Negara Mayoritas Islam Hanya Jadi Target Pasar, Rela?

[sc name="adsensepostbottom"]

Dilihat dari produk domestik bruto per kapita negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) tertinggal jauh dari negara maju. Begitu pula dalam Indeks Daya Saing Global.

pameran buku IslamAkademisi Universitas Indonesia Nurul Huda, mengatakan dalam Indeks Daya Saing Global negara-negara OKI secara umum masih dibawah negara maju. Hal serupa juga terjadi dengan produk domestik bruto per kapita. “Diantara negara OKI Indonesia punya produk domestik bruto terbesar, tapi untuk per kapita bahkan tidak masuk dalam 10 besar karena Indonesia memiliki jumlah populasi besar,” ujar Nurul dalam Seminar Internasional Dunia Islam yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, Kamis (5/11).

Ada tujuh negara OKI yang memiliki Indeks Daya Saing Global tertinggi yaitu Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Malaysia, Brunei, Oman, dan Kuwait. Namun, pengamat ekonomi syariah M Syafi’i Antonio mengkritisi bahwa seluruh negara tersebut merupakan negara pengekspor minyak. Arab Saudi menjadi eksportir terbesar diantara negara-negara OKI, namun ia hanya menggantungkan diri pada minyak. “Mengapa Saudi bisa jadi negara eksportir terbesar? Ini bisa jadi kritik karena barang ekspornya hanya satu yaitu minyak, sisanya impor,” ungkapnya.

Ia memaparkan negara anggota OKI mencatat produk domestik bruto sebesar 6,4 triliun dolar, menyumbang sekira sembilan persen dari produk domestik bruto dunia. Sementara, jumlah populasi muslim mencapai 1,6 miliar jiwa atau sekira 25 persen dari total populasi dunia. “Seharusnya kalau populasi segitu kontribusi produk domestik bruto bukan sembilan persen, tapi 25 persen. Ini terjadi karena kita lebih banyak konsumsi daripada produksi,” cetus Syafi’i.

Ia menyontohkan nilai ekonomi saat ibadah haji yang bisa mencapai 151 miliar dolar. Di Jeddah ada beras Cianjur, namun produksinya di Chiang Mai, Thailand. Hal itu terjadi karena produsen di Chiang Mai membawa bibit padi Cianjur ke daerahnya, sehingga bisa mengembangkan beras Cianjur. Di sisi lain, bis yang digunakan sebagai transportasi pun bukanlah produk negara anggota OKI. Begitu pula dengan hotel hingga jerigen air Zamzam. “Jadi kita yang ibadah, orang lain yang pesta pora,” tukas Syafi’i.

Menurutnya, negara-negara Islam lemah di manufaktur karena tidak punya produk bagus untuk dibagi dengan standar berkualitas dan bisa dikirim ke semua negara. “Ini bahaya karena kita menjadi target pasar dari negara-negara yang lebih produktif,” ujar Syafi’i, yang menekankan perlunya meningkatkan awareness akan hal ini.

Ia pun mengemukakan pentingnya meningkatkan wirausaha demi mengatasi hal tersebut. Tak ketinggalan mendorong inovasi dan kreativitas agar bisnis kecil bisa terus naik kelas dan menjadi eksportir. “Mulai dari bisnis kecil kemudian berhubungan dengan bank akan menjadi disiplin, baru setelah itu bisa jadi industri dan ekspor ke negara lain. Itu baru kita akan menjadi tuan rumah. Kalau tidak seperti itu kita akan dijajah negara lain,” pungkas Syafi’i.