Pemuka agama tidak akan menutup mata terhadap realitas yang menganggu kerukunan.
Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP), Din Syamsuddin menyebutkan, pihaknya akan menggelar Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa di Jakarta pada 8-10 Februari 2018.
“Insha Allah pada tanggal 8, 9 dan 10 Februari 2018 mendatang di Jakarta. Melalui musyawarah besar para pemuka agama dan umat beragama ini, bisa memperkuat kerukunan antar umat di Indonesia,” kata Din di Gedung Oase Kabinet Kerja, Jakarta Pusat, Kamis (11/1).
Menurut Din, kerukunan umat beragama di Tanah Air sesungguhnya sudah relatif baik. Hal ini karena disebabkan oleh dua faktor, yaitu pertama karena agama-agama di Indonesia secara sejati mengajarkan kerukunan dan perdamaian. Kedua, karena Indonesia memiliki kesepakatan dasar seperti Pancasila maupun Bhinneka Tunggal Ika.
“Kita tidak menutup mata ada ada ketegangan bahkan konfilk antar umat beragama bahkan dalam satu agama atau intra agama,” kata Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Munculnya konflik tersebut, tambah Din, disebabkan karena ada kesalahpahaman terhadap agama itu sendiri. Karena, sebagian umat tidak menangkap misi suci pesan utama agama yang mendorong perdamaian dan kerukunan. Umat masih ada yang memiliki pemahaman sempit terhadap kitab sucinya.
Tapi juga kata Din, ada faktor lain yang menyebabkan, yang menganggu kerukunan itu. Yaitu faktor-faktor non agama, baik sosial, ekonomi, dan politik. Apalagi di dalamnya ada kesenjangan, ditambah faktor-faktor luar negeri yang juga menganggu.
Karena itu, tegas dia, para pemuka agama tidak akan menutup mata terhadap adanya realitas yang menganggu kerukunan dan adanya gejala intoleransi, radikalisme, ekstrimiame, dan bentuk kekerasan yang juga sering mengatasnamakan agama di Indonesia.
“Kita sepakat perlu ada pertemuan bersama antar pemuka agama untuk menjaga moralitas yang besar tadi dan bagaimana kita mengatasi faktor-faktor yang membawa ketidakrukunan,” ungkapnya.
Din menegaskan, bahwa kegiatan tersebut tidak ada kaitannya dengan datangnya tahun politik. Begitu juga yang disampaikan para pemuka agama lain.
Adapun yang akan hadir anggota panitia pengarah dari Musyawarah Besar Pemuka Agama yang terdiri dari presidum Inter-Religious Council (IRC) Indonesia atau dewan agama-agama di Indonesia. Di antaranya hadir tokoh agama dari Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Gomar Gultom, Ketua Umum Matakin, Uung Sendana.
Selain itu, hadir juga tokoh agama Budha dari Walubi, Philips Wijaya, Pastor Agustinus Ulahayanan dari KWI, dan juga tokoh agama Hindu dari Parisada, Nyoman Udayana. Musyawarah Besar ini juga melibatkan tokoh dari MUI, Muhammadiyah, dan Nadhaltul Ulama (NU).

