Nilai tukar mata uang rupiah cenderung menurun belakangan bahkan selama enam bulan pertama tahun 2015 terdepresiasi sekitar 5-6%.

Staf khusus Kementerian Keuangan, Arif Budimanta, menyebut nilai rupiah turun karena mata uang dolar Amerika Serikat menguat di tengah peningkatan pertumbuhan ekonomi dan antisipasi kenaikan suku bunga di negara itu.
“Dan kita tahu fenomena super dolar itu tekanannya tidak hanya terjadi pada nilai tukar rupiah tetapi hampir kepada seluruh mata uang dunia, termasuk euro.”
- CIMB Niaga Syariah Luncurkan Program Jumat Baik, Perkuat Komitmen Melangkah Sesuai Kaidah
- Bank Muamalat Catat Pertumbuhan Volume Transaksi Ziswaf 24,75% via Muamalat DIN
- BSI Fest Ramadan 2026 Digelar di 9 Kota Besar, Tawarkan Diskon Umroh
- Prudential Syariah Luncurkan PRUHeritage Syariah Essential Plan USD, Nilai Proteksi Meningkat hingga 150%
Permintaan dolar
Yang juga mendasar adalah faktor internal walaupun selama ini pemerintah cenderung mengedepankan faktor penguatan dolar.
“Di dalam negerinya faktor neraca transaksi berjalan kita dari tahun ke tahun mengalami defisit. Yang kedua, neraca perdagangan kita beberapa tahun sebelum ini cenderung mengalami defisit, walaupun tahun ini sudah mulai positif.
“Tetapi bukan karena peningkatan ekspor, melainkan karena penurunan impor. Masalahnya, walaupun neraca perdagangannya positif tetapi devisanya tidak masuk di dalam negeri. Devisanya oleh para eksportir diparkir di luar,” jelas pengamat pasar uang Farial Anwar.
Ditambahkan oleh Farial Anwar, kondisi tersebut diperburuk oleh peningkatan permintaan dolar Amerika Serikat.
“Untuk impor dan yang kedua untuk membayar utang valuta asing karena sekarang hampir sebagian besar utang valuta asing sektor swasta yang totalnya US$167 miliar, sebagian besar tidak di-hedge (tidak dilindungi nilainya). Hanya sekitar 24% yang di-hedge.
“Sehingga mereka menjadi panik ketika dolarnya naik jadi terjadi pembelian di pasar spot.”
Penyerapan anggaran
Di samping itu, lanjut Farial Anwar, pasar dan dunia usaha melihat ekonomi Indonesia bermasalah. Salah satu landasannya adalah penurunan pertumbuhan ekonomi dari target di atas 5% menjadi 4,7%. Penurunan ini bisa dipahami sebab hingga kini pengeluaran pemerintah masih bermasalah. Kinerja belanja negara selama enam bulan tahun 2015 diperkirakan baru terserap 39% dari total alokasi anggaran Rp 1.984 triliun dalam APBNP.
Keadaan itu, menurut staf khusus Kementerian Keuangan, Arif Budimanta, berubah mulai pertengahan tahun ini setelah kementerian-kementerian rampung melakukan perombakan dan seluruh program ekonomi Presiden Joko Widodo ditampung dalam APBNP.
“Sekarang adalah waktu untuk melakukan proses take off (lepas landas) sehingga kemudian pada semester kedua yang sekarang sudah mulai berjalan sampai dengan akhir semester kedua, kita harapkan pertumbuhan ekonomi akan lebih baik lagi, bisa di kisaran 4,7%-5%,” jelasnya kepada BBC Indonesia.
Sementara rupiah masih merosot, para pedagang valuta asing tidak berani menumpuk dolar.
“Kita beli, kemudian jual, beli dan jual,” kata Ketua Asosiasi Pedagang Valuta Asing Bali, Ayu Astuti Dama.

