Presiden Jokowi saat berkunjung ke kedai kopi "Tuku" di Jalan Cepete Raya, Jakarta Selatan, Minggu (2/7). foto: dok. Muhammadiyah.

Muhammadiyah : Kehadiran Jokowi ke Kedai Kopi Tuku Patut Diapresiasi

[sc name="adsensepostbottom"]

Kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu ibarat oase yang memberi harapan dan motivasi dalam membangkitkan usaha start-up.

Presiden Jokowi beserta keluarga singgah di kedai kopi ”Tuku” yang berada di Jalan Cipete Raya, Jakarta Selatan, pada Minggu (2/7) patut diapresiasikan. Pada kesempatan kunjungannya itu, Jokowi menyeluput secangkir ”Kopi Susu Tetangga” buatan kedai kopi tersebut. .

Wakil Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) PP Muhammadiyah, Mukhaer Pakkanna menilai bahwa langkah itu merupakan wujud keperdulian Presiden Jokowi kepada bisnis start-up yang dimiliki anak-anak muda di Tanah Air.

Kunjungan Presiden Jokowi ke kedai milik anak Indonesia itu patut diacungi jempol, mengingat saat ini semangat kewirausahaan anak mudah sedang melemah. ”Kunjungan Presiden ini ibarat oase yang memberi harapan dan motivasi dalam mengembangbiakan usaha start-up,” ujar Mukhaer dalam rilisnya yang diterima MySharing, Selasa (4/7).

Mukhaer menjelaskan, kalau mau menjadi negara maju dan berdaya saing, tentu harus memperbanyak wirausaha baru. Merujuk data statistik, Mukhaer pun memaparkan, bahwa jumlah pengusaha di Tanah Air saat ini tidak jauh dari angka 1 persen dari penduduk Indonesia. Padahal menurut teori David McClelland, suatu negara akan menjadi makmur jika jumlah pengusaha mencapai 2 persen dari penduduknya.

”Coba bandingkan dengan negara tetangga, misalnya Singapura, jumlah pengusahanya mencapai 7,2 persen, Malaysia 2,1 persen, Thailand 4,1 persen, Korea Selatan 4 persen China dan Jepang mencapai 10 persen, sedangkan yang tertinggi adalah Amerika Serikat (AS) sebesar 11,5-12 persen,” ungkap Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta ini.

Selanjutnya, kata Makhaer, meningkatkan jumlah pengusaha ini juga penting mengingat komposisi jumlah penduduk Indonesia yang usia produktif sangat besar. Bayangkan, mulai tahun 2020 hingga 2030, Indonesia memperoleh bonus demografi, di mana penduduk produktifnya akan mencapai 70 persen.

Ditegaskan Mukhaer, jika  besaran komposisi ini tidak diisi oleh anak-anak muda kreatif dan inovatif dalam usahanya. Maka, tentu akan menjadi malapetaka demografi. Ini artinya, bangsa Indonesia akan sulit menjadi negara maju dan akan tetap menjadi jongos produk negara-negara lain.

“Terus terang, saya mengapresiasi Presiden Jokowi dengan keinginannya hadir dan menikmati karya anak-anak muda kreatif. Karena anak-anak muda seperti itu yang akan mengukir kejayaan bangsa ke depan”, pungkas Mukhaer.