ini nilainya sungguh besar.
“Kami dapat bantuan dua unit mesin dengan nilai sekitar Rp 50 juta per unit,” kata Abdul Munip, wakil Ketua Perkumpulan Kampung Paving Pakal Surabaya.
Tak Dilengkapi Hidrolik
Sayang, bantuan mesin yang diharapkan dapat mendorong produksi paving di wilayah kampung unggulan itu tak disambut dengan antusias oleh para pengrajin.
Mengapa? “Sebab mesin itu tak dilengkapi dengan hidrolik. Sehingga produksinya tak seperti yang diharapkan. Kecepatan maupun kualitas produk menjadi terbatas,” kata Munip menerangkan. Akibatnya, secara kualitas produk paving dari kampung ini sulit bersaing di pasaran.
Rata-rata kendala yang dialami para pengrajin paving di Kelurahan Pakal menyangkut modal usaha. Sebab, untuk menghasilkan paving yang berkualitas bagus pengeringannya butuh waktu lama. Mereka masih berharap ada perhatian dari Pemerintah supaya bisa mendapatkan bantuan modal usaha.
“Kami sebetulnya sudah mengusulkan ke instansi terkait agar kami mendapat bantuan untuk melengkapi mesin itu dengan hidrolik. Yah, paling tidak butuh kucuran dana Rp 10 juta lagi lah agar mesin bisa dilengkapi hidrolik. Namun keluhan dan saran kami hingga kini tidak mendapat respon. Itu sebabnya, para pengrajin mutung (putus asa: red),” kata Munip.
Dampaknya, para pengrajin yang aktif memproduksi paving hingga kini jumlahnya tinggal tujuh orang, dari sebelumnya 37 pengrajin. Selebihnya, mereka memilih menyeberang menekuni pekerjaan ini.
Kondisi tersebut jelas menjadi beban moril bagi para pengrajin yang ada di wilayah ini. Hal ini mengingat kampung mereka sudah telanjur dikenal sebagai kampung paving.
“Terus terang kami juga beban wilayah kami mendapat predikat kampung paving, sementara kami sudah tidak memproduksi lagi,” ungkap Munip.
Tragisnya lagi, masih banyak lembaga terkait yang datang berkunjung untuk melihat produksi paving di kampung ini. Mau tidak mau mereka kecewa ketika mendapati geliat pengrajin paving itu sudah tidak tampak lagi.
“Padahal, kalau mendapat bantuan untuk melengkapi mesin itu dengan hidrolik, kami sudah bisa berproduksi lagi,” tandasnya.
Munip memaparkan, mesin dengan kualitas bagus harganya sekitar Rp 250 juta per unit. Dengan mesin ini, paving yang dihasilkan bisa mencapai 200 m2 per hari. Kecepatan mesin ini, kata Munip, bisa menutup kebutuhan ‘pasar’ di Surabaya.
Seperti apa kebutuhan paving di Ibukota Jawa Timur ini? Munip mengatakan saat masih aktif menjadi kampung paving, rata-rata minimal kampungnya bisa memenuhi permintaan pasar yang mencapai 150 m2 per hari.
Potensi bisnis paving di kota Pahlawan, kata bapak dua anak ini, memang cukup cerah. Itu sebabnya, pria kelahiran 17 Juni 1959 ini sangat mengharapkan Disperdagin segera mengucurkan bantuan bagi pengrajin untuk bisa membeli hidrolik.
Banting setir Batako
Saat ini, selama belum dilengkapi dengan hidrolik, mesin paving itu dimanfaatkan untuk membuat batako. “Namun demikian kalau ada order paving tidak kami tolak. Kami tetap memenuhi permintaan pasar meski produksinya bukan dari tempat kami sendiri. Biasanya, paving itu kami ambil dari daerah Lakarsantri,” jelas pria asli Surabaya ini.
Munip menilai bisnis paving saat ini masih cukup cerah. Itu sebabnya, pihaknya mengharapkan kampung ini segera mendapat bantuan modal untuk menggerakkan roda produksi paving lagi.
“Dulu kami sempat mendapat kunjungan dari dosen Universitas Airlangga. Dosen itu sempat menjanjikan akan memberikan bantuan modal untuk para pengrajin di sini. Namun setelah itu dia tidak pernah datang lagi,” keluhnya.
Jika kampung unggulan lain masih bisa mengandalkan keberadaan koperasi sebagai salah satu sumber modal, namun tidak demikian halnya dengan kampung paving. Sebab, kampung unggulan yang satu ini selama menjadi binaan Disperdagin belum sempat membentuk koperasi.
“Dulu sempat ada gagasan untuk membentuk koperasi. Tapi banyak yang tidak setuju. Akhirnya rencana itu tidak berjalan,” imbuhnya.
Kini, di tengah persoalan keterbatasan mesin paving dan modal usaha yang dihadapi para pengrajinnya, kampung paving di kawasan Pakal Surabaya terancam tinggal cerita.

