Puisi, seni musik dan klarigrafi berbasis Islam dapat dikembangkan di Masjid Istiqlal.
Menteri Agama (Menag) Lukman Saifudin Hakim berharap Masjid Istiqlal menjadi pusat kajian ilmu-ilmu keislaman, seperti Masjid Al-Azhar di Mesir. “Apalagi pengajian kitab kuning yang selama ini dilaksanakan rutin di Masjid Istiqlal bisa menjadi cikal bakal pusat kajian yang kuat.
Selain menjadi pusat kajian keislaman, Lukman juga berharap Masjid Istiqlal dapat mempelopori pelatihan khatib atau dai secara lebih baik dan terprogram. “Aspirasi masyarakat tentang perlunya standarilisasi khatib atau dai perlu dijawab Istiqlal dengan mendirikan pusat pelatihan khatib dan dai yang representatif,” ujar Lukman dalam sambutannya pada perayaan Milad ke 39 Masjid Istiqlal, Rabu malam (22/2).
Dalam pidatonya, Lukman juga mengapresiasikan keterlibatan umat berbagai agama dalam bersih-bersih Masjid Istiqlal, pada Minggu lalu. Oleh karena itulah, Lukman pun mengusulkan agar Masjid Istiqlal juga berperan sebagai pusat kerukunan.
Lukman berharap, Masjid Istiqlal bukan saja simbol kerukunan umat beragama, tapi juga wajah toleransi umat berbagai agama untuk hidup rukun berdampingan. “Letak Masjid Istiqlal yang berdampingan dengan gereja Katerdal menunjukkan bahwa umat Islam Indonesia bisa hidup berdampingan dengan agama lain,” kata Lukman.
Lukman juga berharap di usia ke 39 ini, Masjid Istiqlal harus hadir sebagai pusat kebudayaan Islam. Lukman pun mencontohkan Taman Ismail Marzuki (TIM), Salihara, atau benteng budaya yang menjadi oase ditengah hiruk piruk kehidupan metropolitan Jakarta.
“Istiqlal harus menawarkan budaya yang menawarkan sentuhan budaya Islam yang sesuai dengan lingkungan kota. Puisi, seni musik, dan kaligrafi begitu kaya di Indonesia adalah berbasis budaya Islam yang dapat dikembangkan di Masjid Istiqlal,” tegas Lukman.

