kerajinan eceng gondok
Salah satu produk kerajinan eceng gondok. Foto: Hardinah Sistriani

Mengolah Limbah Eceng Gondok, Mendulang Rupiah

[sc name="adsensepostbottom"]

Bisnis dan penyelamatan lingkungan jelas kegiatan yang berbeda. Namun bukan berarti keduanya tak bisa berjalan seiring. Contohnya bisnis limbah eceng gondok ini.

kerajinan eceng gondok
Salah satu produk kerajinan eceng gondok CV Rizqan Mufidah, Surabaya. Foto: Hardinah Sistriani

Pasangan suami istri Supardi (47) dan Wiwit Manfaati (47) membuktikan hal itu. Lewat bendera CV Rizqan Mufidah, Supardi dan Wiwit mendulang rupiah lewat produk-produk yang dihasilkan dari mengolah limbah eceng gondok dan pelepah pisang.

Di bagian halaman rumah pasutri ini tampak tumpukan limbah eceng gondok dan pelepah pisang yang sudah kering. Bahan baku inilah yang mereka ‘sulap’ menjadi barang yang mempunyai nilai ekonomis.

Di ruang tamu yang merangkap ‘etalase’ hasil karya mereka, tampak sejumlah barang yang siap dijual maupun yang masih membutuhkan sentuhan finishing. Ada tempat tisu, tatakan gelas, tudung saji, tas wanita, penyekat ruangan, meja, kap lampu, penyekat ruangan dan masih banyak lagi lainnya. Semuanya terbuat dari bahan dasar eceng gondok yang dimodifikasi dengan pelepah pisang dan sulaman pita sebagai aksennya.

Wiwit Manfaati mengawali perjalanan bisnisnya sebagai kader lingkungan di tempat tinggalnya yang digelutinya sejak 2006. Setahun kemudian wanita berjilbab ini mengikuti pelatihan pemanfaatan eceng gondok menjadi beragam produk kerajinan yang diadakan Persatuan Istri Pumawirawan (Perip) Jatim di Kelurahan Kebraon, Surabaya, tahun 2007.

Pelatihan ini langsung membuat dirinya tertarik. Maklum, sejak kecil dia punya hobi yang tak jauh dari bidang ketrampilan tangan, yakni sulam menyulam pita. Dia takjub dengan kerajinan anyaman limbah enceng gondok yang terlihat bagus dan rapi.

“Awalnya, hasil anyaman saya jelek. Setelah 8 kali belajar akhirnya berhasil. Dari situlah produk yang saya buat akhirnya dilirik tetangga sekitar. Dan saya akhirnya mulai berani menjual hasil karya saya yang pertama,” kata Wiwit.

Saat gencar-gencarnya acara lomba penghijauan pada tahun 2008 silam, Kelurahan Kebraon RW 13 Surabaya memanfaatkan kerajinan limbah eceng gondok sebagai produk unggulan. Dari itulah Pemkot mulai paham bila kerajinan eceng gondok bisa dijadikan produk Usaha kecil Menengah (UKM) yang memberikan nilai ekonomis.

“Pertama kali ditawari pameran di Gramedia Expo kami merasa minder, karena produk dari peserta lain bagus-bagus. Sementara kami merasa produk kami jelek. Tapi karena dipaksa oleh panitia penyelenggara kami pun ikut. Ternyata produk kami laku. Sebagai perajin baru, kami banyak mendapat perhatian termasuk dari media massa. Berbagai instansi pun mendukung usaha ini untuk menjadi produk unggulan yang menarik,” jelas pria asal Jombang ini.

Sejak itu, berbagai pameran maupun event baik skala provinsi maupun nasional sering diikutinya. Melihat Wiwit yang begitu sibuk, akhirnya sang suami yaitu Supardi memutuskan untuk ikut terjun membantu usaha ini.

Di awal-awal usahanya, Wiwit mengolah bahan eceng gondok menjadi beragam tas wanita yang diberi hiasan bunga dan pemandangan alam dari bahan yang sama, kemudian berkembang dimodifikasi dengan karung goni, dan lukis. Sampai di sini Wiwit merasa belum puas dengan karya-karyanya. Akhirnya, dia mencoba memadukan dengan keterampilan yang dia kuasai selama ini yakni sulam pita. Ternyata pasar sangat menyukai produk-produk terbarunya itu.

Sulam pita ini sekaligus menjadi ciri khas produk Wiwit, selain anyaman eceng gondoknya yang lebih kecil dan rapat, dibanding pesaing yang sama di bisnis ini. “Cukup dengan melihat hasil anyaman dan hiasan sulam pitanya, bukan hanya saya, konsumen yang sering memakai produk saya pun tahu bahwa itu made in kami,” kata Wiwit yang mengaku mengawali bisnis ini dengan modal tak lebih dari Rp 200 ribu.

Sebagai perajin, Wiwit mengaku tidak berhenti belajar memperbarui produknya agar bisa mengikuti selera pasar. Misalnya untuk desain, Wiwit memanfaatkan keikutsertaan pameran sebagai ajang untuk mencari ilmu ke para perajin yang lain.

Terkadang produk baru buatannya dihasilkan dari ‘kecelakaan’. Wiwit mengambil contoh menunjuk tudung saji yang ada di depannya. Semula dia ingin membuat ‘penutup’ buah-buahan. Namun karena kebesaran, akhirnya barang itu lebih pas untuk tudung saji ketimbang tutup buah.

Berapa omzet per bulan? Baik Wiwit maupun Supardi tidak bisa memberikan angka pasti, karena pemasarannya sendiri dari berbagai cara. Selain mejeng di ruang pamer Dekranasda Pemkot Surabaya dan Jawa Timur, mereka juga sering mengikuti pameran. “Untuk sekali pameran kami bisa mendapat Rp 9 juta- Rp10 juta,” ungkap Supardi, yang menjadi pengajar di pelatihan Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Surabaya.

Meski selama bulan Ramadhan ini tidak mengikuti satu pun event pameran, bukan berarti ada penurunan omzet. Sebaliknya, Wiwit mengungkapkan omzet mereka selama Ramadhan ini mengalami kenaikan hingga 50 persen. Kenaikan itu salah satunya karena barang kerajinannya dijadikan isi bingkisan parcel.

“Semula, kami mengira 10 hari terakhir ini sudah tidak ada kegiatan produksi, tapi perhitungan kami salah. Permintaan justru mengalir deras sampai minggu terakhir,” kata wanita kelahiran 15 April 1967 ini.

Sulit Tenaga Kerja

Dalam menjalankan roda bisnis limbah eceng gondok ini, Wiwit dan Supardi dibantu oleh 13 tenaga kerja. Sebetulnya jumlah tersebut masih kurang. Namun mereka mengakui tak mudah untuk merekrut tenaga kerja yang mau menggeluti bisnis anyaman limbah eceng gondok ini. Buktinya, tak sedikit SDM (sumber daya manusia) yang keluar masuk di UKM-nya. “Mereka cepat mutung, kerajinan ini memang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan,” papar Wiwit.

Dalam merekrut tenaga kerja, keduanya tidak terlalu memberikan persyaratan ketat. Semua tenaga kerja itu merupakan wanita yang sebelumnya ditraining lebih dulu mengenai cara menganyam eceng gondok. Setelah dinyatakan ‘lulus’, mereka boleh mengerjakan pekerjaannya di rumah dan tinggal setor kalau sudah jadi. Selanjutnya, produk ‘setengah jadi’ itu akan melewati tahap ‘pemutihan’. Setelah itu baru diberi hiasan sulam pita untuk produk-produk alat rumah tangga hingga aksesoris, seperti tempat tisu, tatakan, tudung saji, dan sebagainya.

Untuk mengajak orang agar tertarik dengan kerajinan enceng gondok ini, Supardi dan istri sering diminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemkot Surabaya menjadi instruktur pelatihan kerajinan enceng gondok. Harapan Supardi, orang-orang yang dilatih itu bisa menjadi perajin kemudian direkrut sebagai tenaga untuk memajukan usaha kerajinan limbah eceng gondok, terutama di Surabaya.

Supardi dan Wiwit juga didapuk menjadi pelatih kerajinan tangan di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Surabaya, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Surabaya, Dinas Koperasi Surabaya. Selain itu, beberapa Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) juga turut mengakui kreativitas mereka.

Impikan Workshop

Wiwit dan Supardi bersyukur, dalam menggerakkan roda bisnis handycraft ini, mereka relatif tidak dibebani oleh kredit bank maupun dana bergulir meski dengan bunga ringan. Namun demikian, bicara soal pengembangan usaha ke depan, mereka mengakui saat ini sangat membutuhkan kucuran dana segar.

“Kami punya obsesi bisa punya rumah yang berfungsi sebagai workshop. Selama ini, tempat produksi sekaligus gudang terpisah dari rumah kami. Sehingga kami harus hilir mudik dari rumah ke tempat kontrakan yang menjadi tempat produksi. Ini khan tidak efektif. Ke depan, kami impikan punya workshop yang letaknya bersebelahan dengan rumah kami,” papar ibu tiga anak ini.

Impian yang lain, mereka ingin mempunyai rumah kompos sebagai tempat untuk mengolah limbah eceng gondok.

Bagi keduanya, bisnis memang bukan sekadar bicara untung rugi. Tapi sekaligus ikut menyelamatkan lingkungan di sekitarnya. Tak sia-sia mereka menjadi kader lingkungan!