Ki-ka : Ketua KPIA Asrorun Ni’am Sholeh, Staf Khusus Kementerian Sosial M. Mas'ud Said, modderator, dan Dosen Kajian Islam dan Psikologi PSKTTI UI, Thobib Al Asyhar, pada seminar bertajuk "Pendidikan Karakter untuk Kemajuan Bangsa," di aula gedung IASTH UI, Salemba, Jakarta, Senin (29/8). foto:MySharing.

Keluarga Muslim Harus Menginternalisasikan Asmaul Husna

[sc name="adsensepostbottom"]

Karakter yang baik harus terus dibina melalui pendidikan sejak dini dengan mentauladani Rasullullah Shallahu Alaihi Wassalam.

Dosen Kajian Islam dan Psikologis PSKTTI UI, Thobib Al Asyhar menuturkan, bahwa  pendidikan pada dasarnya bukan sekedar alih budaya atau alih pengetahuan dan teknologi, tetapi sekaligus sebagai alih tata nilai.

Karena sejalan dengan perubahan zaman dan dinamika pembangunan, maka secara alamiyah telah terjadi pergeseran nilai sebagai akibat derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi global. “Banyak peneliti mengungkapkan perubahan nilai, terutama rendahnya penguasaan akhlakul karimah pada anak,” ucap Thobib pada seminar bertajuk “Pendidikan Karakter untuk Kemajuan Bangsa,” di aula gedung IASTH UI, Jakarta, Senin (29/8).

Thobib menghimbau agar semua elemen masyarakat harus melakukan gerakan untuk mengembalikan konsep dasar hidup yaitu kemandirian, dan berkarakter yang menjunjung tinggi akhlakul karimah.

Oleh karena itu, lanjut dia,  potensi    karakter yang baik harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini. Pasalnya, keluarga sebagai bagian unit terkecil di masyarakat memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak.

Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak oleh keluarga. “Dalam keluarga Muslim, orang tua dapat menginternalisasikan anak-anaknya mengenai Asmaul Husna dan juga nilai-nilai suri tauladan Rasulullah Shallallu Alaihi Wasallam,”  ujar Thobib.