Mengenal Lebih Dekat Kota Mekah Ibukota Spiritual Umat Manusia

[sc name="adsensepostbottom"]

Kota Mekah terletak di bagian Barat wilayah kerajaan Arab Saudi. Ia dikelilingi oleh bukit-bukit yang cukup tinggi, terutama di sekitar Ka’bah. Luasnya sekitar 850 km2 dengan penduduk sekitar 1,7 juta.

Kata Makkah disebut beberapa kali dalam Al-Quran sebagaimana disebut juga kata Bakkah. Baik kata Bakkah maupun Makkah diambil dari akar kata bahasa Arab yang berarti ramai dan berkerumun. Makna ini sangat sesuai dengan keadaan kota Mekah, khususnya Ka’bah, terutama pada musim haji. Meski demikian, Mekah menjadi tempat keramaian dan kerumunan bukan hanya terjadi pada musim haji.

Kata Makkah memang memiliki istilah lain yaitu Bakkah. Kata Bakkah ini juga disebut dalam kitab Injil. Yaitu, ketika ada sebuah ayat dalam kitab Genesis yang melukiskan tentang bagaimana Ismail AS diberkati oleh Tuhan karena berjalan menuju suatu lembah yang namanya Bakkah, suatu ilustrasi tentang proses sampainya Ismail AS ke negeri itu. Ada juga yang memahami bahwa kata Bakkah atau Makkah berakar dari kata yang mempunyai arti ‘menghancurkan’, yakni menghancurkan siapa yang bermaksud buruk terhadapnya.

Suhu udara di Mekah sangat panas di musim panas hingga mencapai 50 derajat tetapi sangat dingin hingga mencapai 10 derajat di musim dingin. Dalam kurun waktu yang relatif panjang Mekah merupakan wilayah yang gersang, tandus, dan tidak ditemukan adanya sumber air. Jangankan manusia, pepohonanpun enggan tumbuh.

Di sana, sekitar empat ribu tahun yang lalu, datang seorang hamba Allah yaitu Nabi Ibrahim AS sebelum hijrah membawa istri dan bayi laki-laki mereka yaitu Ismail, inilah permulaan lahirnya kota Mekah. Kendati tanahnya tandus lagi tidak berpenduduk, Nabi mulia itu datang, tidak lain kecuali untuk memenuhi perintah Allah SWT. Tidak lama Beliau tinggal di sana, Nabi Ibrahim kembali mendapat perintah Allah SWT untuk meninggalkan istri dan anak Beliau, bertugas ke Palestina. Nabi Ibrahim AS menitipkan keluarganya kepada Allah SWT di sekitar Baitullah. Beliaupun berdoa bagi kesejahteraan dan keamanan negeri itu dengan memanjatkan doa yang disebutkan dalam Al Quran :

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ

Artinya:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala”. (Ibrahim 35)

Di masa sekarang, doa Nabi Ibrahim semakin tampak nyata dan makbul. Setiap tahun pengunjung kota Mekah terus melimpah dan berlipat ganda. Pada setiap musim haji tidak kurang dari dua juta peziarah datang ke Kota Suci Mekah. Allah SWT menjadikannya kota yang aman sentosa, bukan hanya bagi manusia tapi juga bagi segenap makhlukNya.

Di Kota Suci Mekah, pepohonannya dilarang untuk ditebang, binatangnya tidak boleh diburu apalagi dianiaya. Pepohonan tumbuh subur di area yang dahulu gersang. Buah-buahan melimpah dengan berbagai jenis dan ragam yang didatangkan dari mancanegara, bunga-bunga tumbuh mekar hingga dieskpor ke luar negeri.

Lembah Mekah dalam Al Quran disebut dalam berbagai istilah. Ada istilah albalad al-amin (kota yang aman; negeri yang aman; negeri yang terlindungi). Istilah itu kita temukan dalam rangkaian firman Allah dalam surat At-Tin :

وَٱلتِّينِ وَٱلزَّيۡتُونِ وَطُورِ سِينِينَ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ

Artinya:

Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun. Dan demi bukit Sinai. Dan demi kota (Mekah) ini yang aman

Dalam Al Quran, Mekah disebut juga dengan istilah Ummul Quro, sekarang dijadikan nama sebuah universitas di Mekah yaitu Universitas Ummul Quro, sama persis artinya dengan istilah dalam bahasa Yunani yang sudah menjadi bahasa Indonesia, yaitu metropolitan. Metro artinya ‘ibu’ dan politan artinya ‘kota’.

Mekah merupakan ibukota spiritual umat manusia sebagaimana disebutkan dalam Al Quran :

إِنَّ أَوَّلَ بَيۡتٖ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكٗا وَهُدٗى لِّلۡعَٰلَمِين

Artinya:

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (Al-Imran 96)

Mekah disebut juga al-haram, karena Allah SWT mengharamkan (mensucikan) kota Mekah dan menjadikannya sebagai tanah haram (tanah suci) sejak Allah SWT menciptakan langit dan Bumi. Allah SWT mengharamkan di Mekah apa yang dihalalkan di tempat lainnya, seperti larangan memotong tumbuh-tumbuhan padahal perbuatan itu dibolehkan di tempat lain. Allah SWT mengharamkan peperangan, karena Mekah adalah tanah perdamaian dan Allah SWT mengharamkan mengambil apa-apa yang jatuh atau tertinggal di sana kecuali bagi orang yang mengambilnya untuk dikembalikan kepada pemiliknya atau kepada pihak berwajib.

Al-haramain  (dua tanah haram), yaitu kota Mekah dan Madinah. Masing-masing dari kedua haram itu memiliki batas-batas dari semua arahnya. Beberapa hal yang berada di dua tanah haram itu diharamkan, meski di luar batas-batas tanah haram diperbolehkan.

Tidak ada di muka Bumi suatu tanah haram selain kedua tempat tersebut, bahkan baitul maqdis dan masjidil aqsa tidaklah termasuk tanah haram meskipun keduanya merupakan tempat yang suci. Allah SWT mewajibkan kepada para jamaah haji yang menuju tanah haram, Mekah dan bangunannya, untuk melepaskan pakaian-pakaian mereka (dan menggantinya dengan pakaian ihram) ketika mereka berada di tempat yang masih jauh dari Mekah, agar mereka memasukinya dengan penuh ketaatan dan kekhusyukan dalam rangka memenuhi panggilan Tuhan semesta alam. Orang yang hendak menuju dua Tanah Haram haruslah menggunakan biaya dari harta yang bersih dan baik serta menjaga tatakrama untuk memasuki dan untuk tinggal di kedua tempat tersebut.

Adapun penduduk haramain dan orang-orang yang bertetangga dengan mereka hendaknya menjadi contoh yang baik dalam kesalehan dan ketakwaan serta bersih dari semua yang bisa mendatangkan murka Allah SWT, seperti misalnya merusak keagungan masjidil haram. Rasulullah Saw bersabda, kebaikan yang dilakukan di Tanah Haram Madinah akan dibalas dengan seribu kebaikan, sedangkan kebaikan yang dilakukan di Tanah Haram Mekah dibalas dengan seratus ribu kebaikan. Namun, demikian juga perbuatan yang jelek, akan mendapat hukuman yang berlipat.

Nabi Muhammad SAW bersabda, bahwa sesungguhnya negeri Mekah telah dijadikan sebagai Tanah Suci oleh Allah SWT sejak diciptakannya langit dan bumi. Allah SWT menetapkannya sebagai Tanah Suci hingga hari kiamat, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim.

Tidak dibenarkan bagi siapapun untuk berburu binatang di Tanah Suci, kecuali terhadap binatang buas yang mengganggu atau membahayakan. Tidak juga dibenarkan mencabut pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dengan sendirinya, bukan yang tumbuh karena upaya manusia, meski pepohonan dan tumbuhan itu telah mengering atau mati. Demikian pula, tidak dibenarkan membuang atau membawa sebagian dari tanah atau batu-batuan ke luar Tanah Haram. Dan tidak dibenarkan memungut suatu barang kecuali untuk diumumkan siapa pemiliknya. Inilah sebagian keistimewaan Tanah Haram makkah almukarramah. Karena itu sangat wajar jika Allah SWT bersumpah dengan kota Mekah, kota haram (suci) itu :

لَآ أُقۡسِمُ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ وَأَنتَ حِلُّۢ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ

Artinya:

Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (mekkah), walaupun engkau (wahai Muhmmad) tinggal di sana (dan dihalalkan oleh kaum musyrikin perlakuan yang tidak wajar terhadapmu)” (Al- Balad 1-2)

Perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW dalam mengemban risalah kenabian, dilewati dengan penuh perjuangan dan pengorbanan. Memang ketika itu kaum Musyrikin di Mekah melecehkan kehormatan Beliau. Namun Allah SWT melalui firman-Nya menyatakan bahwa, “Kota Mekah tetap agung di sisi-Ku, walaupun Nabi yang kucintai diperlakukan  secara tidak wajar. Karenanya, engkau pun wahai Muhammad harus tetap mengagungkannya, walaupun mereka telah melampaui batas dalam penganiayaan terhadapmu”.

Para jamaah yang beribadah ke Mekah boleh jadi akan mendapatkan perlakuan tidak wajar dari penduduk setempat atau dari sesama jamaah pendatang. Keberadaan orang yang demikian itu banyak disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya karena  benturan kepentingan, cuaca yang kurang baik, adat istiadat yang berbeda, kelelahan fisik, dan sebagainya. Semua itu dapat melahirkan ketersinggungan dan ketidaknyamanan, bahkan dapat menimbulkan perlakuan tidak wajar yang kemudian memunculkan kemarahan.

Tidak jarang perlakuan tidak wajar itu datang dari penduduk kota Mekah atau dari para sesama tamu Allah SWT lainnya yang datang ke kota Mekah. Kondisi itu kadang mengakibatkan seseorang meremehkan kota dan jera untuk mendatangi lagi Tanah Haram. Namun ayat di atas mengandung pesan bahwa apa pun yang dihadapi atau dialami selama berada di tanah haram, jangan sampai kesalahan dan kemarahan ditumpahkan ke Kota Suci itu. Bukankah Allah SWT dan RasulNya tetap mengagungkannya walaupun penganiayaan yang berat terhadap Rasulullah SAW pernah terjadi di kota Mekah.

Allah SWT menyebut kota Mekah dengan kata balad (kota) yang menggunakan kata hadza, yang berarti ‘ini’. Yakni kata yang digunakan untuk menunjuk sesuatu yang dekat. Kota Mekah, memang selalu dekat di hati bagi orang-orang yang beriman, sehingga selalu saja hati mereka rindu mendatanginya. Walapun telah berulang-ulang berkunjung, hati seorang Mukmin selalu saja lekat dan masih terus terpaut dengan kota Mekah, bahkan sesorang selalu merasa dipanggil untuk kembali mendatanginya. Itulah salah satu buah dari doa Nabi Ibrahim AS :

رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡ‍ِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ

Artinya:

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (Ibrahim: 37)

Di Mekah, pahala amal perbuatan dilipatgandakan oleh Allah SWT, namun demikian pula dosa perbuatan buruk. Yang dimaksud dengan melipatgandakan balasan bagi perbuatan buruk bukan kuantitasnya, tetapi kualitas dari keburukan, sehingga kualitas siksaannya lebih pedih, sebagaimana Allah SWT berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ ٱلَّذِي جَعَلۡنَٰهُ لِلنَّاسِ سَوَآءً ٱلۡعَٰكِفُ فِيهِ وَٱلۡبَادِۚ وَمَن يُرِدۡ فِيهِ بِإِلۡحَادِۢ بِظُلۡمٖ نُّذِقۡهُ مِنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ

Artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah SWT dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (Al- Hajj 25)

Nabi Ibrahim lahir pada abad ke-18 Sebelum Masehi di Babel, atau Ahwaz, sebuah wilayah di Irak. Dalam kitab Perjanjian Lama disebutkan bahwa ayah Beliau bernama Tarih. Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, Al Quran menyebut nama Azar sebagai abihi yang secara harfiah berarti ayahnya, tetapi banyak ulama yang memahami kata tersebut dalam arti pamannya, karena Azar adalah seorang pembuat berhala dan menjualnya kepada para penyembah. Prof. Quraish menilai, dalam Al Ouran, Azar disebut sebagai “musuh Allah”:

وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ

Artinya:

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk Bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada Bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa Bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (At-Taubah 114)

Berdasarkan penuturan Al Quran, sejak masa muda Nabi Ibrahim AS sudah sedemikian kuat keyakinannya tentang Tuhan Yang Maha Esa dan demikian kokoh pula kebenciannya terhadap pemujaan berhala. Pada usia itulah Beliau mengambil kapak untuk menghancurkan berhala-berhala yang disembah kaumnya dan meninggalkan satu yang terbesar sambil meletakkan kapaknya di sisi berhala besar itu. Ketika ditangkap, Beliau ditanya oleh pemimpin-pemimpin kaumnya, “Siapa yang menghancurkan berhala-berhala itu?” Nabi Ibrahim AS menunjuk kepada satu berhala besar yang sengaja tidak dihancurkan seraya berkata, “Bertanyalah kepadanya!” Jawaban itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa berhala-berhala tersebut, jangankan memberi manfaat, menampik mudharat atas dirinya sendiripun tak mampu. Diriwayatkan dalam Al Quran :

وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ   إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ  قَالُواْ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا لَهَا عَٰبِدِينَ قَالَ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ قَالَ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ

Artinya:

Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya? Mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata” Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main? Ibrahim berkata: “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu” Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.” (Al-Anbiya 51-57)

Penguasa di zaman itu yang konon bernama Namrud berusaha membakar Ibrahim AS, tetapi Allah SWT menyelamatkan Beliau dengan memerintahkan api menjadi dingin :

  قُلۡنَا يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ

Artinya:

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (Al-Anbiya 69)

Setelah peristiwa ini, Beliau hijrah ke kota Ur di pantai barat sungai Eufrat, Irak, yang ketika itu berada di bawah kekuasaan orang-orang Kaldan. Dalam perjalanannya itu Nabi Ibrahim AS disertai oleh istri dan beberapa pengikutnya yang setia. Sekian lama di sana, Beliau pun hijrah lagi ke wilayah orang Kan’an di suatu kota yang kini bernama Naples. Dari sana Nabi Ibrahim AS dan istrinya meneruskan perjalanan lagi ke Mesir pada masa kekuasaan Heksos. Beberapa sejarawan menduga bahwa ketika itu usia Nabi Ibrahim AS telah mencapai 86 tahun.

Kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk membawa istrinya Hajar dan bayinya ke Mekah. Dan karena tak lama kemudian kembali Beliau mendapat perintah Allah SWT untuk pergi ke Palestina tanpa istri dan anaknya, maka Beliau pun ‘menitipkan’ keluarganya itu kepada Allah SWT sambil berdoa :

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ  رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضۡلَلۡنَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِۖ فَمَن تَبِعَنِي فَإِنَّهُۥ مِنِّيۖ وَمَنۡ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ  رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡ‍ِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ

Artinya:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”  (Ibrahim: 35-37)

Demikianlah, suatu catatan yang perlu digarisbawahi adalah kepatuhan Nabi Ibrahim AS yang sangat besar kepada Allah SWT, meski kepadanya diperintahkan membawa anak satu-satunya, Ismail dan istri tercinta, Siti Hajar untuk tinggal di satu wilayah gersang dan tidak berpenduduk, yaitu Mekah. Ketika kemudian Beliau harus kembali ke Kan’an dan bermukim di sana, Nabi Ibrahim AS menitipkan anak dan istri Beliau kepada Allah SWT, dalam naungan Baitullah (Ka’bah). Keduanya harus berada di Mekah yang tidak berpenduduk dan tandus itu. Namun Nabi Ibrahim AS acapkali ke Mekah untuk mengunjungi anak dan istrinya. Ketika Ismail sudah beranjak dewasa, ayah dan anak ini bahu-membahu meninggikan pondasi Ka’bah. Batu pijakan Nabi Ibrahim AS ketika membangun kembali dan meninggikan pondasi Ka’bah, sekarang masih dapat kita lihat, terletak tak jauh dari Ka’bah, yaitu di tempat yang dikenal sebagai Maqam Ibrahim. Pada batu tersebut terdapat bekas tapak kaki Nabi Ibrahim AS. Pada usia 175 tahun Nabi Ibrahim AS wafat dan dimakamkan di kota al-Khalil atau Hebron, Palestina.

Bagi rekan – rekan mysharing yang mau menunaikan ibadah umrah kini  CahyaMadina Tour and Travel siap membantu perjalanan spiritualmu dengan aneka paket umrah terjangkau dan berkualitas dengan kembali mengadakan penyelenggaraan program umrah tahun 2018. Periode keberangkatan mulai dari Februari 2018 sampai 28 Maret 2018.

Sebagai bukti keseriuasan dalam menyelenggarakan umrah, Cahya Madina pun bekerjasama dengan maskapai terbaik & Ustad pembimbing yang berpengalaman dan merupakan ketua bidang dakwah MUI pusat KH. M Cholil Nafis, Lc. MA.

Informasi lebih lanjut tentang paket umrah yang ditawarkan oleh First Travel bisa diakses langsung di situsnya www.cahya99.com atau melalui nomor telepon 021-7190 606; 7900 900; Handphone : 0822 47900 900, dan email salam@cahyamadina.com Semoga bermanfaat, ya.