Banyak orang ingin investasi dengan beragam tujuan. Ada yang ingin mempersiapkan dana untuk masa pensiun, membiayai pendidikan anak, hingga sekedar untuk biaya jalan-jalan. Namun, ada yang perlu diperhatikan loh sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Apa itu?

“Banyak keluarga Indonesia keuangannya defisit, tapi ambisius ingin investasi. Nah, yang terjadi adalah investasinya tidak kontinu karena akhirnya uangnya terpakai. Kalau misalnya konsumsi meningkat atau cicilan utang bertambah biasanya apa yang dikorbankan dulu? Jadi tidak menabung. Makanya, keuangan harus sehat supaya tidak dipakai terus dan bisa dialokasikan,” papar Febiola kepada mysharing, beberapa waktu lalu. Baca: Sesuaikan Porsi Investasi Sesuai Kebutuhan
Ia pun menjelaskan indikator dari keuangan yang sehat adalah memiliki catatan keuangan yang tidak defisit. Selain itu, punya perbandingan harta yang lebih besar dari utang. Mengenai pilihan jenis instrumen investasi dapat disesuaikan dengan tujuan keuangannya. “Berapa lama jangka waktunya, orang ini profil risikonya seperti apa, sehingga tidak ada jawaban yang investasinya harus ini atau itu, karena untuk setiap orang dan keluarga itu berbeda kasusnya,” ujar Febiola.
- Masjid Al-Ikhlas PIK Dibuka, Usung Islamic Classical Architecture Padukan Keindahan, Kesederhanaan dan Kekhusyukan
- CIMB Niaga Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan Pelajar di 2026
- “D-8 Halal Expo Indonesia 2026”, Tegaskan Komitmen Indonesia dalam Mendorong Ekonomi Halal
- BSI Catat Penjualan Emas Tembus 2 Ton, Nasabah Nikmati Kenaikan Harga
Dalam perencanaan keuangan pun hendaknya setiap individu atau keluarga punya alokasi yang pasti untuk setiap pengeluaran maupun investasi. Febiola menyarankan agar dari pendapatan setelah dikurangi zakat, alokasikan 50-60 persen untuk konsumsi, maksimal 30 persen untuk cicilan utang jika punya, dan 10-20 persen untuk menabung dan investasi. Baca: Ini Dia Tips Perencanaan Keuangan Untuk Para Lajang!
“Lalu, harus investasi kemana dan ngapain? Namanya investasi harus dicocokkan dengan tujuan investasi. Ada sering pertanyaan ke saya, investasi yang bagus apa sih? Reksadanakah, emas atau apa? Sebenarnya semua instrumen investasi itu baik, tapi kita mau pakai untuk apa? Kalau jangka pendek ya deposito saja, kalau di atas 3 tahun emas saja, reksadana saham atau reksadana campuran untuk jangka menengah sampai panjang,” pungkas Febiola.

