Konsoliasi Modal Palestina untuk Merdeka

[sc name="adsensepostbottom"]

Kalau Hamas dan Fatah terus berseteru akan diekprolitasi oleh Israel.

Founder Foriegn Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal mengatakan, di Palestina memang selama 10 tahun terakhir ini terutama sejak tahun 2007 ada perpecahan yang serius.

Ini menurutnya, tantangan karena Palestina akan sulit merdeka kalau fraksi-fraksi yang ada di Palestina yang jumlahnya 13 terutama Fatah dan Hamas itu tidak bersatu.

“Alhamdulillah bulan lalu sudah ada pertemuan rekonsiliasi yang ditengahi oleh Mesir. Dan mereka untuk runjuk, tapi ini masih labil rujuk politik ini.Rekonsiliasi ini masih labil,” kata Dino kepada MySharing ditemui usai diskusi publik tentang Palestina, di Mayapada Tower, Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Dino,  yang paling penting bisa dicapai pemerintahan persatuan antara Hamas dan Fatah serta sebelas kelompok politik lainnya. Namun hingga sekarang belum tercapai walaupun sudah mulai dirintis.

Dino mengajak semua umat Muslim dimana pun untuk berdoa agar Palestina dapat bersatu mengadakan rekonsiliasi. Karena rekonsiliasi  adalah modal yang terbesar Palestina untuk dapat menjadi negara yang merdeka.

“Kalau terus berseteru akan dieksprolitasi oleh Israel. Israel akan senyum-senyum membuat perseteruan ini makin parah.Seperti kita ketahui Presiden Mahmud Abbas saja sampai sekarang belum bisa masuk ke Gaza sejak 2007,” ungkap Dino.

Jika perseteruan terus terjadi, dan solusi dua negara belum juga tercapai, Dino menilai Palestina memburuk sebelum membaik. Artinya, kata dia, situasi di lapangan akan memburuk sebelum membaik makanya faktor ekonomi jangan luput dari perhatian.

Karena kita banyak perhatian massa politiknya, tapi sekarang bantuan negara Eropa, Amerika dan Arab sendiri terhadap anggaran Palestina itu semakin menyusut.

“Kalau ekonominya menyusut, rakyat akan semakin sengsara dan politiknya akan semakin kisruh. Jadi kalau menurut saya perhatikan masalah ekonomi sementara kalau masalah  politik masih belum jelas. Sementara perjuangan diplomatik masih sangat berat,” kata Dino