Kinerja Bank Syariah Bukopin Melambat

[sc name="adsensepostbottom"]

Menutup semester I 2014 Bank Syariah Bukopin membukukan pertumbuhan di bawah 20 persen. Ketatnya likuiditas dan kompetisi antarbank menyebabkan pertumbuhan melambat.

BSBSampai Juni 2014, Bank Syariah Bukopin telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 3,468 triliun, naik 17,97 persen dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 2,939 triliun. Sementara dana pihak ketiga mencapai Rp 3,372 triliun, tumbuh 5,23 persen dari Rp 3,205 triliun. Aset pun naik 18,77 persen menjadi Rp 4,645 triliun.

Direktur Utama Bank Syariah Bukopin, Riyanto menuturkan pertumbuhan di tahun ini agak melambat dibanding tahun lalu yang bisa mencatat pertumbuhan di atas 20 persen. Hal ini dikarenakan Bank Syariah Bukopin selektif dalam menyalurkan pembiayaan. Menutup semester I 2014 struktur kinerja Bank Syariah Bukopin juga mengalami penurunan karena biaya dana yang tinggi. “Pembiayaan murabahah juga kan fix (tetap), sehingga menekan laba Bank Syariah Bukopin,” ujar Riyanto, Selasa malam (22/7).

Di sisi lain, kini anak usaha Bank Bukopin ini juga masih dalam proses penguatan modal yang diperkirakan akan cair di semester dua 2014. Namun Riyanto enggan mengungkap jumlah pasti penambahan modal tersebut. “Mudah-mudahan dengan penambahan modal kami bisa lebih ekspansif untuk mencapai target bisnis,” tukas Riyanto. Saat ini modal Rp 400 miliar, jadi paling tidak tambahan modalnya di atas Rp 100 miliar,” ungkap Riyanto.

Saat ini proses penambahan modal tersebut sedang dalam proses di Otoritas Jasa Keuangan. Dengan adanya rencana penambahan modal di semester kedua tahun ini, Bank Syariah Bukopin menargetkan menjaga rasio kecukupan modal (capital adequancy ratio/CAR) di atas 12 persen dan rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga di atas 90 persen. Pada Juni 2014 CAR sebesar 11 persen.

Di sisi lain, Riyanto menuturkan dengan semakin terbukanya industri perbankan syariah membuat persaingan menjadi kian ketat. “Bank dengan modal besar dan pemegang saham dari luar punya keunggulan aspek yang lebih besar, sementara sekarang tekanan terhadap likuiditas cukup besar yang berdampak pada makin besarnya dana mahal masyarakat, jadi bank dalam negeri dan relatif kecil mau tak mau ke UMKM,” papar Riyanto. Oleh karena itu, lanjut Riyanto, pihaknya pun optimis masuk ke bisnis pembiayaan mikro secara langsung karena ada potensi perolehan pendapatan margin yang lebih besar dan mempunyai kontrol terhadap mitigasi risiko yang ada.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, lanjut Riyanto, pihaknya melakukan sejumlah langkah dalam meningkatkan layanan. Selain menyalurkan pembiayaan ke segmen mikro, sepanjang tahun ini Bank Syariah Bukopin berencana melakukan ekspansi usaha dengan menyediakan berbagai varian produk dan layanan perbankan. Diantaranya pengembangan penyaluran pembiayaan pendidikan, persiapan perubahan kartu ATM dari Magnetic ke kartu Chip, dan rencana perluasan delivery channel (kantor layanan syariah). Di tahun depan Bank Syariah Bukopin juga akan memperluas layanan gadai secara bertahap di Jawa dan Makassar.