MUI: Hukuman Potong Tangan Bagi Begal Motor

[sc name="adsensepostbottom"]

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta penegak hukum Indonesia bertindak tegas memberikan hukuman potong tangan terhadap begal motor.

motorKetua Komisi Fatwa MUI Prof Hasanuddin AF, prihatin melihat maraknya begal motor di Jabodetabek hingga ke luar kota. Menurutnya, begal motor ini membuat masyarakat cemas dan ketakutan, karena mereka dalam aksinya tidak sungkan membunuh korban dengan sadis.

Ia menuturkan, pelaku begal motor bisa dijatuhi hukuman mati, namun demikian prioritas hukuman bagi para pembegal adalah harus dipotong tangan karena sudah mengambil hak orang lain. “Begal dalam hukum Islam disebut hirobah, bisa dihukum mati, tapi prioritasnya potong tangan dan bisa juga disalib,” kata Hasanuddin, usai konferensi pers di kantor MUI Pusat Jakarta, Selasa (3/3).

Menurutnya, meskipun Indonesia tidak menerapkan hukum Islam, namun hukuman tersebut yang bisa membuat masyarakat nyaman dan aman. Tapi jika tidak bisa diterapkan, diharapkan ada solusi lain agar masyarakat bisa percaya terhadap penegakan keadilan di Indonesia. Solusinya adalah penegak hukum harus bersikap tegas terhadap pelaku kejahatan.”Penegak hukum harus benar-benar menegakkan hukum agar masyarakat percaya. Tapi, bagaimana mau percaya kadang penegak hukumnya korupsi,” tukasnya.

Hasanuddin juga tidak membenarkan tindakan sewenang-wenang masyarakat dalam menghakimi pelaku begal motor , seperti yang terjadi di Tangerang Jawa Barat belum lama ini, pelaku dibakar hidup-hidup oleh masyarakat.”Sama saja salah. Tidak boleh masyarakat main hakim sendiri,” katanya.