Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsudin dikabarkan dalam media Al-Mashad Al-Yemeni sebagai teroris yang membahayakan umat Islam Indonesia karena mendanai gerakan Islamic State Iraq and Syria(ISIS).

Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri MUI, Muhyiddin Junaidi menegaskan, bahwa berita di media di Yaman itu tidak benar. “Berita itu ngacau dan sama sekali tidak memiliki landasan dan bukti kuat,” kata Muhyiddin kepada MySharing, saat dihubungi, Kamis (4/12).
Muhyiddin menuturkan, MUI telah bertemu dengan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert O Blake Jr, dan mantan Duta Besar AS, Scot Marciel, di kantor MUI Pusat Jakarta, pada Selasa (2/12).
“MUI telah menjelaskan kepada mereka, bahwa tuduhan itu tidak bisa dibenarkan dan meminta klarifikasi dari Kedubes AS. Sebab berita itu dilansir dari Kementerian luar negeri AS,” kata Muhyiddin.
Dalam laman Departemen Luar Negeri AS yang diliris media tersebut, menyebutkan ada enam orang Indonesia yang mendanai ISIS. Din Syamsudin berada dalam daftar nomor 103. Junaidi menuturkan, Blake Jr dan Marcial menerima penjelasan MUI dan memastikan bahwa berita di media Almashad Al-Yemeni tidak lebih sebagai kebohongan penuh sensasi. “Sebagai ketua Umum Muhamadiyah dan MUI, pak Din sangat aktif mengkampanyekan Islam yang modern yang rahmatan lil ’alamin,” ujar Muhyiddin.
Tak cuma itu, Muhyiddin pun kembali mengungkapkan kepada Blake Jr dan Marcial, bahwa Din Syamsuddin menerima penghargaan dari pemerintah Rupublik Rakyat Cina (RRC)atas jasanya menyebarkan perdamaian agama melalui jalan budaya. Pada November 2014 lalu, Din bersama 126 tokoh dunia menandatangani pernyataan sikap anti kekerasan.
MUI, lanjutnya, sudah menyelenggaakan Forum Ukhuwah pada 17 Agustus 2014. Dalam forum itu, MUI menyatakan sikap bahwa gerakan ISIS tidak sesuai dengan watak sejati agama Islam. Pada 1 Ramadhan 1436 lalu, Din juga mendekralasikan diri sebagai Khilafah Islamiyah atau Daulah Islamiyah, yang gencar menentang ISIS.
Di dunia international,kataMuhyiddin, Din Syamsuddin pernah menjadi pembicara World Jewish Congress (Kongres Yahudi Se-Dunia) di Budapest, Hongaria pada 5-7 Mei 2013. Bahkan, pada November 2014 lalu, Din tampil sebagai pembicara pada acara The Third Catholic-Muslim Forum, di Vatikan. “Maka tidak ada alasan menganggap Pak Din sebagai ancaman umat Islam atau sebagai tetoris dunia seperti yang tertulis di media tersebut,” tegas Muhyiddin.
Muhyiddin kembali menuturkan, bahwa ISIS itu lebih mengutamakan kekerasan, seperti penghancuran rumah ibadah, perampasan tanah dan memiliki grand design yang hendak meruntuhkan negara dan bangsa di seluruh dunia. Sedangkan Islam yang memperjuangkan bentuk perlawanan terhadap kolonialisme. Dan Din Syamsudin adalah sosok Islami yang giat menyuarakan ramhatan lil ‘alamin.
Ia menegaskan, MUI tidak akan mengambil sikap terhadap media tersebut, karena yang terpenting adalah klarifikasi dari Kebudes AS. Namun demikian, ia mengaku bahwa kebenaran terkait berita tersebut memang harus ditelusuri. Karena, mungkin saja ini permainan misi informasi media, operasi intelegen atau skenario internal ISIS untuk mendiskriminasikan tokoh-tokoh Islam dunia, seperti Din Syamsudin. “ISIS menunjukkan bahwa selama ini didukung oleh tokoh Sunni Islam di dunia.Indonesia sebagai Muslim Sunni, biar mendukung ISIS maka dibuatlah berita sensasi ini,” pungkasnya.

