
Jika Anda mencari perabotan dengan bahan dasar kayu yang ukurannya menengah hingga kecil, dan mempertimbangkan untuk terbuat dari bahan limbah, silakan pertimbangkan produk-produk dari Usaha Dagang Kelapa Budaya. Kelapa Budaya mengolah limbah kayu menjadi bernilai ekonomi.
“Sekitar delapan puluh persen bahan kami dari kayu limbah,” ujar pendiri Kelapa Budaya, Karel D Nainggolan, di arena stannya, dalam perhelatan Jakarta International Handicraft Tradefair (Inacraft), di JCC, Rabu, 23 April 2014.
Produk-produk Kelapa Budaya yang terbuat dari limbah kayu antara lain berupa rehal untuk membaca Al Qu’ran, wadah majalah, wadah payung, wadah perhiasan, wadah tisu, dan nampan. Bahan baku kayunya rata-rata dari jenis mahoni, sonokeling, dan kelapa. Tentu nilai tambah yang dihadirkan tidak hanya karena berasal kayu limbah, namun kualitas kehalusan produknya pun terasarapi dan mulus.
Karel mengatakan, idenya berasal dari keprihatinan melihat banyaknya potongan kayu yang tidak terpakai dari suatu produk perabotan yang besar. Selama delapan tahun bekerja sebagai pengrajin pada beberapa usaha perabotan, dia mengamati kondisi tersebut. “Kayunya 2 meter, yang terpakai cuma 1,8 meter, sisanya dibuang saja,” katanya.
Sampai pada tahun 1999, karena ide-ide kreatifnya jarang yang bisa diakomodasi oleh atasan, Karel memutuskan membuat usaha kerajinan sendiri di Cungkrungan (Jalan Klaten – Solo Km 3), yang berusaha memaksimalkan kayu-kayu limbah dari lingkungan sekitarnya yang banyak usaha membuat perabotan. Karel pun dikenal sebagai penampung limbah kayu mereka.
Prinsip pembuatan desain produksinya adalah selalu berusaha memaksimalkan material yang ada. “Bagaimana caranya biar tidak ada lagi bahan yang terbuang, biar terpakai semua,” kata Karel. Dia menambahkan, juga mengerjakan pesanan khusus bentuk perabotan yang lebih besar, namun untuk itu harus memakai kayu yang baru.
Berkat inovasi tersebut, produk-produknya yang sederhana mulai dilirik orang. Terlebih, gaya hidup orang sekarang yang ingin berupaya bersahabat dengan lingkungan, makin banyak yang melirik produk-produk dari bahan daur ulang. Sampai, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun memintanya untuk mengisi anjungan Jawa Tengah pada Inacraft tahun lalu.
Karel mempekerjakan sekitar 70 anak muda di lingkungannya yang rata-rata sudah tidak bersekolah. Kendalanya untuk sumber daya manusia adalah sulitnya untuk menemukan yang punya kreatifitas sendiri. Rata-rata hanya mengerjakan mengikuti template. Kendala lain dari segi bahan finishing berupa melamine mahal karena produk impor. Karel menggunakan bahan finishing tersebut karena ingin menjaga kualitas produknya.
Karel menjelaskan nama dagangnya Kelapa Budaya, karena menyukai pohon kelapa yang semua bagiannya berfaedah dan bagian dari produk kebudayaan. Sementara jika kelapa sebagai bahan produknya mempunyai kelebihan dapat menampilkan serat-serat sehingga tampak alami.
Melihat sambutan pengunjung tahun lalu yang cukup memuaskan, Karel memutuskan untuk kembali mengikuti Inacraft. Jika tahun lalu bebas biaya karena diminta pemerintah daerahnya, kali ini Karel harus mengeluarkan biaya sebesar Rp14 juta, yang menurutnya cukup sebanding dengan fasilitas yang didapatkan. Selain soal efektivitas penjualannya, menurut Karel, penting untuk selalu mengikuti ajang tersebut, agar selalu terlihat tampil oleh masyarakat dan kompetitor. Ajang besar sebelumnya yang dia ikuti adalah Indonesia International Furniture Expo di Jakarta Design Center pada pertengahan Maret lalu. Sedangkan Inacraft akan berlangsung sampai 27 April 2014.

