Muhammadiyah
Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah./Foto: FB Muhammadiyah

Muhammadiyah Keluarkan Rekomendasi Kebijakan Ekonomi

[sc name="adsensepostbottom"]

Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan  (MEK) PP Muhammadiyah mengeluarkan tiga  rekomendasi terkait arah pengembangan ekonomi warga Muhammadiyah. Rekomendasi tersebut terangkum dari hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan  seminar nasional ‘Menggagas Format E-Money Muhammadiyah Menuju Financial Inclusion dan Less Cash Society’ di aula lantai 6 Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka  (UHAMKA), yang digelar pada 18-19 April 2014 di Jakarta.

Muhammadiyah
Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah./Foto: FB Muhammadiyah

Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyah, Syafrudin Anhar, mengatakan rakernas MEK merekomendasikan tiga hal. Pertama, terkait dengan e-money yang dibahas dalam seminar nasional sebagai financial inclusion dan less cash society , MEK akan  segera menindaklanjutinya dengan kemungkinan menjalin kerjasama dengan PT Telkom dan fakultas Teknik di Universitas Muhammadiyah, khususnya dalam pengembangan  teknologi IT.

Kedua,  mendorong pengembangan ekonomi umat di lingkungan Muhammadiyah dan masing-masing Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan di setiap provinsi untuk  membuat tim penyusun potensi ekonomi. “Dengan adanya peta potensi ekonomi akan memudahkan kami bersinergi dengan berbagai lembaga pemerintah dan swasta dalam meningkatkan ekonomi warga Muhammadiyah,” kata Syafrudin dalam siaran persnya yang diterima mysharing.

Ketiga, terkait pengembangan sektor riil yang ada serta untuk mendorong kewirausahaan di lingkungan warga Muhammadiyah. MEK mempertegas menjalin kerjasama dengan perusahaan ritel BUMN, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Dengan kerjasama ini MEK bersama RNI akan saling berpadu dalam mengembangkan ekonomi umat. “Saya berharap hasil dari Rakernas Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan ini memiliki manfaat dalam pengembangan ekonomi umat,” ujar Syafrudin.

Sementara dalam pertemuan forum dekan ekonomi yang dihadiri oleh dekan-dekan Fakultas  Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) seluruh Indonesia, Syafrudin  menambahkan, bahwa keberadaan fakultas ekonomi di PTM sebagai instrumen penguat dan laboratorium bagi pengembangan kewirausahaan bagi generasi muda. Selain itu, forum dekan juga berkomitmen untuk memperkuat relasi Majelis dan relasi Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan sebagai bagian persyarikatan dan perguruan tinggi sebagai amal usaha Muhammadiyah (AUM).

Unsur organisasi Muhammadiyah tersebar di berbagai bidang, seperti dari segi pendidikan AUM mencapai 3.370 TK, 2901 SD/MI, 1.761 SMP / MTs, 941 SMA/MA/SMK, 67 Pondok Pesantren, dan 167 perguruan tinggi. Pada sektor kesehatan tercatat sebanyak 47 Rumah Sakit (PKU), 217 Poliklinik, 82 klinis bersalin. Sementara di sektor ekonomi ada 1 bank syariah (saham Muhammadiyah 2,5 %), 26 BPR/BPRS dan 275 BMT/BTM, 1 Induk Koperasi BTM, 81 Koperasi Syariah, 22 Minimart dan 5 kedai pesisir. Demikian juga pada wilayah sosial, organisasi ini memiliki lebih 400 buah panti asuhan, rumah singgah dan lainnya.  Takaran kasar total asset lebih dari Rp 20 triliun.