Ditakutkan akan merusak generasi muda Islam masa depan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menganggap Valentine Day haram bagi umat Muslim.
Ketua Bidang Seni dan Budaya MUI KH. Ridwan Cholil mengatakan, budaya yang datang dari barat itu sebenar boleh-boleh saja. Namun harus dicerna dengan iman yang teguh jangan asal diterima, seperti Valentine Day yang dirayakan setiap 14 Februari. “Isi perayaan Valentine Day haram, karena itu bertentangan dengan Islam,” kata Ridwan kepada MySharing.
Ia pun menjelaskan, perayaan itu suka cita berkumpulnya pasangan yang bukan muhrim, kemudian ada penghalalan yang sangat merusak. Bahkan menjelang perayaan Valentine Day, ada beberapa hotel yang memfasilitasi kamar murah dan terjangkau oleh anak-anak SMA. Itu bahaya sekali. “Dari sisi ibadah dan kaidah Islam tidak boleh umat Islam melakukan sesuatu yang berhubungan dengan agama lain,” ujarnya.
Muslim tidak merayakan valentine! haram ! .tohhh tiap hari juga hari kasih sayang , dan saling menyayangi kpd org yg di sayang.
— محمد عرفان رافع (@IrfanRifai21_) 11 Februari 2015
Ridwan pun menuturkan, Nabi Muhammad SAW ingin memberikan alat media tanda waktu masuk shalat. Tapi nabi belum punya ide, kemudian dikumpulkan sahabat-sahabatnya. Sahabat ada yang mengusulkan memakai terompet, namun menurut Nabi, terompet itu punya Yahudi. Kemudian sahabat lainnya mengusulkan bel. Tapi bel itu pun punya Nasrani. Usulan lainnya adalah api unggun. Api unggun ini punya kaum Majuzi. Akhirnya pencarian media tanda masuknya shalat itu pun ditunda. Malamnya ada yang mimpi diajari kalimat adzan. Kemudian sabahat itu melapor kepada Nabi Muhammad SAW tentang mimpinya. Dan Nabi bilang, ini mimpi yang benar dari Allah SWT. Maka, mimpi sabahat itu dijadikan dasar untuk mensyariatkan adzan.
Menurutnya, walaupun terompet, bel dan api unggun itu budaya. Tapi dikaitkan dengan agama lain, umat Islam tidak boleh menggunakan itu. Valentine Day haram, itu budaya agama Kristen, umat Islam tidak boleh melakukan itu walaupun budaya, apalagi budaya yang merusak. “Jangan-jangan ada misi tertentu dari pihak non-Muslim untuk merusak generasi muda Islam,” tukasnya.
Ridwan menghimbau orangtua harus waspada jangan sampai malam Valentine Day anaknya keluar, terutama anak gadis. Untuk mencegah anaknya keluar di malam itu, orangtua disarankan membuat acara di rumah seperti makan malam atau pengajian keluarga.
Ridwan juga prihatin dengan sekolah-sekolah yang merayakan Valentine Day. Bahkan menurutnya, ada pesantren yang merayakan karena tidak mengerti. Mereka para siswa berpikir bahwa Islam itu penuh kasih sayang. Mereka bertanya mengapa Valentine Day haram? Mereka tidak mengerti kalau sejarah valentine itu terkait seorang Santa Valentine yang dianggap suci lalu jatuh cinta, dan kemudian dia jadi martir. Alkisah ini lalu diperingati sebagai hari kasih sayang.
Padahal tanggal 14 Februari itu, kata Ridwan, tidak ada kaitannya dengan ajaran agama Kristen. Tanggal 14 itu kelahiran seorang dewa Romawi Kuno. Karena remaja-remajanya sudah tidak tertarik lagi datang ke gereja. Sehingga untuk menarik mereka ke gereja diadopsilah perayaan Valentine ini oleh vatikan dengan memberi kemasan Kristiani. Dan, akhirnya para remaja itu pun datang ke gereja. Untuk mereka datang ke gereja, ya acaranya seperti itu.[su_pullquote align=”right”]“Jangan-jangan ada misi tertentu dari pihak non-Muslim untuk merusak generasi muda Islam” [/su_pullquote]
Menggantikan posisi dewa-dewa pagan dan mengambil St Valentine sebagai sosok suci lambang cinta. Dan akhirnya diresmikanlah Hari Valentine oleh Paus Gelasius pada 14 Februari di tahun 498. Namun, dalam kaidah Islam, Valentin Day ini diharamkan secara syar’i. Duduk berdua bukan muhrin tidak berbuat senorok saja haram. “Apalagi sambil pegang-pegangan nunggu pukul 24.00 WIB, lalu ciuman, itu rumusnya haram, makanya Valentine Day haram” tegas Ridwan. Baca juga: Asal Mitos Sinterklas yang Perlu Anda Ketahui
Para pemuka agama itu terlalu ribet meneranngkan soal valentine. Valentine itu memang haram. Haram buat kaum jomblo krn gak punya pasangan.
— Pinot sity (@RatuKerang) 11 Februari 2015
Menurut Pimpinan Umum Pondok Pesantren Husnayain, penyerbuan budaya itu lebih berbahaya daripada penyerbuan militer sekalipun. “Kalau militer itu ketahuan menang kalah, kemudian selesai. Sedangkan budaya itu setiap tahun. Nah kalau pertahanan kita lemah, habis generasi muda Islam yang akan datang, Umat Islam harus bersatu menangkalnya,” tegasnya. Baca juga: Kongres Umat Islam VI: Umat Harus Bersatu
Pertahanan itu, tambahnya, menanamkan keimanan yang utuh kepada anak cucu kita, karena dalam ayat Al-Qur’an sudah jelas berbunyi : “ Peliharalah dirimu dan keluargamu”. Masalah valentine day ini kan neraka!. Malam-malam pasangan bukan muhrim pelukan terus ciuman lalu ngamar itu kan neraka. Kita wajib memelihara anak cucu kita dari perilaku yang seperti itu, apalagi itu budaya pemeluk agama lain.
Kembali Ridwan menegaskan, bahwa dalam ayat Al-Qur’an juga berbunyi :”Bulan ramadhon dimana diturunkan Al-Qur’an untuk memberikan petunjuk untuk kalian hidup di dunia dan menjadi pembeda”. Artinya agar kamu terbeda dengan orang Kristen, Yahudi, agama sekuler dan orang kafir. “ Beda apanya? Ya beda semuanya termasuk budaya valentine day ini,” pungkasnya.


