Muhammadiyah sebagai kekuatan ekonomi umat terus didorong untuk maju. Bukan hanya sekedar memberikan kontribusi dalam pemikiran ekonomi kepada pemerintah sebagai sebuah kebijakan. Tapi juga harus mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan sektor riil dan memiliki dampak terhadap pertumbuhan ekonomi.

Untuk itu pakar ekonomi Muhammadiyah dan sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) – Prof Dr Bambang Setiadji, meminta Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk membuat kebijakan pendirian industri mobil dan otomotif Muhammadiyah.
“Untuk mendirikan industri tersebut, UMS siap untuk melakukan konsolidasi. Dan tinggal apakah PP Muhammadiyah bersedia atau tidak dalam membuat kebijakan tersebut,” ujar Bambang Setiadji dalam acara seminar dan lokakarya nasional Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyah bertajuk “Cetak Biru Gerakan Ekonomi Muhammadiyah” yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), Sumatera Selatan. Sabtu (6/5/2015).
Menurut Bambang Setiadji, potensi Muhammadiyah dalam mengembangkan industri mobil dan otomotif sangat memungkinkan dan marketnya ada. Semua amal usaha Muhammadiyah tiap tahunnya selalu melakukan pengadaan terhadap mobil dan motor dan itu jumlahnya sangat banyak. Jika ini bisa dikoordinasi dan terintegrasi dengan baik tidak ada kata tidak mungkin Muhammadiyah tidak bisa mendirikan industri mobil dan otomotif.
- KB Bank Syariah Gelar Aksi CSR Serentak, Perkuat Kontribusi Sosial se-Indonesia
- Sambut Idulfitri 1447 H, Bank Muamalat Optimalkan Layanan Kantor Cabang dan Digital
- Royco dan Masjid Istiqlal Berbagi Kelezatan untuk Hangatkan Momen Kebersamaan di Ramadhan
- BSI Fasilitasi UMKM Go Digital dan Go Global Melalui Ajang Expo
Untuk mendirikan industri tersebut, lanjut Bambang Setiaji, tidak terlalu sulit. Bahkan UMS sendiri yang banyak melahirkan para teknokrat rekayasa terhadap industri mobil dan otomotif dan tidak kalah dengan sistem industri mobil dan otomatif dari Tiongkok. Selain itu juga, Muhammadiyah saat ini memiliki 32 fakultas teknik diberbagai Universitas Muhammadiyah yang tersebar diberbagai provinsi. Ratusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah jurusan teknik mesin dan otomotif. Hal ini jika diintegrasikan sangat mudah mendirikan industri mobil dan otomotif.
“Maka dari itu dalam muktamar Muhammadiyah di Makasar pada bulan Agustus 2015, Muhammadiyah harus mengeluarkan kebijakan ini,”ujar Bambang.
Lebih lanjut menurut Bambang Setiadji, guna mendirikan industri mobil dan otomotif, saat ini Muhammadiyah sudah memulai seperti SMK Muhammadiyah Magelang, Jawa Tengah dengan membuat mobil Esemka. Bahkan ada SMK Muhammadiyah yang bisa membuat mobil tenaga surya. Bambang meminta, hal ini harus didukung dan menjadi kebijakan ekonomi Muhammadiyah. Demikian Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) – Prof Dr Bambang Setiadji.

