Larang Muslim ke Amerika, Trump Dinilai Celakakan Dirinya Sendiri

[sc name="adsensepostbottom"]

Kampanye hitam yang dilontarkan calon kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Republik Donald Trump terkait pelarangan imigran Muslim masuk ke Amerika menuai reaksi dari artis Peggy Melati Sukma.

trumpPeggy menilai langkah pengusaha ternama Amerika Serikat Donald Trump yang melarang umat Muslim untuk datang ke Amerika sebagai tindakan yang mencelakakan dirinya sendiri. “Bagaimana caranya melarang umat Muslim dunia yang berjumlah 1,6 miliar jiwa untuk masuk Amerika?,” tanyanya.

Founder Urban Syiar Project ini mengemukakan walau Islam bukan agama yang mayoritas di Amerika Serikat, namun negara itu punya intensitas hubungan dengan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim yang cukup besar. Dengan demikian, akan sulit untuk membatasi relasi yang terjalin di dunia global masa kini.

“Jadi menghalangi umat muslim untuk masuk ke Amerika Serikat itu hanya bagian dari strategi kampanye untuk menaikkan popularitas, sehingga (larangan) itu sesuatu yang tidak mungkin dilakukan,” kata artis yang dalam dua tahun terakhir ini aktif mensyiarkan Islam. Baca: Muslimah Amerika Tulis Surat Terbuka untuk Donald Trump

Demi lebih memperluas pesan Islam yang rahmatan lil alamin kepada masyarakat dunia, ia pun bergabung bersama dengan Dompet Dhuafa dan Nusantara Foundation menginisiasi “Telling Islam to The World: Gerakan Dakwah Islam Global”. “Terasa sekali bagaimana Islam mengatur segala hal di alam raya ini berikut setiap relasi keterkaitannya dengan rapi dan teliti, termasuk relasi berbasis kasih sayang, bekerja sama, saling menghargai antar sesama manusia. Kami ingin terus mengkomunikasikan pesan ini pada dunia, yang saat ini banyak mispersepsi terhadap Islam,” jelas Peggy.

Pada tahun pertama, gerakan tersebut akan fokus di Amerika dan Eropa. “Mengapa Amerika? Karena Amerika adalah negara adidaya dimana pertumbuhan Islam tinggi tapi Islamophobia juga tinggi. Mengapa Eropa? Karena serangan yang mengatasnamakan Islam juga banyak yang terjadi di Eropa,” pungkasnya.