Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam jangan golpot pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak Rabu besok (9/12). Umat Islam juga dihimbau tidak salah memilih pemimpin.

Menurutnya, saat ini ada skenario supaya umat Islam benci dengan pemerintahnya. Jika terjebak dalam skenario itu, justru umat Islam yang akan rugi. Ia pun menghimbau umat Islam jangan ada yang golput (golongan putih). Dengan mengikuti Pilkada, artinya umat Islam telah menunaikan tanggungjawab terhadap negara,” kata Yusnar kepada MySharing di kantor MUI Pusat, Jakarta, belum lama ini.
Terkait dengan kriteria pemimpin ideal. Yusnar menghimbau umat Islam untuk memilih pemimpin yang sayang kepada rakyat. ”Umat Muslim tidak boleh salah dalam memilih. Pemimpin yang kita pilih haruslah orang yang betul-betul mau memimpin dan meraih target negeri yang subur, makmur, adil dan aman (tbaldatun thoyyibantun wa rabbun ghafur),” kata Yusnar.
Yusnar pun mencontohkan, ketika hendak dipilih menjadi pemimpin, Umar bin Abdul Azis tidak melakukan kampanye. Ia hanya berpesan kepada rakyatnya, : ”Wahai rakyatku, kalau kalian memilih aku sebagai pemimpin, tegur aku ketika aku salah, jangan biarkan aku masuk neraka, jangan ikuti aku ketika aku salah, jangan ikuti aku ketika aku melakukan kesalahan.”
Pesan itu, kata dia, menimbulkan koneksi tersendiri terutama Umar dan rakyatnya. Dalam waktu tiga tahun, wilayah yang dipimpin Umar dapat berjalan dengan baik. Tidak ada seorang pun rakyat yang dimpimpinnya mau menerima bagian uang zakat sebab takut mengambil yang bukan haknya. Sebagai pemimpin, Umar juga hidup sederhana hingga hanya sehelai pakaian yang dimilikinya.
”Kita tidak meminta pemimpin sekarang harus seperti itu. Ya paling tidak satu hal yang harus dilakukan adalah sayangi rakyatnya. Kalau pemimpin sayang rakyat, pasti akan memperjuangkan kepentingan rakyatnya,” pungkasnya.

