Foto: The Sun

Kenalkan Nadiya Hussain, Muslimah Pemenang Kompetisi Kue Terbesar di Inggris

[sc name="adsensepostbottom"]

Mengalahkan dua pesaingnya di final, Nadiya Hussain keluar sebagai pemenang pertama Great British Bake Off.

Foto: BBC
Foto: BBC

Great British Bake Off merupakan kompetisi kue ternama di Inggris dengan jumlah penonton mencapai 12 juta orang. Episode final kompetisi yang ditayangkan pekan ini akhirnya menampilkan Nadiya Hussain sebagai pemenang kompetisi tersebut, mengalahkan dua kompetitornya, Tamal Ray dan Ian Cumming.

Great British Bake Off musim kali ini memang agak berbeda dari sebelumnya, ketika seorang muslimah berhijab keluar menjadi juaranya. Nadiya sendiri pun tak menyangka dorongan dari suaminya untuk mengikuti kompetisi itu berakhir dengan dirinya sebagai yang terbaik.

Usai mendapatkan trofi, Nadiya memberikan pidato yang inspiratif. “Saya tidak akan pernah membatasi diri saya sendiri lagi. Saya tidak akan mengatakan saya tidak bisa melakukannya. Saya tidak akan mengatakan ‘mungkin’. Saya tidak akan pernah bilang ‘saya pikir saya tidak bisa’. Saya bisa dan saya akan melakukannya,” cetus dia, dilansir dari laman The Telegraph, Jumat (9/10).

Dalam sebuah wawancara dengan BBC Breakfast, ibu tiga anak ini menceritakan dorongan dari suaminya untuk mengikuti kompetisi tersebut. “Suami saya (Abdul) mencoba membujuk saya agar mendaftar kompetisi ini dua tahun lalu. Namun, saya bilang ‘Saya tidak percaya diri untuk melakukan suatu hal seperti itu’. Tahun ini ia agak memaksa saya dan mengatakan ‘Kamu sangat bagus, pandai, kamu harus melakukannya, hal buruk apa yang mungkin terjadi?’,” kisahnya.

Kalimat terakhir dari suaminya itulah yang membuatnya termotivasi. “Saya melakukannya dan mendaftar. Setiap tahap proses ini terasa tak dapat dipercaya dan tak seharusnya terjadi. Kepercayaan diri saya tumbuh, lalu hal ini (kemenangannya-Red) terjadi,” ujar Nadiya. Baca: Fotografer Inggris Tampilkan Citra Positif Muslimah

Saat ditanya tentang kilasan momen ketika dirinya disebut sebagai pemenang, Nadiya mengatakan, “Saya hanya ingat saat itu tidak ingin melihat siapapun, jadi saya melihat ke sepatu saya di bawah. Ketika mendengar nama saya dipanggil, saya menutup wajah dengan tangan karena tidak mau semua orang melihat saya menangis,” ujar wanita keturunan Bangladesh ini.

Foto: The Sun
Foto: The Sun

Dalam tantangan terakhir final Great British Bake Off, finalis diminta untuk membuat kue tiga tingkat, iced buns (kue berlapis gula) sebagai kue khas mereka, dan raspberry millefeuille (roti klasik Prancis yang terdiri dari beberapa lapisan pastri dan berisi krim) yang menjadi tantangan teknis. Di final Nadiya membuat kue lemon tiga tingkat yang didekorasi dengan sari berwarna merah, biru dan putih dan perhiasan yang dipakainya ketika menikah. Ia menamakannya ‘Big Fat British Wedding Cake’.

“Kue di final adalah kue perayaan dan karena saya tidak pernah punya kue pernikahan, saya ingin membuat kue pernikahan yang layak. Saya membeli sari berwarna merah, putih dan biru sesuai warna Union Jack (bendera Inggris) dan menghias stand kue saya dengan itu. Kue favorit suami saya adalah kue lemon, jadi saya memutuskan untuk membuatnya,” papar Nadiya.

Ia mengungkapkan bahwa ketika menikah di Bangladesh tak ada kue pernikahan yang menyertai karena bukan merupakan bagian dari tradisi. “Tapi jika saya menikah di sini (Inggris), pasti akan ada kue,” ujar wanita berusia 30 tahun ini. Karyanya di final pun menunjukkan beragam unsur warisan multibudaya. Baca: Umat Muslim Tidak Perlu Khawatir Hidup di Inggris

Di pagi hari usai siaran final Great British Bake Off, pendukung Nadiya, yang menamakan dirinya Nadiyators, merayakan kemenangan wanita kelahiran Luton, Inggris itu dengan berkicau di media sosial. Kutipan dari pidatonya #icanandiwill pun menjadi tagar populer.