Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono melepas mahasiswa KKN Posdaya di Universitas Soedirman (Usoed).

Mahasiswa KKN Posdaya Siapkan Peta Keluarga

[sc name="adsensepostbottom"]

Ribuan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) dari berbagai perguruan tinggi di seluruh  Indonesia akan ditugaskan melakukan pemetaan keluarga.

Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono melepas mahasiswa KKN Posdaya di Universitas Soedirman (Usoed).
Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono melepas mahasiswa KKN Posdaya di Universitas Soedirman (Usoed).

Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono mengatakan, mulai Maret 2015, mahasiswa KKN Tematik Posdaya dari 300 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta dari seluruh Indonesia akan ditugaskan membantu keluarga di Posdaya memetakan tahapan keluarga anggotanya. Para mahasiswa akan tinggal di desa selama satu setengah bulan mendampingi dan membantu anggota Posdaya memetakan seluruh anggotanya. “Keluarga prasejahtera dan sejahtera I di desa akan menjadi perhatian utama dalam pemetaan itu,” kata Haryono, dalam rilisnya yang diterima MySharing, Senin (23/2).

Keluarga yang diutamakan itu, selanjutnya dalam pertemuan-pertemuan Posdaya akan mendapat dukungan mengikuti proses kemajuan “roadmap” yang disusun bersama, berkembang menjadi lebih sejahtera. Melalui pemetaan, pimpinan Posdaya diajak melakukan suatu proses bagaimana secara gotong royong mengangkat keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera I.

Haryono menuturkan, proses pengembangan peta keluarga akan dimulai tanggal 11 Maret 2015. Peta yang dikembangkan akan didasarkan pada indikator global yang disusun oleh ahli-ahli berbagai bidang, termasuk petunjuk dari para guru besar perguruan tinggi. Indikator nasional berbasis global itu tidak memisah penduduk miskin berdasarkan kemampuan ekonominya saja. Karena Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sejak 1990-an telah memperkenalkan indikator Human Development Index (HDI), atau Index Pengembangan Manusia (IPM).

Indikator yang dipergunakan bukan berupa angka indeks yang disusun berdasar kumulasi nilai berbagai variabel. Tetapi berdasarkan variabel yang mudah dimengerti oleh sasaran dan sekaligus bisa diubah oleh mereka yang ingin maju. “Maka dari itu, indikator yang dipergunakan dibuat di masa lalu, sebagai indikator sederhana dan mudah diubah oleh pelaku setiap keluarga yang menjadi sasaran pemberdayaan,” tegasnya.

Tahapan keluarga dimulai dari keluarga prasejahtera, yaitu keluarga yang belum mampu memenuhi kebutuhan dasar yang sangat minim, seperti kesehatan, pendidikan, pekerjaan dan lingkungannya. Menurut Haryono, keluarga prasejahtera adalah sebuah keluarga yang salah satu dari kondisi itu tidak terpenuhi. Yaitu sebuah keluarga yang tidak makan dua kali sehari, tidak mempunyai pakaian layak, bila anaknya sakit tidak bisa dibawa ke rumah sakit, bila pasangan usia subur ingin ber-KB tidak memperoleh pelayanan KB, dan semua anak usia 7-15 tahun dalam sebuah keluarga tidak bersekolah.

Lebih lanjut ia menuturkan, keluarga prasejahtera belum tentu miskin dalam pengertian “biasa”, atau tidak mempunyai uang. Tetapi keluarga seperti itu biasanya mudah jatuh miskin kalau tidak segera ditolong melalui proses pemberdayaan. Oleh karena itu, dalam tahun 2015, para mahasiswa KKN Tematik Posdaya di seluruh Indonesia dapat membantu anggota Posdaya binaannya membuat peta tahapan keluarga secara akurat.

Keluarga Mampu Harus Menolong Keluarga Prasejahtera

Anggota Posdaya harus diyakini agar peta itu dijadikan bahan utama untuk membuat “roadmap” bagi keluarga yang inginditolong dientaskan dari lembah kemiskinan. “Tingkat kemiskinan secara rasional rata-rata adalah 11 persen. Maka, ada sekitar 89 persen yang semestinya bisa menolong keluarga miskin,” tukas mantan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) .

Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono bersama mahasiswa KKN Tematik Posdaya Universitas Trilogi di Posdaya Seruni Pondok Bambu Jakarta Timur.
Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono bersama mahasiswa KKN Tematik Posdaya Universitas Trilogi di Posdaya Seruni Pondok Bambu Jakarta Timur.

Setelah peta terbentuk diharapkan setiap Posdaya bisa mengajak keluarga yang relatif mampu secara gotong royong menolong keluarga kurang mampu mengentaskan diri dari lembah kemiskinan. Keluarga prasejahtera diharapkan selalu diikut sertakan dalam berbagai kegiatan pembangunan di desanya, termasuk mengikuti berbagai bentuk pelatihan ketrampilan untuk meningkatkan usaha mikro dan lainnya.

Karena upaya pembangunan keluarga dimaksudkan untuk mendorong lembaga paling kecil dalam masyarakat, yaitu keluarga, menjadi agen pembangunan manusia. Maka, keluarga prasejahtera itu yang dijadikan pemeran dalam setiap proses pemberdayaan.

Pelatihan yang dilalukan untuk mempersiapkan para pimpinan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) itu sungguh suatu pelatihan yang sangat berguna. Para dosen pembimbing lapangan di setiap perguruan tinggi bisa menjadi tutor dari mahasiswa yang akan terjun ke desa.

Melalui peta yang dibuat, setiap mahasiswa dapat mendampingi para pengurus Posdaya untuk mengarahkan tahapan pengembangan keluarga dari keadaan miskin, secara bertahap berkembang dengan dukungan keluarga mampu. Dan karena indikatornya bersifat mutable, maka setiap keluarga bisa mengubah indikator yang dianggap lemah dalam dirinya. Sehingga praktis setiap keluarga dengan dukungan gotong royong dari lembaga desa di sekitarnya, bisa bergerak sesuai dengan tahapan keluarganya. ”Pengentasan kemiskinan pun dapat dilaksanakan secara massal oleh keluarga prasejahtera dengan dukungan masyarakat yang peduli. Insya Allah berhasil,” pungkas Haryono.