Mendikbud Muhadjir Effendi (kemeja putih/tengah) pada dialog bertajuk "Kebijakan Pendidikan Nasional dan Kepentingan Umat Islam" di kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (23/8). Foto: MySharing.

Mendikbud: Sekolah Jadi Pusat Manajemen Pembelajaran Siswa

[sc name="adsensepostbottom"]

Sekolah sebagai sarana pendidikan tidak bisa seragam.

Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) menggelar rapat pleno ke-19 di gedung MUI Pusat, Jakarta, Rabu (23/8).

Rapat pleno berbentuk dialog ini bertajuk “Kebijakan Pendidikan Nasional dan Kepentingan Bagi Umat Muslim” ini dihadiri oleh Ketua Wantim MUI Din Syamauddin, Wakil Ketua Wantim MUI Didin Hafiduddin, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Efendi, Sekjen Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Sekjen Kemenristekdikti) Ainun Niam,  Kepala Balitbang Kemendikbud Totok Suprayitno, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad dan perwakilan berbagai Organisasi Masyarakat (Ormas).

Dalam dialog ini, Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan, sekolah sebagai sarana pendidikan tidak bisa seragam dan sekolah diperbolehkan untuk mengembangkan pendidikan sesuai dengan ekosistem di sekitarnya. Bahkan, salah satu contohnya, kata dia,  bisa jadi nanti sekolah tidak perlu lagi menggunakan seragam. “Itu school base managemen idenya. Sekolah jadi pusat manajemen pembelajaran siswa,” kata Muhadjir.

Dia juga berharap bahwa dalam proses pendidikan dapat diterapkan pola Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Karena menurut Muhadjir, jika guru hanya dibiarkan mengajar, siswa hanya pasif mendengarkan dan tidak berkembang. Sedangkan dengan pola CBSA, guru sebagai pendidik dapat merangsang murid untuk aktif, terutama di luar kelas. Misalnya saja diberikan tugas kelomopok, tugas individu maupun tugas yang menerapkan metode proyek.

Dengan sistem ini, lanjutnya, selain belajar, anak juga bisa membantu orang tua dan bisa menjadi ekstrakulikuler di luar kelas. “Misalnya saja seperti Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), dia awalnya pulang sekolah langsung ke toko orang tua membantu sehingga besarnya jadi pengusaha. Percuma saja kalau punya nilai 10 di mata pelajaran Matematika, tapi tidak punya pengalaman,” ungkapnya.

Muhadjir menjelaskan,  bahwa kurikulum memiliki basis yang luas dan sekolah harus dilihat sebagai suatu ekosistem. Sehingga setiap sekolah harus melakukan eksplorasi, karena setiap sekolah memiliki ciri unik dan diharapkan ciri unik yang sesuai dengan ekosistem dapat dimanfaatkan untuk belajar anak.

“Jadi sekolah itu berbeda, tidak seragam namun kurikulumnya saja yang sama. Ujungnya ini adalah Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Ke depannya juga peserta didik akan memiliki dua rapot yakni akademik dan kepribadian,” ujarnya.

Menurut Mendikbud, PPK merupakan pondasi program yang mengacu pada Nawacita. Dimana dalam Nawacita, 70 persen pendidikan dasar harus bermuatan karakter pada SD dan SMP, sedangkan sekolah lanjutannya adalah vokasi. “Kalau pondasi ini kokoh, peserta didik bisa masuk dunia kerja dengan keterampilan masing-masing. Itu skenario strategis pendidikannya,” pungkasnya.