Ketua Umum BKMM DMI Ustadzah Nurdiati Akma pada Deklarasi dari Ustadzah Bela Negeri", di Gedung DDII, Jakarta, Kamis (9/3).foto:MySharing.

Nurdiati Akma : Maukan Menukar Surga dengan Neraka?

[sc name="adsensepostbottom"]

Sekalipun Rp 1 triliun, tidak terhargakan surga yang dijanjikan Allah SWT.

Ketua Umum Badan Koordinasi Majelis Taklim Dewan Masjid Indonesia ( BKMM DMI) Ustadzah Nurdiati Akma mengatakan, bahwa suasana Jakarta saat ini sedang genting. Nurdiati mengaku di usianya 67 tahun ini, baru   mengalami kejadian yang segenting ini di Jakarta. Tidak pernah umat Muslim bikin demo yang kuncinya adalah untuk menegakkan Al-Quran.

“Majelis taklim dan ustadzah sangat dekat dengan Al Quran, tapi saya menangis. Ada majelis taklim yang membawa barisannya ke dalam orang-orang kafir.Saya yakin majelis taklim tersebut tidak hadir di acara ini, padahal sudah kita undang,” kata Nurdiati pada “Deklarasi dari Ustadzah Bela Negeri Mendukung Anies-Sandi”, di Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jakarta, pekan lalu.

Nurdiati mengaku kalau hatinya sangat ngundah, takkala melihat di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 100 persen China milih  China, 100 kafir milih kafir.”Kenapa umat Islam? Ada 30 persen suara umat Islam hilang. Siapa yang ngajakin ini? Kalau sampai ustadzah menjerumuskan jamaah, hati-hati!,” tegas Nurdiati.

Ketua Forum Silaturahmi Antar Pengajian (FORSAP) ini mengingatkan, ustadzah pegang Al-Quran, dan pastinya sudah paham surat Al-Nnisa ayat 138 yang berbunyi : “Lapalkan pada orang munafik yang dia mengaku Islam, tapi  dia mengajak umat Islam memilih orang kafir. Maka, mereka semua akan dikumpulkan dengan orang-orang kafir bersama di neraka jahanam.”

Nurdiati mengaku dirinya sejak pilkada, menangis karena  karena Anies Baswedan kalah di putaran pertama. ”Kok Anies kalah? Dakwah kita kalah, dakwah orang gereja hebat, jamaahnya nurut. Tapi kemana jamaah kita? Kenapa tidak nurut kepada ustadzahnya. Oh…ustadzahnya itu ikut orang kafir. Massa Allah,” tukas Nurdiati.

Oleh karena itu, Nurdiati bertekad akan menggerakkan majelis taklim untuk memilih pemimpin Muslim. Menurutnya, di Jakarta ada 1.000 majelis taklim. Namun Nurdiati mengaku dirinya tidak  sanggup mengumpulkan 1000, minimal 600 majelis taklim akan diberikan pelatihan satu hari satu malam di sebuah basecame. Pelatihan membahas bagaimana tugas seorang ustadzah atau majelis taklim itu dalam memilih pemimpin Muslim dan sebagainya.

”Ustadzah itu berangkat ke majelis taklim mengajak umatnya ke jalan yang diridhoi Allah SWT. Tapi saat di tengah jalan di cabut nyawanya oleh Allah SWT, dia mati syahid. Tapi takkala dia mengajak muridnya hanya sekedar mendapatkan uang Rp 700 ribu. Apa yang terjadi di Cililitan, dibanjirkan oleh Allah SWT ,” ucap Nurdiati di jawab pekik Allahu Akbar para ustadzah.

Begitu pula kejadian di Bendungan Hilir. Nurdiati bercerita, ada seorang ibu setiap bulan diberikan bantuan, anaknya masuk SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Dengan bangganya dia membawa uang Rp 3,5 juta karena punya 5 suara di kali Rp 700 ribu. Dia pun ditegur, kenapa kamu berhianat, bukankan kamu sudah dibina bertahun-tahun dalam ajaran Islam yang kafah.

Tapi apa jawaban ibu itu :” Ibu memang bisa bantu saya, sekarang saya lagi butuh modal”. Dia pun pulang ke rumahnya. Dan, tidak tunggu satu hari atau 24 jam, bapak kandungnya stroke, abis itu uang Rp 3,5 juta.”

“Oleh karena itu ibu-ibu yang hadir di sini, maukah menukar surga dengan neraka? Nyawa kita, harta kita sudah dibeli Allah SWT dengan surga, masa mau dibayar Rp 700 ribu. Besok putaran ke 2 Rp 7 juta, ada yang mau? Sekalipun Rp 1 triliun tidak terhargai surga yang dijanjikan oleh Allah SWT,” tegas Nurdiati disambut pekik Allahu Akbar.