Setelah dapat kembali kesucian fitrah, umat Muslim harus menjaga agamanya dengan konsisten beribadah, tidak hanya saat bulan suci Ramadhan saja.

Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin AF menuturkan, setelah menjalani ibadah Ramadhan satu bulan penuh, dengan kesungguhan, landasan keimanan dan ihtisaban, dengan iklas mengharapkan ridho Allah SWT semata. Maka, akan diperoleh hasil yang telah dicanangkan oleh Allah SWT :”La’allakum tattaquun”.
“Menjadi orang yang bertaqwa, Insya Allah. Bahkan akan diampuni semua dosa-dosa yang lalu, sehingga dapat kembali pada kesucian fitrah, seperti anak bayi yang dilahirkan ibunya. Bersih dari dosa maksiat,” kata Hasanuddin, dikantor MUI Pusat Jakarta, Selasa (14/7).
Ia menjelaskan, bahwasan setelah melatih mengendalikan diri dari hawa nafsu dengan berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, umat Muslim menjalankannya dengan baik dan iklas, niscaya akan dapat kembali kepada kesucian fitrah, dengan Idul Fitri. “Yakni fitrah manusia yang suci dari noda dan dosa. Karena diampuni dosa-dosanya, Insya Allah. Ini merupakan makna dari Idul Fitri yang sebenarnya,” ujarnya.
- CIMB Niaga Syariah Perluas Akses Layanan Perbankan Syariah di Bogor, Resmikan Digital Branch
- CIMB Niaga Syariah Luncurkan Program Jumat Baik, Perkuat Komitmen Melangkah Sesuai Kaidah
- Bank Muamalat Catat Pertumbuhan Volume Transaksi Ziswaf 24,75% via Muamalat DIN
- BSI Fest Ramadan 2026 Digelar di 9 Kota Besar, Tawarkan Diskon Umroh
Dalam Islam, kata Hasanuddin, diyatakan setiap anak manusia dilahirkan ibunya dalam kondisi fitrah, suci dan bersih, tanpa noda dan dosa. Tidak menanggung apa yang disebut dosa warisan seperti yang mungkin dikatakan dalam keyakinan agama lain.
Hasanuddin pun menyebutkan, hadist Nabi saw yang bermakna :”Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya akan diampuni dosa-dosanya di masa lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Adapun dalam riwayat hadist yang lain disebutkan pula:”Sesungguhnya Allah mewajibkan puasa Ramadhan dan aku menyunnahkan bagi kalian shalat malamnya. Maka, barang siapa melaksanakan ibadah puasa dan shalat malamnya karena iman dan karena ingin mendapatkan pahala, niscaya dia keluar dari dosa-dosanya sebagaimana saat ia dilahirkan oleh ibundanya.” (HR. Imam an-Nasa dan Imam Ahmad).
Hasanuddin pun mengingatkan, setelah dapat kembali kepada kesucian fitrah, maka kita sebagai umat beriman, tentu harus menjaga agamanya, jangan dikotori lagi. Menjaga itu, kata Hasanuddin, adalah dengan melanjutkan semua aktivitas ibadah yang telah dilakukan selama Ramadhan, sebagai upaya penyucian fitrah tersebut. Seperti dengan terus menahan hawa nafsu dari yang diharamkan dalam agama.
Melanjutkan kebiasaan shalat sunah malam, tilawah, tadabdur dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an dan lainnya. Jadi bukan hanya aktif ibadah di bulan Ramadhan saja, tapi juga harus diteruskan dengan istiqomah selama sebelas bulan berikutnya setelah Ramadhan. Termasuk yang paling penting dalam menjaga kesucian fitrah ini adalah dengan konsisten menjaga konsumsi makanan, obat-obatan dan kosmetika, serta menjalankan hidup harus dengan yang halal secara Kaaffah. “Karena ini telah diperintahkan Allah SWT dan Rasulullah, dengan demikian merupakan kewajiban agama yang harus dijalankan umat Muslim,” tukasnya.
Karenanya, lanjut Hasanuddin, mengkonsumsi yang tidak halal itu dilarang dalam Islam. Sebagai perbuatan haram, bila dilakukan dengan sengaja, berarti melanggar ajaran agama. Jelas dosa dan menodai kesucian fitrah yang telah diraih dengan ibadah Ramadhan.

