Baitut Tamwil Muhammadiyah diimbau lebih inovatif.
Permodalan bagi lembaga keuangan mikro sangat vital ditengah persaingan lembaga keuangan yang banyak bermain di segmen pembiayaan mikro. Terkait hal tersebut, Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM) diminta lebih inovatif dalam melakukan financial engineering (rekayasa keuangan).
Ketua Induk KSPPS BTM Achmad Suud menuturkan, membangun sinergisitas permodalan untuk memperoleh dana murah perlu dilakukan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal dapat dilakukan di lingkungan Muhammadiyah berupa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), sedangkan di eksternal dengan menjalin kemitraan dengan lembaga keuangan lainya.
“Membangun sinergi permodalan selama ini sudah dijalankan oleh BTM. “Ini nampak dengan berdirinya BTM sekunder berupa Pusat Koperasi Syariah BTM yang berdiri di 4 provinsi (Lampung, Banten, Jateng dan Jatim),” katanya dalam siaran pers yang diterima MySharing, Selasa (9/5).
- Bank Mega Syariah Umumkan Pemenang Poin Haji Berkah Tahap 3
- BSI Resmi Naik Kelas Sebagai Persero, Mayoritas Pembiayaan ke Segmen Konsumer dan Ritel
- BCA Syariah Luncurkan BSya Digital Membership Card Ivan Gunawan Prive dan Mandjha
- CIMB Niaga Ajak Nasabah Kelola Gaji dan Finansial dengan Lebih Bijak melalui OCTO
Keberadaan dari BTM sekunder itulah yang berperan dalam aspek mediasi likuiditas. Dengan demikian antar jaringan BTM mampu terintegrasi dan saling mendukung dalam kebutuhan permodalan. “Konsep ini yang kami jalankan dalam rangka membangun korporasi keuangan mikro di Muhammadiyah,” ujar Suud.
Terkait dengan permodalan, Suud juga berharap, dengan keberadaan dari BTM yang sudah berkembang dengan pesat ini, tak ada keraguan lagi bagi warga Muhammadiyah untuk bersinergi dalam menggerakkan bisnis di sektor riil. Begitu juga BTM membuka diri bagi menjalin kemitraan kepada siapapun dalam berindikasi dalam membangun keuangan mikro.

