Intinya, hanya rogoh kocek untuk sesuatu yang memang diperlukan saat ini dan siapkan keuangan untuk masa depan. Tidak berlebihan dan tidak pula kikir.

Bagaimana aplikasi berhemat (Qanaah) dalam mengelola keuangan keluarga secara syariah? Ilustrasinya mudah, jika ada kartu kredit di tangan, lalu ada penawaran diskon iPad terbaru, Anda tidak mampu membelinya secara tunai saat itu, meski dengan diskon. Lalu Anda berhutang dengan fasilitas kartu kredit. Anda sebenarnya tidak benar-benar membutuhkan iPad terbaru tersebut karena sudah memiliki tablet Android yang lumayan bagus. Motivasi Anda membeli dengan kartu kredit semata karena diskonnya. Dengan rentang waktu terbatas, diskon itu Anda merasa harus segera memanfaatkannya.
Apakah ini kebutuhan atau keinginan? Kartu kredit dan fasilitas berhutang berskema bunga memanfaatkan kelemahan kita, perasaan sakit jika harus membayar tunai, yang artinya mengurangi lembaran uang di dompet. Sebaliknya, siapa tidak senang jika hari ini dapat membawa pulang gadget bergengsi tanpa harus mengurangi lembaran uang di dompet? Sesuaikah kartu kredit dalam pengelolaan keuangan keluarga menurut Islam?
Kesenangan yang semu, karena sesungguhnya tagihan akan datang di bulan berikutnya. Dan, jika tidak dibayar tunai, Anda akan dikenakan biaya tambahan alias bunga. Pun di bulan-bulan berikutnya, jika belum dilunasi juga, bunga akan terus berbunga. Nah, ajaran Islam sangat jelas melarang riba atau bunga. Meskipun, saat ini ada juga kartu kredit syariah yang masih menuai perdebatan.
Dasar hukum pelarangan riba ada pada setingkat Al-quran maupun Sunnah. Al-quran mengancam pelaku riba dengan masuk neraka yang mereka kekal di dalamnya (2 : 275). Riba sebagai perbuatan yang zalim (QS.2: 278 dan QS 4: 160). Bahkan dikatakan oleh Nabi Saw, Bahwa Riba memiliki 73 tingkatan, yang paling ringan.
Kebutuhan Bukan Keinginan
Murniati Mukhlisin dan Luqyan Tamani berbagi pengetahuan dan tips mengenai mengapa kita harus menahan keinginan yang tidak mampu kita penuhi secara finansial saat ini. Dalam bagian “Mengelola Impian Keluarga” di bukunya Sakinah Finance (Tinta Media-Solo: 2014), suami isteri akademisi ekonomi Islam ini mengatakan “”Kita harus sepakat hanya berbelanja hal-hal yang sangat pokok, yang memang sangat kita butuhkan, bukan yang sangat kita inginkan” (hlm: 95).
Paradigma ini adalah bagian dari strategi menjemput impian keluarga, seperti berlibur, memiliki mobil baru, rumah baru, membangun mesjid, menyekolahkan anak ke luar negeri, dan sebagainya. Butuh biaya untuk itu dan jika Anda boros, kerapkali memenangkan keinginan daripada kebutuhan, bagaimana Anda dapat menjemput impian keluarga tersebut?
Dua penulis pun mengutip alasan mengapa kita harus berhemat dalam melakukan mengelola keuangan keluarga secara Islami. Allah SWT berfirman, “Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar.” (QS al-Furqan [25]:67). Karena, konsumsi dalam Islam, sebagaimana tujuannya di dalam ekonomi syariah adalah untuk mencukupi kebutuhan dan bukan sekadar memenuhi kepuasan/keinginan.
Tentu kita mafhum dengan naiknya harga-harga pasca pengurangan subsidi harga bahan bakar minyak (BBM), tinggal kita sesuaikan perencanaan keuangan keluarga dengan kenaikan harga BBM.
Di artikel berikutnya, dua penulis ini memaparkan 6 tips berhemat dalam mengelola keuangan keluarga secara syariah. Enam tips itu dirangkum dalam artikel Berhemat Saat Krisis, Kurangi Belanja di Supermarket.

