Negara-negara anggota OKI diimbau agar memiliki mata uang bersama seperti laiknya penggunaan Euro di Eropa.

Oleh karena itu, ia pun mengimbau pemerintah negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) agar mau bersatu menciptakan mata uang bersama, seperti Uni Eropa yang memakai Euro. “Eropa dengan Euro-nya sudah menunjukkan ke kita bahwa mereka bisa melakukannya dengan segala perbedaan yang ada. Jadi seharusnya negara muslim juga bersatu memakai dinar,” cetus Syafi’i. Baca: Dinar dan Dirham Mulai Berfungsi Secara Universal
Ia pun meminta agar negara-negara anggota OKI melupakan perbedaan politik dan bersatu. “Mulai dari Mesir, Tunisia, Libya, sampai ke Pakistan, Malaysia dan Indonesia, kita sepakat mata uang negara OKI adalah Dinar. Artinya dalam ekspor-impor tidak perlu pakai dolar. Kalau nanti mata uang negara muslim itu satu, kita bilang ke Amerika kalau mau beli minyak atau batubara, kami pakai dinar,” papar Syafi’i.
Menurut Syafi’i, hal yang ditakutkan oleh Amerika bukanlah Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), namun kekuatan ekonomi negara Islam bersatu, terutama mata uangnya. “Dengan memakai Dinar ini, maka mata uang negara Islam akan terbentang dari Maroko sampai Merauke,” ujarnya. Baca: HTI: Indonesia Harus Tinggalkan Uang Kertas Beralih ke Dinar Emas
OKI, yang didirikan pada 25 September 1969, memiliki 57 negara anggota. Jumlah populasi penduduk negara anggota OKI berjumlah 1,6 miliar jiwa pada 2011. Pada 20 Oktober 1975 OKI membuka Islamic Development Bank dengan misi mendukung perkembangan ekonomi dan sosial negara anggota dan komunitas Muslim.

