Mekanisme Formatur pada pemilihan Ketua Umum PP Muhammadiyah diyakini dapat menghindari konflik antar calon dan menghindari politik uang.

Seperti diketahui, telah terjaring 82 calon ketua yang akan memimpin ormas Islam berlambang matahari tersebut. Salah satunya, Ketua Lembaga Hubungan Muhyiddin Junaidi. “Saya kebetulan calon ketua Muhammadiyah dari 82 nama yang diusulkan,” kata Muhyiddin kepada MySharing, di Jakarta, Jumat (31/7).
Menurutnya, dalam kompetisi calon ketua Muhammadiyah ini tidak ada kampanye selayaknya Pilpres atau Pileg.Namun yang pemilihan diserahkan kepada hak suara para anggota Muhammadiyah di seluruh Indonesia. “Kami tidak memaksakan kehendak, hati mereka lebih tahu yang terbaik untuk kemajuan Muhammadiyah,” ujarnya.
- CIMB Niaga Syariah Perluas Akses Layanan Perbankan Syariah di Bogor, Resmikan Digital Branch
- CIMB Niaga Syariah Luncurkan Program Jumat Baik, Perkuat Komitmen Melangkah Sesuai Kaidah
- Bank Muamalat Catat Pertumbuhan Volume Transaksi Ziswaf 24,75% via Muamalat DIN
- BSI Fest Ramadan 2026 Digelar di 9 Kota Besar, Tawarkan Diskon Umroh
Lebih lanjut ia mengungkapkan, pemilihan Ketua Umum PP Muhammadiyah memang berbeda seperti Nahdlatul Ulama atau partai-partai politik, yakni dengan cara memilih 13 formula.
Mekanisme pemilihan Ketua Umum PP Muhammadiyah memang berbeda seperti Nahdlatul Ulama atau partai-partai politik, yakni dengan cara memilih 13 formatur. “Mekanisme formatur ini dapat mengindari konflik antar calon dan juga termasuk menghindari politik uang,” tegasnya.
Ia menjelaskan, setelah dipilih para muktamirin, 13 formatur itu yang akan menentukan siapa yang paling pantas dan tepat untuk menjadi pemimpin tertinggi PP Muhammadiyah.
Mekanisme pemilihan ini, menurut Muhyiddin, bisa mengurangi gesekan di arus bawah. Karena para muktamirin tidak ikut memilih Ketua Umum PP Muhammadiyah. “Hal krusial lainnya yang dapat ditepis berkat mekanisme pemilihan formatur ini adalah provokasi pihak-pihak ketiga dalam proses pemilihan ketua,” ujarnya.
Muhyiddin menuturkan, proses formatur ini juga pernah dilakukan ketika Nabi Muhammad SAW meninggal, lalu digantikan khalifah Abu Bakar. Namun ketika itu, lanjutnya, masih semi formatur. Umar bin Khattab, kata Muhyiddin, yang mulai memperkenalkan sistem formatur ini pada Islam.
Dengan mengusung tema “Islam Berkemajuan”, Muhyiddin berharap Muktamar Muhammadiyah ke 47 ini bisa berjalan mulus tanpa kendala.Ada pun tema “Islam Berkemajuan” yakni mengandung makna Islam yang maju bukan Islam yang keterbelakangan.
Untuk maju, kata dia, dibutuhkan ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi dengan meningkatkan kualitas pendidikan dalam rangka pengembangan ekonomi nasional dan kesejahteraan umat.
Menurut Muhyiddin, untuk mewujudkan semua itu, sehingga kita bisa lebih mandiri, bekerja lebih bagus dan membuka wawasan secara global. “Kita harus menguasai sains dan teknologi sebagai wasilah untuk kemajuan umat,” pungkasnya.

