Nara Kreatif, Daur Ulang Kertas Bersama Anak Jalanan

[sc name="adsensepostbottom"]

Berangkat dari rasa ingin tahu, keprihatinan dan kekuatiran terhadap kehidupan anak jalanan membuat anak muda ini menyingsingkan lengan membantu mereka menuju kehidupan yang lebih baik.

Nezatullah Ramadhan (kedua dari kiri) bersama dengan anak asuh Nara Kreatif.
Nezatullah Ramadhan (kedua dari kiri) bersama dengan anak asuh Nara Kreatif.

“Selamat Datang Maudy Koesnadi”. Kalimat sambutan di sebuah spanduk terpampang di bagian depan gerbang rumah Nara Kreatif di bilangan Kramat Jati, Jakarta Timur. Hari itu, Senin (18/1), Maudy memang dijadwalkan mengisi Kelas Inspirasi bagi anak-anak asuh di Nara Kreatif. Sayang saat MySharing menyambangi markas Nara Kreatif, kelas tersebut telah usai. Namun, semangat dan antusiasme dari anak-anak yang tinggal di asrama Nara Kreatif tersebut masih terlihat.

Puluhan anak yang menghuni asrama di Nara Kreatif memang berbeda. Mereka merupakan anak jalanan yang memilih untuk memeroleh penghasilan lebih layak, tanpa harus turun ke jalan. Melalui daur ulang kertas yang diusung oleh Nara Kreatif, anak-anak mendapat kesempatan untuk berkreasi dan lebih percaya diri.

Orang yang berada di balik perjuangan Nara Kreatif sejak awal adalah Nezatullah Ramadhan. Berawal dari keprihatinan, kekhatiran, dan ingin tahu yang kuat akan banyaknya anak yang berkeliaran di jalanan, kala itu Neza (panggilan akrab Nezatullah) bersama dua orang teman kuliahnya memutuskan ‘turun’ ke jalan untuk mencari tahu penyebabnya. “Saat bertemu dengan anak-anak itu mereka bilang ‘Kalau ngga begini apa yang harus kami lakukan, Bang?’ Nah, itu kan berarti mereka butuh solusi,” jelas Neza.

Lulus perguruan tinggi biasanya para sarjana langsung berburu pekerjaan di berbagai perusahaan. Namun, hal berbeda dilakukan oleh Neza, yang lebih memilih menggeluti kewirausahaan sosial yang telah dirintisnya sejak masih mahasiswa di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Pendekatan yang dilakukan Neza demi meyakinkan anak-anak jalanan untuk beralih kegiatan pun dilakukan perlahan selama sebulan.

“Saya melihat ada seorang anak dari pagi sampai sore mencuci kendaraan di tempat steam. Saya bawa motor saya kesana, setiap dia mencuci motor saya kasih uang tip gede. Minggu pertama ngga ngomong, minggu kedua saya kasih tip lagi dan akhirnya mulai ngobrol sedikit demi sedikit, tujuannya biar saya dekat sama mereka dan diajak ke tempat tongkrongannya. Setelah sebulan akhirnya saya diajak nongkrong sama teman-temannya dan menjadi lebih dekat dengan mereka,” papar Neza.

Setelah berhasil meyakinkan mereka, berbekal pengetahuan sebagai mahasiswa Teknik Mesin, ia kemudian membuat mesin kertas daur ulang dengan tujuan untuk mengatasi masalah sosial sekaligus lingkungan, yaitu dengan merangkul anak jalanan dan mengalihkan kegiatan mereka untuk mendaur ulang kertas.

Sukses dengan pembuatan mesin itu otomatis membuat bisnis daur ulang kertas berjalan mulus. Modal awal sebesar Rp 37 juta yang diberikan oleh kampus habis dalam sebulan untuk uang saku dan rokok anak asuh. Seiring waktu, dua teman kuliahnya pun mundur. Beruntung di tengah jalan, salah satu teman SMA-nya Dian Hardiyanti turut membantu.

IMG_20160118_155609Orang tua Neza pun ikut mendukung. Selama satu tahun, sang Ayah membantu menjaga anak asuh dan sang Ibu memasak makanan untuk mereka. Sementara, Neza rajin berkeliling ke berbagai perusahaan di kawasan Sudirman-Thamrin untuk mengajukan proposal sebelum berangkat kuliah hingga berjualan kelapa dan menawarkan jasa pemasangan plat nomor menyala demi memenuhi kebutuhan Nara Kreatif.

Saat Allah Memenuhi Janji-Nya
Kesempatan kemudian datang saat salah satu bank BUMN menawarkan kerja sama pada Desember 2012. Sayang, tawaran itu akhirnya berbuah kekecewaan karena kebijakan Menteri BUMN yang saat itu meminta semua dana CSR dibekukan. “Namun, itu memang jalan dari Allah. Ngga tahu gimana ceritanya kemudian kami tiba-tiba diundang BNI Syariah pertengahan Maret 2013 untuk presentasi di kantornya. Alhamdulillah diberi kemudahan sama Allah Swt, seminggu setelah itu kami diminta BNI Syariah untuk mencari tempat yang jauh lebih kondusif bagi anak-anak,” kisah Neza.

Ia menuturkan jalan yang mempertemukan dirinya dengan BNI Syariah itu seolah meneguhkan janji Allah yang selalu dipegangnya. “Saya selalu berpegang teguh pada janji Allah jikalau kita memikirkan orang lain, Insya Allah pertolongan-Nya akan langsung sampai ke kita, tapi kalau kita sibuk dengan diri kita sendiri mungkin hanya sedikit pertolongan Allah kepada kita. Hanya itu yang saya pegang dari dulu sampai sekarang,” katanya.

Tak lama kemudian, markas Nara Kreatif pun pindah dari rumah petakan sempit ke sebuah rumah cukup luas dengan dua kamar tidur yang menjadi asrama putra, dapur, dan halaman belakang yang menjadi tempat daur ulang kertas. Kala itu Nara Kreatif memperoleh dana CSR BNI Syariah hingga Rp 100 juta yang digunakan untuk sewa rumah dan investasi peralatan daur ulang kertas.

“Saat itu kami bisa dibilang terlahirkan kembali karena pindah ke rumah yang jauh lebih kondusif, kami dikutkan ke beberapa pameran dan produknya juga dibeli. Produk pertama yang BNI Syariah beli dari kami adalah kantong bibit dan pin untuk kegiatan Hari Bumi. Jadi saat itu kami memproduksi kertas daur ulang tapi tidak ada yang beli selama setahun. Baru ada yang beli ya pas BNI Syariah itu di bulan April 2013,” kenang Neza.

[bctt tweet=”Tercatat 150 anak terdaftar, tetapi setiap hari rerata 80 anak datang ke rumah Nara Kreatif “]

Kini asrama putra Nara Kreatif dihuni oleh 12 anak, sedangkan asrama putri yang berjarak sekira 500 meter dari asrama putra dihuni oleh tujuh anak. Kegiatan Nara Kreatif pun tak hanya daur ulang kertas menjadi kalender, agenda, boks, wallpaper, tempat pensil dan berbagai jenis barang lainnya. Nara Kreatif juga memberikan pendidikan kejar paket SD, SMP dan SMA gratis bagi masyarakat sekitar.

IMG_20160118_155414Tercatat ada 150 anak yang terdaftar, tetapi setiap hari rata-rata 80 anak yang datang ke rumah Nara Kreatif. Anak-anak yang menyambangi rumah pun tak hanya berasal dari wilayah Jakarta, ada pula yang berasal dari Banten. Latar belakang ekonomi dan sosial setiap anak juga kian beragam. “Sekarang di sini tidak hanya anak jalanan saja, tapi juga ada anak yatim, anak dari keluarga yang cerai, anak autis,” papar Neza.

Perlahan tapi pasti, Nara Kreatif juga memperoleh pesanan dari berbagai perusahaan, seperti Nutrifood, Indofood, Astra dan lainnya. “Alhamdulillah setidaknya bisa memenuhi kebutuhan biaya Nara Kreatif yang mencapai Rp 60 juta per bulan,” ungkapnya.

Duta Hasanah BNI Syariah
Tak lama setelah menyepakati kerja sama dengan BNI Syariah, Neza pun didapuk menjadi Duta Hasanah yang dibina BNI Syariah melalui program Hasanah Empowerment. Kesempatan itu membuatnya dapat berbagi kisah dengan masyarakat di berbagai daerah bersama dengan Duta Hasanah lainnya.

Head Corporate Secretary & Communication Division BNI Syariah Endang Rosawati mengatakan program Hasanah Empowerment merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan untuk memberdayakan usaha kecil menengah yang dikelola bersama 14 Duta Mutiara Bangsa Ber-Hasanah (MBB) di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lingkungan, pertanian dan peternakan.

“Harapannya mereka menjadi duta dan menularkan ”virus” Hasanah ke seluruh masyarakat. Mereka yang berbuat luar biasa bagi kesejahteraan masyarakat di lingkungan masing-masing dan kami pandang layak menjadi duta MBB BNI Syariah,” ujarnya.

Sejak diluncurkan Februari 2014 lalu, Hasanah Empowerment membuat kampanye korporasi bertajuk Hasanah Titik! Kampanye ini mengajak warga bangsa Indonesia ber-Hasanah (berbuat kebajikan) guna mewujudkan Indonesia yang maju dan bermartabat. Melalui program MBB, BNI Syariah mencari sosok masyarakat biasa yang berbuat luar biasa bagi lingkungannya.

[bctt tweet=”Mutiara Bangsa Berhasanah, @BNISyariah mencari orang biasa yang berbuat luar biasa bagi lingkungannya” via=”no”]