Majelis Ulama Indonesia (MUI) berharap pemimpin Indonesia menteladani kemimpinan kepemimpinan Shalahuddin Ay-Ayyubi.

Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri MUI Muhyiddin Junaidi menuturkan, bahwa Shalahuddin Ay-Ayyubi memiliki sifat leadership atau kepemimpinan bukanlah berdasarkan ilmu dari bangku kuliah, melainkan dari pengalaman hidupnya.
Lebih jauh ia menceritakan, bahwa Shalahuddin Ay-Ayyubi terlahir di Turki, yang sejak kecil hidup di kalangan keluarga yang cukup terkenal, dan kemudian melanglang buana ke Irak, Iran, Syiar, Yaman, Mesir dan Lybia. Namun sekarang, negara-negara yang pernah dikuasi oleh Shalahuddin Ay-Ayyubi sedang porak poranda sangat memprihatinkan.
Padahal saat itu, lanjutnya, Shalahuddin mampu menyatukan fraksi-fraksi dari kalangan Islam. Namun faktanya sekarang sangatlah tidak mudah. Bisa dilihat kasus Yaman dan Saudi Arabia, yang sama-sama Muslim dan Arab tapi tidak bisa menahan diri dan akhirnya saling mengebom. “Kita butuh ketauladan Shalahuddin Ay-Ayyubi,” kata Muhyiddin, saat menjadi pembicara pada bedah film Shalahuddin Ay-Ayyubi Sang Pembebas Baitul Maqdis di kantor MUI Pusat Jakarta, Jumat(26/6).
Menurutnya, sedangkan dari sisi kehidupan Shalahuddin Ay-Ayyubi, adalah orang yang sangat aspiratif terhadap permintaan rakyatnya. Namun demikian, pada perkembangan zaman, para pemimpin terkenal tidak bisa lagi berkenaan dengan rakyat bawah, sangatlah berbeda dengan Shalahuddin.
Dari sisi keilmuan, Shalahudin itu bukan hanya ahli bidang fiqih, bahasa dan syariah. Tapi beliau mengabungkan ilmu itu dengan ilmu strategi perang. Muhyiddin berharap umat Islam di Indonesia harus mempunyai strategi perang. Para pemimpin Indonesia juga harus menteladani kepemimpinan Shalahuddin Ay-Ayyubi.
Karena menurutnya, Shalahuddin itu sangat sederhana, merakyat dan betapa beliau sangat hormat kepada orangtua dan atasannya, bahkan hormat juga kepada mereka yang mengkritiknya.
Bagi gerakan Islam di Indonesia, tegas Muhyiddin, strategi perang Shalahuddin Ay-Ayyubi, kalau di Indonesia harus dirubah menjadi strategi politik Islam. Yakni bagaimana memenangkan peperangan ilmu budaya.
Muhyidin optimis Indonesia bisa meneladani kepemimpinan Sholahuddin al-Ayyubi. Sebab, menurutnya, ada empat faktor pendukung yang dimiliki Indonesia, di antaranya, modal sejarah, umat Islam jumlahnya mayoritas, praktik keislaman sudah berjalan, serta memiliki sumber daya alam yang sangat besar. “Alhamdulillah, Indonesia juga termasuk negara yang masih tetap kompak, solid dan insyaAllah akan selalu bersatu,” tukasnya.
Menurut Muhyidin jika Indonesia memiliki pemimpin seperti Sholahudin al-Ayubi, maka, problematika umat yang tengah terjadi di Indonesia semua bisa teratasi dan dapat terselesaikan. “Setelah itu, baru bergeser membantu menyelesaikan masalah-masalah di negara kawasan ASEAN. Menyelesaikan kasus Myanmar, Thailand Selatan dan seterusnya. Jika itu berhasil, maka bergeser menyelesaikan masalah di wilayah yang lebih luas lagi yaitu negara-negara di penjuru dunia,” pungkasnya.

