MUI: Tragedi Mina, Negara Harus Tambah Petugas Haji

[sc name="adsensepostbottom"]

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menghimbau pemerintah Indonesia untuk merekrut petugas haji dengan menambah dana dari Anggaran Penyelenggaraan Belanja Negara (APBN).

calon-hajiKetua Umum MUI KH.Ma’ruf Amin mengatakan tragedi Mina harus menjadi pelajaran bagi pemerintah Indonesia.  Karena kejadian tersebut menunjukkan kurangnya petugas keamanan, sehingga jamaah haji Indonesia mengikuti arus jamaah haji dari negara lain menuju jamarat atau tempat pelemparan jumrah.

MUI, kata Ma’ruf menghimbau pemerintah menambah anggaran dari APBN untuk merekrut petugas keamanan. Sebab, lanjut dia, selama ini petugas keamanan untuk jamaah haji Indonesia di Arab Saudi terbatas, dan kerjanya hanya mencari orang hilang atau tersesat jalan saja.  

”Negara harus menambah anggaran APBN untuk merekrut petugas keamanan haji Indonesia. Jika petugas keamanan haji Indonesia cukup, maka petugas ini bisa mengarahkan jamaah haji saat akan menuju jamarat,” kata Ma’ruf kepada MySharing, di kantor MUI Pusat, Jakarta, pekan lalu.

Menurutnya, tidak hanya Indonesia, negara lain juga diminta untuk merekrut petugas keamanan lebih banyak lagi dalam upaya menjaga keamanan dan kenyamaan jamaah haji ketika di Tanah Suci.

Selain itu, tegas Ma’ruf, MUI juga mendorong pemerintah Indonesia untuk memprakarsai penyelidikan adanya pengalihan jalan dari Jalan 203 ke Jalan 204, karena adanya konvoi kendaraan Mohammad bin Salman Al Saud, Wakil Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi yang juga menteri pertahanan.

Menurutnya, pemerintan  Indonesia bisa mengajukkan ke Organisasi Konferensi Islam (OKI) kasus tersebut. Sehingga bisa diketahui apakah benar atau tidak penyebab terjadinya tragedi Mina karena adanya konvoi, hingga petugas keamanan  Arab Saudi (askar) mengalihkan jalan arus jamaah haji saat akan menuju jamarat. ”Agar tragedi tidak terulang, Indonesia harus menyelidikinya dengan merangkul negara OKI, dan MUI mendukung,” ujarnya.

Seperti diketahui, konvoi putra Raja Salman Al Saud menyebabkan kepanikan jutaan jamaah haji yang akhirnya menimbulkan situasi kacau dengan tiba-tiba petugas keamanan menutup arus jemaah haji yang akan menuju Jamarat.