Khasanah dakwah tidak cuma ada di pikiran dai, tapi di hati umat.
Dewan Masjid Indonesia (DMI) menggelar diskusi bertajuk Strategis dan Perspektif Dakwa Pasca-212, yang sesuai buku fiqhud dakwah Pendiri Partai Masyumi Mohammad Natsir. Acara ini digelar di kantor PP DMI, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (16/1).
Ketua PP DMI Bidang Sarana, Hukum dan Wakaf, Natsir Zubaidi mengatakan, dakwah merupakan ajakan bukan paksaan.Hal ini yang harus menjadi formula sentral dai-dai di Indonesia dalam menjalankan dakwah kepada umat, sehingga harus bisa membuat nyaman orang yang mendengarkan. “Dakwah adalah ajakan bukan paksaan, ini yang jadi formula sentral,” kata Natsir dalam sambutannya mengawali diskusi.
Menurut Natsir, berdakwah itu tidak bisa instan, tapi harus melalui proses-proses yang panjang, termasuk kajian yang ada di dalamnya. Natsir menilai dakwah di dalam konteks keluarga di Indonesia masih belum berhasil, lantaran tingginya angka perceraian di banyak daerah.
Untuk itu, lanjut Natsir, pentingnya umat Islam di Indonesia memiliki peta dakwah. Apalagi sebagai suatu bangsa, sudah lama meraih kemerdekaan.
“Seorang dai memerlukan banyak persiapan, terutama adab dari dai-dai yang menyampaikan. Sehingga, khasanah dakwah tidak cuma ada di pikiran, tapi di hati umat,” tegas Natsir.
Diskusi ini dihadiri sejumlah pembicara yaitu Dosen Universuty Antar Bangsa Kuala Lumpur Sohirin Sholihin, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Muhammad Siddiq dan mantan Ketua DDII Syuhada Bahri. Hadir pula para dosen dan mahasiswa dari banyak perguruan tinggi Islam, serta ormas Islam.
