Mualaf Center New York yang digagas oleh Gerakan Dakwah Islam Global tak hanya akan menjadi pusat pembinaan mereka yang baru masuk Islam. Apa saja kegiatan lainnya?

Presiden Nusantara Foundation Shamsi Ali, mengatakan tantangan terbesar bagi mualaf terkadang adalah tidak terbina dengan baik, sehingga kembali ke dunia lama. “Mereka tidak sampai murtad, tapi perilakunya kembali ke sikap lama, seperti Mike Tyson yang tetap berkelahi dan berjudi,” tukasnya.
Ia menuturkan para mualaf memiliki semangat mempelajari Islam yang baik, namun jika tidak dibarengi dengan ilmu yang cukup akan menjadi sangat berbahaya. “Karena itulah keberadaan Mualaf Center sangat penting karena tidak hanya untuk menjaga Islam mereka, tapi juga untuk menjaga perilaku mereka,” kata Shamsi. Baca: Kemenag Dorong BMH Bina Muallaf
Shamsi menambahkan kehadiran Mualaf Center pun nantinya tak hanya akan sebagai pusat pembinaan para mualaf, namun juga pusat pembinaan da’i dari kalangan orang Amerika. “Kalau saya yang seorang pendatang berdakwah mungkin tidak semua mendengarkan, tapi kalau orang Amerika yang berdakwah kepada orang Amerika lainnya itu sangat efektif,” jelasnya. Baca: Penasaran Soal Islam, Masyarakat Colorado Sesaki Masjid
Selain itu, ia melanjutkan Mualaf Center pun akan menjadi pusat pengkaderan imam dan ulama dari kalangan Amerika karena mereka paling paham dengan keadaan sosial dan kultur masyarakat setempat. “Kalau yang pendatang mungkin hafal Al Quran dan hadits, tapi tidak tahu kultur masyarakat di sana, sehingga ada kesenjangan (gap). Nah, kehadiran Mualaf Center untuk mengisi gap itu,” pungkas Shamsi.
Mualaf Center menjadi proyek pertama kampanye “Telling Islam to The World: Gerakan Dakwah Islam Global”. Kampanye ini, yang baru saja diluncurkan akhir pekan lalu, diinisiasi oleh Dompet Dhuafa, Nusantara Foundation, Urban Syiar Project dengan didukung oleh El Hijab.

