MUI dan Walubi soal pengungsi Rohingya
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, KH Muhyiddin Jubaidi (kiri), Ketua Walubi, Suhadi Sandjaja (kedua dari kiri), Ketua MUI Bidang Kerukunan Umat Beragama, KH Slamet Effendi Yusuf (tengah), dan Plt. Ketua Umum Walubi,Arief Harsono (kanan).

MUI dan Walubi Himbau Umat Islam dan Buddha Jaga Perdamaian

[sc name="adsensepostbottom"]

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) menghimbau umat Muslim dan Buddah tidak terpengaruh oleh propokasi penyebaran kebencian agama tertentu yang terjadi di Myanmar. Umat Islam dan Buddha di Indonesia harus menjaga perdamaian dunia.

MUI dan Walubi soal pengungsi Rohingya
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, KH Muhyiddin Jubaidi (kiri), Ketua Walubi, Suhadi Sandjaja (kedua dari kiri), Ketua MUI Bidang Kerukunan Umat Beragama, KH Slamet Effendi Yusuf (tengah), dan Plt. Ketua Umum Walubi,Arief Harsono (kanan).

Terkait dengan tersebar luasnya ajaran radikal dan kontroversial dari pemuka Buddha Myanmar Ashin Wirathu. Ketua MUI Bidang Kerukunan Umat Beragama KH, Slamet Effendi Yusuf menyatakan, bahwa pemberitaan itu sudah tersebar sejak dua tahun lalu, yang menyatakan bahwa “Myanmar jangan seperti Indonesia. MUI dan Walubi pernah menyatakan sikap bersama  menyesalkan terjadinya peristiwa seperti itu. Oleh karena itu, kita berharap tidak berdampak dengan Indonesia. “Jadi kita tidak boleh apa yang terjadi di Myanmar, lalu di Indonesia hubungan antara umat Islam dan Buddha renggang,” kata Slamet, dalam konferensi pers di Aula MUI Pusat Jakarta, Rabu (20/5).

Ia menegaskan, jika hubungan antar umat renggang akan berdampak kepada  stabilitas nasional, sehingga bukan soal umat Buddha dan umat Islam saja, tapi adalah masalah bangsa Indonesia. “Kami berharap  masyarakat Indonesia tidak terpengaruh oleh propokasi penyebaran kebencian. Walaupun kami tahu persis bahwa terjadi tindakan diskriminatif dan rasialistik, tapi mari kita selesaikan dengan perdamaian ASEAN,” kata Slamet. Ia juga berharap pertemuan tingkat tinggi tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand bisa memberikan usulan-usulan konkrit bagi penyelesaian nasib Muslim Rohingya di Myanmar. Dan itu salah satu terpenting adalah amandemen Undang-undang kewarganegaraan di Myanmar.

Pada kesempatan ini, Plt Ketua Umum Walubi, Arief Harsono menghimbau  menghimbau  umat Islam maupun Buddha di Indonesia untuk tidak terpengaruh situasi yang terjadi di Myanmar, sekalipun berita-berita terkait pertikaian etnis yang juga dibumbui oleh anti agama tertentu di Myanmar begitu deras masuk ke Indonesia. Menurutnya, di Myanmar, Buddha mereka dengan di Indonesia sangat berbeda. “Perlu saya tegaskan, bahwa dari banyak sekte agama Buddha, namun sekte-sekte Buddha di Myanmar tidak ada penganutnya di Indonesia.  Jadi tidak perlu dikhawatirkan, tapi marilah kita tetap menjaga kerukunan umat beragama,” tegasnya.

Bagi Arief, Walubi beserta umat Buddha di seluruh Indonesia tetap konsisten tanpa melihat suku agama dan etnis untuk saling menyayangi dan menjaga kestabilan negara Indonesia, agar semua tidak dipengaruhi oleh kelompok-kelompok lain yang mengadu domba kerukunan antar umat beragama.