Natsir Zubaidi

Maulid Nabi, Semangat Membina Akhlak

[sc name="adsensepostbottom"]

Dewan Masjid Indonesia (DMI)  menghimbau umat Islam untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan semangat membina akhlak mulia.

Natsir Zubaidi
Natsir Zubaidi

“Semangat itu perlu digaungkan mengingat Indonesia sedang berada dalam suasana krisis etika dan moral,” kata Ketua DMI Natsir Zubaidi, dalam rilisnya yang diterima MySharing, Senin (21/12).

Natsir pun mengajak umat Islam untuk tidak terpancing dengan suasana perayaan natal yang biasanya cukup hinggar-binggar. Justru, tegas dia,  sebaiknya harus termotivasi untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam konteks fastabigul khairat (berlomba dalam berbuat kebajikan).

Menurutnya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan momentum yang sangat baik bagi masjid, pesantren, maupun perguruan tinggi Islam untuk melakukan gerakan perbaikan etika, akhlak, dan moral. “Ini penting untuk menyelamatkan bangsa dari bahaya kehancuran,” papar Natsir yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Watim MUI).

Di Indonesia, kaum Muslim umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa, bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten.

Di tingkat global, sebagian masyarakat Muslim Sunni dan Syiah di dunia merayakan Maulid Nabi. Muslim Sunni merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awal sedangkan muslim Syiah merayakannya pada tanggal 17 Rabiul Awal, yang juga bertepatan dengan ulang tahun Imam Syiah yang keenam, yaitu Imam Ja’far ash-Shadiq.

Maulid dirayakan di banyak negara dengan penduduk mayoritas Muslim di dunia, serta di negara-negara lain di mana masyarakat Muslim banyak membentuk komunitas, contohnya antara lain di India, Britania Raya, Rusiadan Kanada. Arab Saudi adalah satu-satunya negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang tidak menjadikan Maulid sebagai hari libur resmi. Partisipasi dalam ritual perayaan hari besar Islam ini umumnya dipandang sebagai ekspresi dari rasa keimanan dan kebangkitan keberagamaan bagi para penganutnya.