koperasi dewi sri
Para Pengurus Koperasi Wanita Dewi Sri, Sidoarjo

Koperasi Dewi Sri: Bermodal Celengan, Kini Beromzet Miliaran

[sc name="adsensepostbottom"]

Koperasi Dewi Sri, Sidoarjo mengadopsi kebiasaan celengan dalam memulai bisnisnya, 10 tahun lalu. Kini, koperasi ini berperan penting dalam pereknomian Porong, Sidoarjo.

koperasi dewi sri
Para Pengurus Koperasi Wanita Dewi Sri, Sidoarjo. Foto: Hardinah Sistri Ani

Alkisah, Susiana warga Desa Candi Pari Porong Sidoarjo, Jawa Timur yang memulai usaha koperasi simpan pinjam ini, 10 tahun lalu. Pemilik gelar Sarjana dari Stikom Malang itu menceritakan kisahnya kepada MySharing. Bersama dua wanita lain, yakni Endang dan Kusdartin aktif menjadi pengurus UP2K (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga) PKK. Di UP2K ini mereka mengelola dana simpan pinjam untuk warga setempat, yang besarnya hanya Rp 2 juta.

Dengan dana sebesar itu, tidak banyak warga desa setempat yang bisa menikmati simpan pinjam. Itu pun jatah per orangnya sangat minim. “Paling besar pinjaman per orang hanya Rp 500 ribu,” kata wanita berhijab ini.

Yang memberatkan lagi, karena dananya terbatas maka jatuh tempo pengembalian pinjaman bukan per bulan melainkan per minggu.

Dari sinilah kemudian Susiana bersama Endang dan Kusdartin semakin mematangkan rencana mereka untuk membuat koperasi. Beruntung, status mereka yang masing-masing bersuamikan perangkat desa membuat sosialisasi ‘kelahiran’ Dewi Sri lebih mudah dilakukan. Tepat tanggal 3 Maret, Koperasi Wanita Dewi Sri berdiri.

Mengapa diberi nama “Dewi Sri”. “Supaya mudah diingat saja, di desa kami khan ada situs purbakala, yakni Candi Pari (Padi, red). Nah, Dewi Sri itu khan dewinya Padi,” papar Susiana berkisah.

Awalnya Celengan
Tak mudah menjalankan roda koperasi di Desa Candi Pari, Porong Sidoarjo. Karena wilayah ini boleh dikata jauh dari akses perkotaan. Tidak ada angkutan umum, jauh dari fasilitas perbankan atau kegiatan perekonomian lain. Meski ini bukan koperasi pertama di wilayah tersebut, bukan berarti masyarakat sudah familiar dengan lembaga keuangan simpan pinjam itu. Karena itu Susiana bersama Endang dan Kusdartin tak henti-hentinya melakukan sosialisasi melalui pertemuan-pertemuan di tingkat RT hingga PKK.

“Untuk menyosialisasikan agar masyarakat mau menyimpan dananya di koperasi, kami bahkan memakai cara celengan kaleng. Jadi, pada setiap rumah, kami bagikan kaleng yang fungsinya sebagai tabungan untuk koperasi. Jadi, setiap ada pertemuan, warga membawa serta celengan tersebut untuk diserahkan kepada kami,” kata Susiana memaparkan.

Bayangkan, betapa repotnya pengurus harus membuka kaleng satu per satu milik warga yang ingin menabungkan uangnya di koperasi. Apalagi uang yang ditabungkan tak sedikit berupa uang recehan. “Kami dituntut kesabaran dan ketelatelan luar biasa pada masyarakat untuk menanamkan gemar menabung,” kata Susiana.

Untunglah, seiring berjalannya waktu masyarakat merasa cara yang mereka gunakan selama ini tidak praktis. “Mereka akhirnya meninggalkan cara konvensional itu, dan memilih datang langsung ke koperasi,” ungkapnya.

Dengan modal hanya Rp 7 juta memang belum banyak yang dilakukan Koperasi Dewi Sri untuk anggotanya. Yang bisa menikmati pinjaman hanya segelintir orang. Mereka akhirnya berusaha agar koperasi yang mereka kelola berbadan hukum. Sebab dengan berbadan hukum, mereka bisa mendapatkan dana bergulir dari Dinas Koperasi yang besarnya Rp 40 juta. Cita-cita mereka terwujud, dana Rp 40 juta yang digulirkan Dinas Koperasi langsung bisa dinikmati 40 orang anggota koperasi yang terletak di Jl Purbakala, Desa Candi Pari Porong Sidoarjo ini. Dana itu terus berkembang hingga sekarang.

“Untuk menyosialisasikan agar masyarakat mau menyimpan dananya di koperasi, kami bahkan memakai cara celengan kaleng. Jadi, pada setiap rumah, kami bagikan kaleng yang fungsinya sebagai tabungan untuk koperasi. Jadi, setiap ada pertemuan, warga membawa serta celengan tersebut untuk diserahkan kepada kami,” kata Susiana memaparkan.

Empat Produk
Kini, di usia 10 tahun perjalanannya, Koperasi Dewi Sri memiliki 1.045 anggota dengan omzet Rp 4,8 miliar. Tabungan simpan pinjam anggotanya mencapai Rp 2,3 miliar. Tak heran jika pada 2011, Koperasi Dewi Sri meraih dua penghargaan yakni Juara Harapan II Lomba Koperasi Berprestasi Kelompok Koperasi Jasa dalam rangka Hari Koperasi ke 64 Provinsi Jatim dan Koperasi Berprestasi tahun 2011 Sidoarjo Kelompok Koperasi Wanita.

Koperasi yang dikelola oleh delapan pengurus ini, memiliki empat produk, pertama Tabungan umum yakni tabungan yang setorannya bisa dilakukan sewaktu-waktu dan bisa diambil sewaktu-waktu oleh anggotanya.

Kedua, Tabungan Idul Fitri: merupakan produk tabungan yang setorannya bisa dilakukan setiap saat, tapi penarikannya dilakukan satu tahun sekali, menjelang Lebaran. Ketiga, Tabungan Pendidikan merupakan produk tabungan yang setorannya bisa dilakukan setiap saat namun penarikannya saat tahun ajaran baru, dan terakhir Tabungan Idul Adha merupakan produk tabungan yang setorannya bisa dilakukan setiap saat tetapi penarikannya dilakukan satu tahun sekali saat menjelang hari raya Idul Adha.

“Dari keempat produk tersebut yang paling diminati anggota adalah tabungan Idul Fitri dan Pendidikan,” kata Susiana yang mengambil gelar Magister Manajemen di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya ini.

Anggota Koperasi Harus Berkelompok
Untuk bisa menjadi anggota Koperasi Dewi Sri cukup mudah. Syaratnya membuka tabungan simpanan pertama Rp 300 ribu, simpanan wajib Rp 50 ribu dan partisipasi gedung Rp 1.000,-
Yang membedakan dengan koperasi lain, calon anggota koperasi harus tergabung dalam sebuah kelompok. Masing-masing kelompok jumlah anggotanya tidak selalu sama.

“Mereka bisa tergabung dalam satu kelompok karena kedekatan geografis atau lebih pada kecocokan pribadi semata,” jelas Susiana.

Masing-masing kelompok menunjuk ketua/koordinator yang memudahkan Koperasi Dewi Sri saat mengucurkan kredit. Koperasi akan mengucurkan pinjaman berdasarkan persetujuan ketua kelompok. Namun, pembentukan kelompok di sini tidak bermaksud untuk tanggung renteng.

“Ketua sebatas memberikan penilaian anggotanya atas kelayakan atau tidaknya saat mengajukan pinjaman ke koperasi,” kata Susiana lagi.

Sejauh ini, sistem tersebut bisa diterima semua anggota. Apalagi hingga kini boleh dikata anggota yang bermasalah relatif sangat kecil. “Yah, di bawah satu persen lah, sehingga tidak sampai merepotkan ketua kelompok,” ucapnya.

Bahkan mendekati Lebaran seperti saat ini, animo masyarakat untuk menjadi anggota koperasi sangat tinggi. Namun justru di saat seperti ini koperasi memilih memprioritaskan anggotanya lebih dulu. Maklum saja, menjelang Lebaran apalagi tahun ini bertepatan dengan tahun ajaran baru, tingkat kebutuhan masyarakat sangat tinggi. Dalam kondisi seperti ini, dana pinjaman yang dibutuhkan sangat besar.

“Karena itu kami lebih mengutamakan kepentingan anggota. Nanti, setelah Lebaran dan tahun ajaran baru berlalu, kami baru membuka pendaftaran anggota koperasi yang baru,” jelas Susiana yang mengatakan setidaknya ada 100 orang lebih yang terpaksa ditolak menjadi anggota baru.

Susiana optimistis, ke depan Koperasi Dewi Sri akan semakin berkembang. Kepercayaan para anggotanya, menjadi ‘semangat’ Dewi Sri untuk terus berkomitmen menjalankan lembaga simpan pinjam ini sesuai visi dan misinya. Semoga!