Industri kreatif Indonesia tercatat telah berkontribusi 7,6 persen bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia dan masuk dalam 10 besar lapangan usaha yang menyumbang produk domestik bruto. Di masa mendatang industri satu ini juga diprediksi akan tetap kinclong dan memberikan performa terbaiknya bagi perekonomian Indonesia. Agar tetap dapat bertahan dan terus berkembang itulah tentunya industri kreatif juga memerlukan dukungan finansial dari perbankan. Industri bank syariah yang perkembangannya cukup menjanjikan dalam kurun waktu terakhir diharapkan dapat turut pula berkontribusi terhadap pertumbuhan industri kreatif di tanah air.

Staf Khusus Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Elitua Simarmata, mengakui ada sejumlah subsektor industri kreatif yang memiliki masalah untuk memperoleh pembiayaan dari bank, seperti ketidakjelasan jumlah penjualan dan terbatasnya sebaran lokasi usaha, serta ada beberapa subsektor industri kreatif yang beresiko tinggi karena tingkat ketidakpastiannya juga tinggi. Namun ada pula industri yang memproduksi sesuai pesanan konsumen yang kemudian terbentur masalah karena kurang modal.
Ia memaparkan industri kreatif Indonesia terdiri dari 15 subsektor. Namun ada dua industri yang cukup menopang industri kreatif Indonesia, yaitu kerajinan dan fashion. Pihaknya berupaya mengembangkan desain dan konten lokal agar lebih bermutu.
Untuk itu, lanjut Elitua, pihaknya berharap ada koordinasi kebijakan perbankan syariah supaya bisa sesuai dengan karakter industri kreatif. “Atau mengupayakan melalui alokasi kredit usaha rakyat (KUR) atau dana CSR dikhususkan untuk industri kreatif, menjalin koneksi bisnis untuk insan kreatif yang tidak bermasalah dengan agunan dan punya literasi pembiayaan yang cukup baik,” ujar Elitua.
Selain itu, tambahnya, dapat pula kerja sama inkubasi berbentuk pendampingan workshop untuk peningkatan kemampuan. Melalui koneksi bisnis, kemitraan dan inkubasi itulah antara industri kreatif dan perbankan syariah dapat menjalin bekerja sama. Di sisi lain, Elitua menuturkan diperlukan pula penaksir industri kreatif di perbankan syariah, serta penyebaran lokasi kantor bank syariah yang lebih luas.
Sementara, Direktur BSM, Hanawijaya, mengakui baru ada beberapa sektor industri kreatif yang bisa dibiayai perbankan syariah, seperti industri kerajinan dan fashion. Namun ia tak menampik industri kreatif dapat menjadi salah satu entry point besar bagi perbankan syariah dan tidak ada alasan untuk tidak mendekati industri kreatif.
Untuk itu, lanjut Hanawijaya, bagi industri kreatif yang masih masuk dalam kategori unbankable pihaknya berupaya memfasilitasi pembiayaan pemerintah melalui bank syariah. Pihaknya juga berupaya menciptakan skim yang fleksibel bagi industri kreatif. “Jadi pelaku industri kreatif tidak perlu kuatir, misalnya seperti kita terima dana pemerintah dengan margin kecil sehingga bisa memberi margin ke industri 9-10 persen, kemudian bagaimana juga bisa mengoptimalkan dana PKBL BUMN (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Badan Usaha Milik Negara),” kata Hanawijaya.

