Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai lomba karikatur Nabi Muhammad saw di Texas Amerika Serikat yang berujung pada penembakan itu, justru akan memicu banyaknya warga Amerika memeluk Islam.

Ketua Bidang Seni dan Budaya MUI, KH. Cholil Ridwan, menyatakan, bahwa lomba karikartun Nabi Muhammad saw di Texas Amerika Serikat itu menggambarkan apa yang disampaikan dalam Al-Qur’an itu betul. Seperti yang tertulis dalam surat Al-Baqaroh 2 ayat 120, menyebutkan: “ Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” Ada lagi ayat yang menyatakan bahwa :”Bahwa kebencian mereka yang tersimpan di dalam dada itu jauh lebih besar.”
“Kalau yang terungkap itu kelihatan, tapi yang di dalam dada mereka itu lebih besar. Nah, sekarang ini kebencian yang mereka sembuyikan dalam dadanya terhadap Islam, mulai mereka ungkap melalui lomba karikatur itu,” kata Cholil kepada MySharing, saat ditemui di kantor MUI Pusat Jakarta, Selasa (5/5).
Bahkan, lanjutnya, kebencian mereka juga digambarkan dalam sebuah film dan pemberitaan media Charlie Hebdo terbitan Paris. Itu merupakan ungkapan apa yang ada di dalam dada mereka, karena memang terlindungi oleh permintaan-permintaan pengusaha yang juga anti Islam di Amerika Serikat dan Eropa dengan dalih kebebasan pers.
Menurutnya, atas berbagai peristiwa yang menyakiti umat Islam dengan berbagai aksi yang ditebarkan negara Eropa, malah banyak masyarakat Eropa belajar Islam dengan mencari literatur Islam. Setelah mereka membaca membaca buku Islam dan hadist, ternyata beda dengan apa yang mereka pahami tentang Islam selama ini yang didapati dari orang kafir juga.
Orang kafir itu, kata Ridwan, menyampaikan bahwa Islam itu barbar, Islam itu jahat dan sebagainya. Bahkan Nabi Muhammad SAW juga disebut sebagai sek maniak dan sebagainya. Tapi setelah mereka baca buku-buku Islam, Al-Qur’an dan Hadist, orang barat sendiri yang kagum terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW.” Bahkan sejak peristiwa World Trade Centre (WTC) pada September 1998 saja, banyak warga Amerika yang masuk Islam,” kata Ridwan.
Lebih lanjut ia menyampaikan, bahwa Michael H. Hart, penulis buku “100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah,” yang telah dijermaahkan dalam sejumlah bahasa di dunia. Sebuah contoh yang paling mencolok adalah Michael menempatkan Nabi Muhammad SAW urutan pertama lebih tinggi dari Yesus (Isa).
Dalam bukunya itu, Michael menyampaikan argumennya terkait menempatkan urutan pertama Nabi Muhammad SAW. Menurut dia, kata Ridwan, penempatan urutan itu terutama disebabkan karena kenyakinan yang dia peroleh secara pribadi bahwa Nabi Muhammad SAW jauh lebih berpengaruh dalam hal perumusan agama yang dianut oleh orang Islam daripada yang disampaikan Yesus dalam perumusan agama Kristen. “Michael H. Hart itu non Muslim, tapi dia sangat memuji Islam. Nah, hal seperti itu sebetulnya perlu menjadi cermin untuk bangsa barat,” tegasnya.
Ridwan menegaskan, umat Islam sadar sebetulnya permusuhan yang mereka tujukan jauh lebih besar dibandingkan persaudaraan. Oleh karena itu, Ridwan menghimbau agar umat Islam bersatu untuk bisa menangkal budaya barat. Karena menurutnya, sebetulnya Indonesia sudah terjaga dari segi ekonomi dan politik, namun sisi budaya masih terpengaruh. Misalnya, ia mencontohkan, umat Islam yang sudah terkontaminasi dengan budaya barat akan bersikap acuh dengan masalah lomba karikartun Nabi Muhammad saw di Texas Amerika, yang menyakiti umat Islam.
Ridwan menyakini, bahwa tretegi Texas itu akan memicu bertambahnya warga Amerika yang memeluk agama Islam. “Diramalkan pada suatu saat bahwa kekuatan Islam itu di Amerika dan Eropa,” ujarnya.
Hal ini, lanjutnya, dikarenakan tidak bisa lagi memendung banjirnya hijab menyerang Eropa dan Amerika. Bahkan polisi Amerika saja sudah berhijab, selain itu pada perayaan hijab sedunia banyak gadis-gadis Amerika ingin mencoba hijab dan kemudian diberikan hadiah hijab untuk dikenakan semalam seminggu. Namun, setelah memakai hijab itu, mereka merasa nyaman, dan akhirnya mereka memeluk agama Islam. Sebaliknya, ada juga yang pakai hijab tapi tidak masuk Islam. “Setiap peristiwa yang menyakiti umat Islam, insya Allah ada hikmahnya,” pungkas Ridwan.

