MUI Imbau Umat Islam Tunggu Sidang Isbat

[sc name="adsensepostbottom"]

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menghimbau umat Islam untuk menunggu sidang Isbat   dalam penentuan awal bulan puasa Ramadhan dan mendudukan perbedaan sebagai rahmat.

penetuan awal bulan puasa ramadhanKetua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin mengajak agar umat Islam tetap harus saling menghargai  dan menghormati apabila terjadi perbedaan dalam penetapan awal puasa Ramadhan.

Ma’ruf menyebutkan bahwa perbedaan itu akan terus terjadi sebelum adanya sistem penyatuan kriteia dalam menentukan awal bulan Ramadhan. “Kalau masing-masing Ormas Islam memiliki kriteria sendiri dalam menentukan awal bulan Ramadhan, maka perbedaan akan terus terjadi,” kata Ma’ruf kepada MySharing, ditemui usai pembukaan Seminar Nasional Penyusunan Panduan Ukhuwah Islamiyah di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (25/4).

Lebih lanjut Ma’ruf mengatakan, perbedaan terjadi karena menggunakan metode penentuan awal puasa yang berbeda. Muhammadiyah menggunakan metode hisab wujudul hilal untuk melihat wujud hilal atau anak bulan. Sementara, Nahlatul Ulama (NU) berpegang pada rukyat (mengintai posisi anak bulan secara langsung).

“Pemerintah menentukan kapan awal puasa Ramadhan pada sidang Isbat. Kami berharap  umat Islam menunggu keputusan sidang Isbat, saat ini ada perbedaan,  kita harus saling menghargai dan menghormati,” ujar Ma’ruf.

Ma’ruf berharap masyarakat hendaknya mengembangkan sikap toleransi dan tidak terjebak pada pertentangan dan perselisihan termasuk perbedaan paham keagamaan serta menghindari diri dari perbuatan yang tercela.  ”Umat Islam hendaknya tetap menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah dengan tetap mendudukkan bahwa perbedaan sebagai rahmat,” tegas Ma’ruf.

Sebelumnya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Senin, 6 Juni 2016 Masehi, dan 1 Syawal 1437 Hijriyah, atau Lebaran jatuh pada Rabu 6 Juli 2016 Masehi. Sedangkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan mengumumkan awal puasa Ramadhan tahun ini bersamaan dengan Sidang Isbat.