Sebuah karikatur berjudul “Bagaimana Si Kancil Bisa Sampai ke Sandang Pangan” yang diimuat di Koran Bintang Timur 25 Januari 1960, menggambarkan seekor kancil berkepala manusia yang hendak menyeberang ke sebuah pulau berisi sandang pangan.

Namun anehnya, pada jalur laut menuju ke pulau sandang pangan tersebut berjejer belasan buaya yang bertuliskan “pajak, tengkulak, koruptor, birokrat, penipu, bajingan” dan sebagainya. Karikatur klasik itu merupakan sindiran terhadap kondisi riil yang menimpa rakyat Indonesia diawal tahun 1960 yang memang kesulitan untuk bisa mendapatkan sandang dan pangan yang layak pada jaman susah tersebut.
Pada karikatur lainnya yang berjudul “Menjelang Asian Games, Harga Seperti Ikut Berlomba Lari” yang juga dimuat di Koran Bintang Timur namun pada tanggal yang berbeda (16 Januari 1960), mengilustrasikan sesosok bayangan hitam yang dilabeli dengan tulisan “setan”, sedang berlari kencang dengan membawa beberapa barang bertuliskan “benzin, minjak, textile, beras”. Sementara sepasang suami istri muda terlihat berusaha mengejar setan tersebut, namun mereka tak mampu mengimbangi kecepatan lari si setan, sehingga si ibu muda itu sampai harus jatuh tersungkur.
Karikatur tersebut juga menggambarkan situasi bangsa Indonesia menjelang penyelenggaraan ASIAN Games 1962, dimana Indonesia menjadi tuan rumah pada saat itu. Meski penyelenggaraan ajang tersebut dianggap prestisius dan mengangkat nama bangsa Indonesia, namun demikian rakyat kecil Indonesia di masa itu sedang pada “berpuasa”, karena situasi ekonomi bangsa juga sedang sulit. Karikatur tersebut juga menyindir pemerintahan pada masa itu, karena di saat rakyat kebanyakan di tanah air sedang mengalami kehidupan yang sulit, namun Pemerintah masih sempat-sempatnya menggelar perhelatan Asian Games yang dianggap menghabiskan banyak biaya.
Kedua karikatur di atas adalah karya dari maestro karikatur Indonesia – Agustin Sibarani (89 tahun), yang karya-karya legendarisnya itu saat ini sedang dipamerkan di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI. Sebanyak 129 karikatur klasik karya Augustin Sibarani yang pernah dimuat di Harian Bintang Timur terbitan 1956-1964, memang tengah dipajang di Perpusnas mulai 15 September 2014 lalu hingga 15 Oktober 2014 mendatang dalam perhelatan bertajuk “Hitam Putih Indonesia dalam Goresan Agustin Sibarani – Pameran Koleksi Perpustakaan Nasional RI”.
Selain acara pameran tersebut, juga digelar seminar dengan judul yang sama yang membahas kiprah, pengabdian dan karya-karya Agustin Sibarani sebagai maestro karikatur di Indonesia. Acara pameran dan seminar ini sendiri digelar oleh Perpusnas RI dalam rangka Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca di tahun 2014.
“Perpustakaan Nasional menampilkan karikatur Augustin Sibarani yang masih bisa direproduksi. Kurator pameran ini adalah Sanggam Gorga Sibarani yaitu anak dari Augustin Sibarani,” ujar Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas RI – Welmin Sunyi Ariningsih pada saat pembukaan pameran karikatur ini di gedung Perpusnas RI, Jakarta (15/9).
Welmin mengakui pihaknya sangat mengapresiasi kiprah Agustin Sibarani sebagai pelopor karikatur Indonesia. Hal itulah yang mendasari Perpusnas RI melakukan kegiatan pameran dan seminar tentang tokoh yang satu ini. “Melalui karikatur, kita bisa menyampaikan kritik yang jenaka dan lebih santun daripada kritik dengan kata-kata frontal yang sudah tentu bukanlah akar budaya kita. Itulah yang dilakukan oleh Agustin Sibarani,” jelas Welmin.
Karikaturis pembenci praktik korupsi
Agustin Sibarani sendiri diakui oleh para karikaturis nasional maupun internasional sebagai bapaknya karikatur Indonesia. Karya-karya karikatur Agustin Sibarani yang dikenal nakal, liar dan lincah, banyak sekali merekam jejak-jejak rentetan sejarah bangsa Indonesia sejak zaman era di awal kemerdekaan Indonesia, bahkan sampai ke era reformasi. Pesan, dan kritik dari Agustin Sibarani diungkapkannya secara lugas, dan tanpa mengenal kompromi pada karya-karya karikaturnya yang sangat khas.
Kartunis dan karikaturis harian Sinar Harapan – Pramono R. Pramoedje di momen seminar tentang Agustin Sibarani ini mengungkapkan, bahwa Agustin Sibarani adalah sosok yang membenci praktik korupsi, kesewenangan, kolonialisme, monopoli, oligopoli, oligarki dan apapun yang sifatnya menindas. “Kebenciannya pada penindasan seperti itu melahirkan karya-karya yang berani dengan tarikan garis yang tegas , bersifat menyindir dan bahkan “menunjuk hidung langsung” orang-orang yang dikritiknya. Dengan gaya seperti ini, karikatur Sibarani tidak akan bisa diterima di masa ketika negara dipimpin secara otoriter seperti masa orde baru,” papar Pramono.
Karya-karya karikatur dari Agustin Sibarani sendiri pada era 1950-an hingga awal 1970-an tersebar di sejumlah penerbitan dan sering menjadi perbincangan orang. Karena masalah politik, Agustin tidak bisa mengirimkan karikaturnya ke media massa di dalam negeri waktu itu. Namun demikian, ia terus berkarya dan hasilnya dimuat di sejumlah media luar negeri seperti Le Monde, Reporters Sans Frontiers serta L’Humanite (Perancis), Jurnal Indonesia (Cornell University, Amerika Serikat).
Di era tahun 1980-an, Agustin Sibarani juga sempat mendapat ajakan untuk ikut dalam pameran besar karikatur di Ancol yang diselenggarakan oleh Lembaga Humor Indonesia. Namun Harmoko sebagai Menteri Penerangan saat itu melarang keras Agustin untuk turut serta dalam pamerandi era orde baru itu.
Sempat terlihat vakum di era 1980-an dan 1990-an, namun pada sekitar tahun 1998, Agustin Sibarani mulai membuat karikatur lagi yang disebarkan “di bawah tangan” melalui fotokopi di kalangan teman baik di Indonesia, Perancis dan Amerika. Karikaturnya dimuat di sejumlah media Perancis, seperti Le Monde Diplomatique, Humanite, dan La Lettrede.
Karikaturnya juga terlihat di internet, dan sampai ke negeri Adidaya – Amerika Serikat, dan dimuat di jurnal Indonesia terbitan Universitas Cornell. Dan begitu Orde Baru jatuh, Agustin baru bisa menerbitkan bukunya, yaitu “Karikatur dan Politik” (2001). Dalam buku itu dimuat pula karikatur-karikatur “bawah tanah” Agustin.
Dan pada pameran Hitam Putih Indonesia dalam Goresan Agustin Sibarani Perpusnas RI ini, bisa terlihat goresan karya-karyanya yang merekam rentetan kejadian yang terjadi di tanah air pada saat era Presiden Soekarno berkuasa, yakni di era 1950-an dan era 1960-an.
Kritik-kritik Agustin Sibarani yang tajam dan tanpa kompromi, namun juga lugas dan bernas didalam mengungkapkan sisi-sisi kebenaran itu, terlihat pada garis-garis tegas dalam karikaturnya.
Beberapa karikatur Agustin Sibarani era tahun 1950-an dan 1960-an yang dipamerkan di Perpusnas RI ini, juga bisa dianggap masih relevan dengan konteks Ke-Kinian Indonesia pada masa sekarang. Seperti karikaturnya yang berjudul “Pemilihan Anggota DPN, Jangan Dagang Sapi” yang bisa dikaitkan dengan konteks berbagai pemilihan pejabat di Indonesia pada saat ini.
Atau karikatur Agustin bertajuk “Demokrasi Terpimpin dan Kebebasan Menyatakan Pendapat” yang bisa up-date dengan kondisi terkini di tanah air, yang sedang sibuk saling silang pendapat mengenai pelaksanaan Pilkada, apakah secara langsung, atau melalui DPRD.
Anda tertarik untuk bisa melihat secara langsung hasil karya karikatur goresan tangan Agustin Sibarani yang legendaris itu? Silakan datang langsung ke Perpusnas RI di bilangan Salemba, Jakarta Pusat. Namun karena pameran ini juga dilaksanakan secara on line, maka karya-karya Agustin Sibarani tersebut juga bisa diakses melalui situs www.pnri.go.id/www.perpusnas.go.id.

