Isu global dan domestik yang bermunculan sejak krisis finansial pada tahun 2008 membuat arah perkembangan ekonomi dan keuangan syariah menjadi tidak menentu, sehingga, muncul kebutuhan akan Indonesia Sharia Economic Outlook yang kredibel dalam bidang ekonomi dan keuangan syariah dalam masyarakat, khususnya para pelaku bisnis, akademisi, maupun para pembuat kebijakan.
Berangkat dari hal itu, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) mengadakan “Seminar Indonesia Sharia Economic Outlook 2018 bertajuk Ekonomi dan Keuangan Syariah sebagai Arus Baru Perekonomian Indonesia” di Auditorium Gedung Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, Depok, Selasa 5 November 2017.
Indonesia Sharia Economic Outlook 2018 merupakan sebuah laporan dari 10 sektor utama terkait perkembangan ekonomi, industri dan keuangan Syariah di Indonesia, juga didukung oleh Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) RI.
Peluncuran yang disertai dengan seminar itu menghadirkan sejumlah pembicara di industri syariah Indonesia.
- CIMB Niaga Syariah Luncurkan Program Jumat Baik, Perkuat Komitmen Melangkah Sesuai Kaidah
- Bank Muamalat Catat Pertumbuhan Volume Transaksi Ziswaf 24,75% via Muamalat DIN
- BSI Fest Ramadan 2026 Digelar di 9 Kota Besar, Tawarkan Diskon Umroh
- Prudential Syariah Luncurkan PRUHeritage Syariah Essential Plan USD, Nilai Proteksi Meningkat hingga 150%
Mulai dari Riyanto Sofyan Komisaris Utama PT. Hotel Sofyan Tbk, Sumunar Jati Wakil Direktur LPPOM-MUI, Ikhsan Abdullah Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch, Imam Teguh Saptono Presiden Direktur Global Wakaf Corporation, Deden Firman Hendarsyah Direktur Penelitian, Pengembangan, Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan, hingga Diajeng Lestari pengusaha dan pendiri Hijup.com.
Peluncuran dan seminar Indonesia Sharia Economic Outlook 2018 ini, FEB-UI bekerja sama dengan Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI dan Islamic Economic Business Community FEB UI yang didukung oleh Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS RI).
“Sebenarnya sudah sejak tahun 2009 kami rutin mengeluarkan ISEO yang dari tahun ke tahun memperlihatkan perkembangan yang semakin membaik, meski melambat,” kata Banu Muhammad Haidlir Direktur Center for Islamic Economy and Business FEB UI sebagai penyelenggara.
“Saya membayangkan kalau kita bisa konsisten membangun ini akan menjadi arus baru perekonomian Indonesia,” kata Banu. Beliau mengingat bahwa di tempat yang sama 17 tahun yang lalu Banu sudah terlibat dalam berbagai pembicaraan tentang sistem ekonomi syariah.
Dia berharap Indonesia yang masyarakatnya di dominasi oleh muslim dapat lebih bersemangat untuk memiliki sistem ekonomi syariah. Suatu saat bisa mengejar Timur Tengah atau Malaysia yang pemerintahnya lebih bersemangat membangun ekonomi berbasis syariah dibanding masyarakatnya.
Punky Sumadi, Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia dalam acara yang sama menjelaskan saat menjadi keynote speaker di ISEO 2018 “Membangun ekonomi syariah di Indonesia itu kedepannya tidak mudah. Ya, Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan telah mengembangkan sistem perbankan syariah, tapi itu saja tak cukup.”
Menata sistem keuangan syariah saja tak cukup, maka bersama-sama dibuatlah masterplan arsitektur keuangan syariah Indonesia berdasarkan studi tahun 2011.
Punky menjelaskan masterplan itu mencakup juga soal perbankan, pasar modal, keuangan, kecukupan modal, sosialisasi hingga tata kelola, IT dan sumber daya manusia (SDM)
“Kita ternyata memiliki 200 lebih perguruan tinggi ekonomi syariah, tapi ternyata perbankan kita jarang mau terima. Mereka menganggap kualitasnya tak sebaik Fakultas Ekonomi lain, ini persoalan besar,” kata Pungky.
Bersama timnya, Pungky sempat berdiskusi dengan Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan sampai Direktorat Bina Islam. “Ternyata mengembangkan ekonomi Islam bukan hanya soal pendidikannya akan tetapi juga environtmentnya,” kata Pungky.
Tak hanya di sektor pendidikan, dalam perjalanannya ditemukan pula bahwa perbankan syariah masih banyak bergerak di sektor riil. “Ini juga yang harus digandeng,” kata Pungky.
Sejak terbentuknya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) pengembangan ekonomi syariah lebih terarah.
Pungky menjelaskan “Ekonomi syariah itu lebih kompleks dibanding ekonomi konvensional, jadi kita harus menggandeng ekonomi riil juga. Kita tetap melihat ini sebagai peluang.”
“Melihat peluang ekonomi syariah juga ada pada aspek industri kreatif, yang baik tidak mengeksplotitasi perempuan, dan menjalankan prinsip usaha yang baik. Produk-produk syariah harus diinventarisir dan menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi jadi penting,” katanya.
“Produsen adalah pemain utama di ekonomi syariah. Tahun 2040 apabila kita konsisten menjalankan upaya ini kita dapat mengalahkan Malaysia dengan visi kerjasama untuk mengembangkan ekonomi syariah,” kata Pungky.



