Bisnis boneka pakaian adat, selain orisinal, imut, dan mewakili keragaman budaya Nusantara, juga menyumbang omset hingga Rp20 juta sebulan.

Dengan busana tradisional yang menonjolkan keindahan, keunikan dan sekaligus keaneka ragaman budaya suku bangsa kita di seluruh penjuru Nusantara, boneka pakaian adat ini memang menarik perhatian setiap kali Sukma mengikuti berbagai pameran di berbagai kota di Indonesia. Dibanding produk boneka jenis lain, boneka adat made in Sukma benar-benar tampil beda.
Ada boneka Jawa dengan kebayanya, kain panjang dan sanggul untuk boneka perempuan, sementara untuk boneka laki-laki mengenakan busana beskap dan blangkon. Ada juga boneka dari daerah Sumatera dengan kain songketnya, dari Sulawesi dengan keindahan pernik-perniknya, dari Kalimantan , Bali, Nusa Tenggara sampai Papua semuanya tampil cantik dan menarik dengan segala keunikan dan keindahannya.
Memulai bisnis dengan bendera Dian Collection, Sukma mengaku awalnya hanya iseng-iseng membuat boneka. Namun, menjahit yang sudah menjadi hobinya sejak kecil memunculkan gagasan mengapa tidak membalut boneka-boneka itu dengan baju adat dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Dengan modal awal Rp 10 juta, dibuatlah beragam baju adat dari berbagai daerah untuk dipakaikan ke boneka buatannya.
“Saya ingin anak-anak bisa mempelajari kekayaan budaya Indonesia melalui baju adatnya,” kata wanita kelahiran Blitar, 3 September 1958.
Ternyata respon masyarakat cukup bagus. Setiap kali pameran, boneka buatan ibu dari tiga anak ini banyak terbeli. Peminatnya bukan hanya konsumen umum. Tak sedikit dari instansi seperti Pemkot, Pelindo atau instansi lain yang menjadikan boneka adat ini sebagai souvenir untuk tamu-tamu mereka dari luar Surabaya. Bahkan tak jarang yang membawanya saat mereka mengadakan perjalanan dinas ke luar negeri.
“Mereka menjadikan boneka pakaian adat ini sebagai cendera mata,” kata wanita yang sehari-hari juga bekerja sebagai karyawan swasta itu.
Walikota Tri Rismaharini misalnya, termasuk salah satu pelanggannya. “Biasanya kalau ada tamu, Bu Risma memesan boneka Penari Remo sebagai suvenir ,” ungkapya.
Bahkan ada kapal pesiar yang melintasi perairan Indonesia, ketika bersandar dan singgah di Surabaya sering mengontak Sukma untuk memajang boneka pakaian adat karyanya di kapal pesiar. Sehingga turis asing atau penumpang domestik yang ada di dalam kapal pesiar bisa melihat dan membeli hasil kerajinan tersebut.
Sebagai gambaran, untuk boneka kecil tunggal dalam kotak akrilik ukuran 6x7x13 cm harganya Rp 75 ribu, boneka adat kecil berpasangan dalam kotak akrilik ukuran 6x12x13 cm harganya Rp 125 ribu,dan boneka tari besar dalam kotak akrilik 10x20x34 cm harganya Rp 300 ribu
Pakaian Adat Paling Rumit
Meski masing-masing daerah memiliki pakaian adat, Sukma mengaku tingkat kesulitan membuat boneka pakaian adat antara daerah yang satu dengan yang lain tidak sama.

Pakaian adat yang pembuatannya memiliki tingkat kesulitan tinggi adalah Jawa Tengah dan Sumatera. Untuk panduan membuat pakaian adat, Sukma menjadikan buku dan internet sebagai referensinya.
Pakaian adat yang banyak disukai konsumen adalah Sumatera, Bali, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. “Kalau pakaian adat yang diminta dari Surabaya biasanya tari remo. Untuk pakaian adat Jawa Timur, biasanya yang diminta pakaian khas dari Madura,” paparnya.
Sebetulnya, Dian Collection tak hanya membuat boneka-boneka adat. Sukma mengatakan usaha kecil dan menengah (UKM)-nya siap melayani permintaan konsumen. Selama ini, tak sedikit para pelanggan khususnya dari kalangan instansional yang ada di Surabaya selain memesan boneka pakaian adat juga meminta dibuatkan boneka dengan seragam perusahaan pemesan.
“Misalnya, ada dari rumahsakit yang minta dibuatkan boneka dengan seragam dokter, ada juga dari Pelindo dengan boneka yang berpakaian seragam perusahaan tersebut,” papar wanita yang dalam menggerakkan usahanya dibantu oleh empat orang karyawan.
“Jika ada orderan khusus dengan jumlah banyak saya bisa menambah tenaga kerja lagi,” ungkap Sukma yang mengaku dari bisnis boneka pakaan adat ini meraup omzet Rp 15 juta-Rp 20 juta setiap bulannya.
Sukma juga terima pesanan boneka berpakaian tari daerah (remo, topeng, jaranan dan lain-lain), boneka berbusana Muslim, boneka tangan, boneka jari, boneka berbusana manten, gantungan kunci dan sebagainya.
Menjaga Hubungan dengan Konsumen
Umumnya, hubungan penjual dan konsumen terjalin sebatas transaksi jual beli. Namun tidak demikian dengan pelanggan boneka pakaian adat Dian Collection. Sukma berusaha menjaga hubungan baik dengan pembeli produknya.

Konsumen di mata Sukma memang bukan sekadar pembeli. Lebih dari itu, dari mereka diharapkan kritikan dan saran. Sehingga dengan demikian Sukma bisa tahu langkah apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki boneka-boneka miliknya agar selalu bisa diterima masyarakat.
“Bagi saya, kritik itu sangat penting agar saya bisa memperbaiki dan meningkatkan kualitas produk saya,” tegasnya.
Demikian juga dengan keberadaan pesaing. Meski saat ini di Surabaya, bisnis boneka pakaian adat belum banyak pemainnya, bukan berarti Sukma merasa tenang. Sebaliknya, dia berharap munculnya pemain-pemain baru di bisnis ini diyakini akan membawa dampak positif.
“Saya bisa terpacu untuk terus memperbaiki diri,” imbuhnya.
Ke depan, dia berharap akan banyak UKM yang mempunyai produk yang dengan kekhasannya bukan saja bisa menjadi suvenir bagi para wisatawan asing maupun domestik juga bisa menjadi ‘produk budaya’ Nusantara seperti boneka pakaian adat kreasinya ini.

