Keseharian Etnis Minoritas di Xinjiang

[sc name="adsensepostbottom"]

[metaslider id=2221]
Keseharian Etnis Minoritas di Xinjiang

Gambar keseharian suatu kelompok etnis tertentu selalu menarik untuk disimak oleh etnis yang lain, sebagai usaha untuk saling memahami. Mungkin, karena kita—manusia—memang diciptakan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal.

Sekelompok lelaki duduk di lantai, dengan tangan menengadah, kedua tangannya ada yang rapat, ada yang renggang, ada yang dengan berkopiah, ada yang tidak. Tak berbeda dengan pemandangan setelah mengucap salam di akhir shalat, di Indonesia. Semuanya dengan ekspresi khusuk.

Gambar itu tampil dalam salah satu karya fotografer pewarta foto muda Divisi Mandiri Pemberitaan Foto Antara, Ismar Patrizki, yang dipamerkan di Galeri Fotojurnalistik Antara, Pasar Baroe, Jakarta selama tanggal 22 sampai 28 Maret kemarin. Memberi tajuk “Bianglala XINJIANG”, ini adalah pameran tunggal Ismar yang kedua kali.

Gambar-gambar yang dipamerkan adalah souvenir visual Ismar Patrizki dari kunjungannya di Xinjiang, kawasan barat-daya negeri Cina, pada akhir Juli hingga pertengahan Agustus tahun lalu. Ismar berangkat atas undangan media China Radio International, bersama dengan sebelas fotografer lain dari Negara yang berbeda-beda. Etnis-etnis yang berhasil didokumentasikan adalah Mongol, Rusia, Daur, Uyghur, dan Kazakh.

Gambar umat yang tengah berdoa tersebut adalah dari etnis Uyghur, salah satu etnis minoritas di Cina. Dibuat dengan jarak cukup dekat, karena Ismar berada di antaranya itu turut menegakkan shalat Idul Fitri tahun lalu. Bisa jadi gambar yang eksklusif, karena ada larangan dari panitia untuk bisa memotret aktifitas tersebut. Adapun, Ismar bisa berada di lokasi tersebut karena minta izin kepada panitia, harus menegakkan shalat, sesuai agamanya. Suatu kemewahan, karena sepanjang perjalanan fotografer selalu memotret berkelompok, dalam pantauan mata awas panitia.

Etnis Mongol menghuni kawasan utara Pegunungan Tianshan. Umumnya merupakan masyarakat peternak nomaden, mendirikan tenda-tenda di kawasan padang rumput yang menyediakan makanan berlimpah untuk ternak-ternak mereka. Warga etnis Mongol di Xinjiang cukup ramah dan terbuka terhadap orang asing. Ismar berhasil membuat beberapa foto profil mereka dengan pakaian tradisionalnya yang memesona.

Etnis Rusia kerap mengadakan pesta di taman Kota Tacheng. Ismar menampilkan dokumentasi pesta tersebut yang digelar saat senja.

Etnis Daur sebagian besar menganut kepercayaan Shaman. Ismar berhasil mendokumentasikan saat mereka sedang menggelar upacara kepercayaan Shaman untuk memberi penghormatan kepada nenek moyang.

Etnis Kazakh sebagian besar beragama Islam. Mereka piawai menguasai kuda. Ismar mendokumentasikan betapa menunggang kuda sudah diajarkan kepada anak-anak sejak belia.

Oscar Motuloh, dalam pengantar kuratorialnya, menjelaskan, wilayah Otonomi Xinjiang Uyghur adalah kawasan membara seperti halnya Tibet yang ingin memisahkan diri dari Cina. Xinjiang berbatasan langsung dengan Pakistan, Tajikistan, Uzbekistan, Kirgystan, Kazakhstan, dan secara emosional lebih dekat dengan penduduk di negara-negara tersebut dibanding dengan China. I

Gambar-gambar keseharian etnis minoritas di Xinjiang tersebut dapat menjadi pelajaran bagi kita, yang asing ini, bahwa betapa pun asing, masih sama-sama manusia yang bersaudara, dan kita berbagi tempat tinggal di satu-satunya bumi.