Manajemen SDA Pesisir Berkelanjutan Berbasis Hak

[sc name="adsensepostbottom"]
Diskusi Pesisir
Diskusi Pesisir. (atamerica.or.id)

Kawasan pesisir Indonesia terancam. Memiliki kekayaan pesisir berupa garis pantai lebih dari 80 ribu kilometer (terpanjang ke dua di dunia), yang meliputi luas 5,8 juta kilometer persegi, atau 2/3 dari kawasan Indonesia, ancaman tersebut susah teratasi.

Setidaknya, ada empat pengelompokan ancaman terhadap kawasan pesisir. Pengambilan ikan secara berlebihan, pengambilan ikan yang merusak, pencemaran, dan dampak perubahan iklim. Demikian diungkap Gondan Puti Renosari dari lembaga The Nature Conservancy (TNC), pada diskusi di Atamerica, Jakarta, Kamis 17 April 2014. Pembicara lain adalah Dr. Linwood Pendleton dari Duke University’s Nicholas Institute for Environmental Policy Solutions.

Gondan mengatakan, masyarakat Indonesia sangat tergantung pada sumber daya alam (SDA) pesisir, merupakan ke empat terbesar di dunia. 30% pendapatan pemerintah berasal dari SDA pesisir, berupa produk dan atau jasa terkait. Adapun, kebijakanpemerintah dan kapasitasnya untuk menjaga pesisir tidak memadai, dan kesadaran masyarakat terhadap ancaman tersebut masih kurang. Secara kegiatan, 80% kawasan industri dan 75% kota besar terletak di pesisir.

“Produsen perikanan terbesar ke dua setelah Cina, dan dengan jumlah nelayan juga terbesar ke dua,” kata Gondan.

Gondan mengingatkan, kawasan pesisir Indonesia juga menjadi perhatian dunia karena menyimpan 16% dari kekayaan terumbu karang dunia (termasuk 75% jenis terumbu karang yang keras), dan 22 ribu spesies jenis ikan. Tak pelak, industri pariwisata di peisisir juga sangat memikat.

Untuk mengatasi masalah tersebut, TNC telah menjalankan pendekatan Manajemen SDA Pesisir Berkelanjutan Berbasis Hak untuk mendukung konservasi. TNC membantu pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi kelemahannya. TNC menawarkan agar ada insentif kepada masyarakat yang turut terlibat mengusahakan keberlanjutan kawasan laut.

Dr. Pendleton mengingatkan, yang perlu disadari, adalah kita semua saling terhubung. Apa pun yang dilakukan oleh masyarakat di suatu belahan dunia, akan dirasakan juga dampaknya oleh masyarakat di belahan dunia yang lain.

Tamu terbanyak pada diskusi tersebut datang dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Satya Negara Indonesia (USNI). Sebagian mahasiswa tersebut adalah warga Kepulauan Seribu.